Di kediaman pribadi Catur Aji Jagaraga, keheningan terasa begitu mengancam. Sang mantan Jenderal dan mantan orang nomor satu itu, terus menatap layar ponselnya yang menunjukkan deretan panggilan tak terjawab kepada cucu bungsunya. Amarahnya mulai naik ke ubun-ubun, bukan karena ketidakpatuhan biasa, melainkan karena firasatnya jarang meleset. Terlebih, Omara saat pergi tidak menemuinya dulu seperti pesannya pada Gian. Ia segera mendial nomor Gian. Kali ini, hanya dalam dua nada sambung, asisten itu mengangkatnya. “Gian! Di mana Omara? Kenapa dia tidak mengangkat teleponku?” suara Catur Aji menggelegar, meskipun ia hanya bicara lewat sambungan telepon. Setelah berhasil menjodohkannya, ia pikir akan tenang tetapi salah. Di seberang sana, Gian terdengar gelagapan. Suaranya terbata-bata

