Pagi berikutnya, Daisy terbangun bukan karena alarm, melainkan karena keheningan yang terlalu pekat dalam kamar hotel yang ditempatinya setelah tiga malam itu. Ia mengerjapkan mata, tangannya meraba sisi ranjang di sebelahnya, namun yang ia temukan hanyalah seprai lembut yang sudah dingin dan bantal tanpa kepala suami yang menempatinya seperti semalam. Daisy menarik selimut sutra itu lebih tinggi, membungkus tubuh telanjangnya yang terasa sangat berbeda pagi ini. Tubuhnya benar-benar terasa remuk, sebuah kelelahan yang manis sekaligus menyakitkan. Setiap kali ia bergerak, ia meringis kecil, bagian dadanya terasa kencang dan sedikit nyeri, sebuah sensasi baru yang lahir dari intensitas sentuhan Omara semalam. Area kewanitaannya pun terasa tidak nyaman, rasa perih yang mengingatkannya pada

