Pajangan Semata?

1426 Kata
“Tyaga bilang mau ke rumah, jenguk kamu. Mama sama Papa masih di Bandung. Kami pulang besok pagi.” “Oh iya, Mas Tyaga tadi sudah chat aku juga kok Ma.” “Mas Omara masih lama pulangnya?” Daisy menggigit bibir bawahnya, pertanyaan mudah jika ia tahu jawabannya. Sayangnya ia belum sempat menanyakan atau diberitahu suami yang baru beberapa hari menikahinya dan kini sudah berada jauh. “Daisy?” panggil Mama karena putrinya diam. “Uhm, masih lama Mama. Kalau pekerjaan Mas Omara sudah selesai, pasti pulang.” Helaan napas mamanya membuat Daisy ikut merasa sesak, orang tuanya jelas khawatir. “Mama sudah minta kamu di rumah saja dulu, kenapa enggak mau?” “Bukan enggak mau. Mama-Papa kan juga belum di rumah. Lagian, aku beres-beres barangku di sini. Disesuaikan. Aku harus mulai beradaptasi dengan rumah baruku, dan para pekerjanya juga walau tanpa kehadiran Mas Omara.” Daisy katakan dengan tenang, seolah itu bisa meyakinkan sang Mama. “Aku belajar jadi istri yang baik, seperti Mama.” Tawa ibunya akhirnya terdengar, “baiklah, Mama bangga sama kamu. Nanti kalau Mama-Papa sudah pulang, kami yang akan sempatkan berkunjung ke sana ya. ke rumah barumu.” “Iya, Mama... salam sayang buat Papa ya. Kalian sehat-sehat di sana.” “Iya, sayang.” Mama mengakhiri teleponnya, Daisy menghela napas lega. Ia berada di ruang tengah rumah ini. Tatapannya menyapu semua, fotonya dan Omara sudah terpasang. Foto prewedding dan pernikahan. Mengisi di sana, Daisy yang mengatur supaya ia merasa ini benar-benar rumahnya sekarang. Rumah yang menjadi saksi bisu hari-hari awal Daisy Raqeela sebagai seorang istri. Rumah yang didominasi arsitektur modern dengan sentuhan minimalis itu terasa terlalu luas untuk dihuni Daisy seorang diri dan dengan para asisten rumah tangga. Kamar utama yang kini ditempatinya dulunya adalah teritori pribadi Omara yang kaku dan dingin, palet warnanya hanya berkisar pada hitam arang, kayu gelap, dan putih gading yang dingin. Namun, dalam tiga hari, Daisy mulai menyisipkan jiwanya di sana. Meja riasnya kini dipenuhi botol-botol parfum berdesain cantik, dan di sudut ruangan, vas bunga tulip segar memberikan warna yang kontras dengan dinding kayu yang gelap. Ia juga meletakan beberapa pajangan cantik, koleksi miliknya. Di dalam walk-in closet yang luas, pakaiannya sampai gaun Daisy kini berjajar berdampingan dengan setelan jas mahal milik Omara. Pemandangan itu seharusnya terlihat romantis, seolah dua kehidupan telah menyatu sempurna. Namun, bagi Daisy, jajaran jas itu hanyalah pengingat akan sosok pria yang memberinya kenikmatan luar biasa dalam satu malam, lalu meninggalkannya diesok paginya untuk menuju belahan bumi lain tanpa dirinya. Omara hanya mengirimkan satu pesan singkat sesampainya di Meksiko. Mas Omara: [Aku sudah tiba. Jadwalku sangat padat. Kalau aku sempat, aku akan meneleponmu. Jaga kesehatanmu, Bee] Tidak ada kata rindu, tidak ada panggilan suara untuk sekadar mendengar napas satu sama lain. Daisy merasa seperti pajangan mahal yang diletakkan di rumah mewah, berfungsi sebagai pelengkap status namun terlupakan dalam keseharian. Meski ia mencoba untuk tetap berpikir positif, percaya jika Omara sesibuk itu seperti yang disampaikan sekretarisnya, Lulu. “Nyonya, ada tamu untuk Anda...” lapor ART-nya. “Tamu untuk saya?” tanyanya. Daisy tahunya jika kakak laki-laki satu-satunya yang akan datang, tapi ini masih terlalu pagi. “Dek!” panggilan itu membuatnya menoleh, Tyaga Hyuga Sangaji, kakak laki-lakinya datang. Ditangannya ia memeluk kandang kucing. “Mas Tyaga!" seru Daisy, hampir berlari menyambut kakaknya. Senyumnya melebar melihat apa yang dibawakan Tyaga. Tyaga tersenyum lebar, memperlihatkan jam tangan mewah pemberian Daisy—hadiah pelangkah karena Daisy mendahuluinya menikah—yang melingkar di pergelangan tangannya. Pelangkah yang ingin Daisy berikan sebagai hadiah, meski kakaknya menolak tapi tradisi keluarga tetap mewajibkannya. “Sabar, Sayang. Nih, ada yang protes terus di mobil karena kangen Mommy-nya!” Dari dalam keranjang, Daima, si kucing kesayangan Daisy yang dihadiahi Omara, terus mengeong manja. Kehadiran Daima dan Tyaga seketika menghidupkan suasana rumah yang sepi untuknya tadi. Daisy mengambil alih kandang kucingnya. Ia bukakan pintunya, dan mengambil Daima. Ia peluk, dan ciumi kucingnya. “Kangen banget Mommy sama kamu, Dai!” Tyaga tersenyum, “kayaknya kamu lebih kangen kucingmu dibanding semua keluarga, termasuk Mas.” Daisy tersenyum, bangun masih memeluk Daima dan memeluk Tyaga. “Sehat Mas?” “Sehat, cuman kangen saja sama suara cerewetmu di rumah, dek,” sambil mengusap sayang kepala adiknya. Daisy mengajak mereka duduk, sementara Daima mulai menjelajahi rumah yang sudah pernah ia datangi. “Aku baru mau jemput Daima, dan ambil barang-barang keperluannya. Eh sudah diantar sama Mas.” Ada dua kucing lagi, yang memang Daisy putuskan tetap ditinggal di rumah orang tuanya. Hanya Daima yang ia bawa pindah, anak bulu ia dan Omara. “Daima berhak tinggal sama Mommy dan Daddy-nya.” Kata Tyaga. Usia kakaknya terpaut empat tahun. Tyaga jelas akan meneruskan bisnis keluarga. “Gimana rasanya jadi Nyonya Jagaraga?” tanya Tyaga sambil menyesap kopi kiriman asisten rumah tangga Daisy. Matanya menatap tajam, mencoba membaca raut wajah adiknya. “Omara perlakukan kamu dengan baik, kan? Komunikasi lancar meskipun dia langsung ke Meksiko pas hari kedua setelah pernikahan kalian?” Daisy tertegun sejenak. Ia teringat komunikasi mereka. Ia teringat rasa perih yang mulai hilang di tubuhnya, namun rasa sepi yang justru makin pekat. “Lancar, Mas. Mas Omara sering kasih kabar, kok. Dia memang memperlakukan aku baik,” bohong Daisy sambil tersenyum manis, sebuah senyum yang ia latih agar terlihat meyakinkan. “Cuma ya itu, perbedaan waktunya lumayan jauh, dan Mas Omara sibuk, Mas pasti tahu sendiri... Tapi dia usahakan aku enggak kesulitan kok beradaptasi di sini. Para pekerja di rumah juga baik-baik.” Tyaga mengangguk, tampak lega. “Baguslah. Dia memang pria yang sibuk, Daisy. Tapi kalau dia sampai telantarkan kamu, jangan ragu lapor ke Mas ya.” Daisy terkekeh, membuat Tyaga menatap heran. “Mas serius, dek.” “Memang Mas berani? Mas Omara usianya diatas Mas, terus lebih tinggi dan badannya besar.” “Kalau urusan melindungi adek kesayangan Mas, ya berani. Jangan salah, Mas ajak duel juga, hayo saja!” Daisy menggelengkan kepala, ia tidak menginginkan sampai disituasi seperti itu. “Semuanya akan baik-baik saja, Mas. Doanya begitu dong.” *** Omara sudah meninggalkan Meksiko, ia sudah tiba di New York pagi tadi langsung kerja. Omara baru saja menyelesaikan pertemuan dengan rekan bisnis perusahaannya. Wajahnya tampak kuyu, dasinya sudah dilonggarkan, dan kemejanya berkerut di bagian siku. Ia menghempaskan tubuhnya di kursi sofa yang ada di kamar hotelnya. “Pak,” Gian masuk membawa tablet dan beberapa berkas. “Ini laporan keuangan yang Bapak minta. Dan... Pak, saya hanya ingin mengingatkan.” Omara memijat pangkal hidungnya. “Apa lagi, Gian?” “Ini sudah hari keempat Anda di sini. Anda belum pernah sekalipun menelepon Nyonya Daisy. Perbedaan waktu memang sulit, tapi Nyonya mungkin sedang menunggu.” Omara terdiam. Ia melirik ponselnya yang tergeletak di meja. Bayangan Daisy yang menangis saat ia mengauli tubuh istrinya untuk pertama kali, sebelum keberangkatan kembali melintas. Ada rasa hangat yang aneh, namun segera ia tepis dengan tenang. “Aku lelah, Gian. Kamu tahu sendiri kesibukanku di sini. Besok masih perlu fokusku,” sahut Omara dingin. “Dia sudah punya segalanya di rumah itu. Lagipula dia pasti mengerti dengan kesibukanku. Sudah tugasmu, hanya bantuku bukan cerewet mengenai apa-apa yang harusku lakukan terhadap istriku.” “Tuan Besar dan Papa Anda mengatakan tugas saya juga mengingatkan agar Anda waras sudah jadi suami." "Kakek Tua itu dan Papa tidak ada di sini, sudah tenang kamu." Omara menggelengkan kepala, ternyata Kakeknya dan Papa yang meminta Gian mengawasinya dan mengingatkan. "Aku sudah menuruti kemauan mereka, menikahi gadis itu... Masih saja, mereka mengaturku." Gian merasa tidak ada yang salah dengan sikap Catur Aji dan papanya Omara, mereka lebih tahu sikap Omara selama ini. "Pak, kalau pacar saja bisa marah karena tanpa dikabari... apalagi istri. Kewajiban, Pak.” gumam Gian berani sebelum berpamitan keluar. Omara menatap layar ponselnya. Jarinya mengambang di atas nama 'Daisy Raqeela’ nama kontak yang belum ia utak-atik walau status mereka sudah menikah. Ia ingin menelepon, namun rasa enggannya begitu kuat. Akhirnya, Omara hanya mengunci kembali ponselnya tanpa melakukan panggilan. Ia memilih tenggelam dalam tumpukan berkas, membiarkan istrinya di Jakarta terus berbohong demi menjaga martabat pernikahan mereka yang sebenarnya sangat rapuh. Drrttth! Drrrthhh! Ponselnya bergetar, Omara segera mengambil dan memeriksa satu pesan. Nomor itu mengirimkan foto seseorang dan pesan... Omara menegang, “lokasinya dekat dari sini!” Tanpa berpikir lagi, ia bangun dari duduknya. Meninggalkan tumpukan berkas, mengambil jasnya. Gian yang kembali, sampai melongo “Bapak mau ke mana? Saya—“ “Kamu jangan ke mana-mana, aku pergi sendiri.” Omara menunjuk Gian, memintanya berhenti melangkah. Sebab ia tahu, Gian akan sangat menantang tujuannya sekarang. Biarkan ini jadi satu rahasianya, tanpa diketahui siapa pun dari orang sekelilingnya.
Bacaan gratis untuk pengguna baru
Pindai untuk mengunduh app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Penulis
  • chap_listDaftar Isi
  • likeTAMBAHKAN