T W E N T Y S E C O N D ; Agápi Mou

1285 Kata
"Kalau begitu, bisakah kau mengajariku bahasa Elvish itu? Aku ingin sedikit mempelajarinya!" Kata Elica semangat. Erulissë tersenyum lalu mengangguk. "Tentu saja saya bisa, Putri." Jawab Erulissë membuat Elica mengangguk penuh minat. Erulissë berdeham pelan, "Kaum Elf dalam bahasa Elvish adalah Annabon." "Annabon?" Gumam Elica lalu mengangguk kemudian. "Aku mengingatnya. Lanjutkan." "Ereb artinya Lord. Tetapi Anda bisa juga memakai kata hir, yang artinya juga sama, Lord. Cordir artinya saya. Atau Anda bisa juga menggunakan kata herven yang berarti sama, saya." Jelas Erulissë panjang lebar. Dilihatnya Elica yang mengangguk pelan dengan manik matanya yang menatap ke bawah. Seperti sedang berpikir. "Begitukah? Lalu teman dalam bahasa Elvish apa?" Tanya Elica. "Mellon atau Anda bisa juga memakai kata canad." Jelas Erulissë singkat. "Ini mengasyikan. Aku ingin mempelajarinya lebih lanjut. Bisakah kau menjelaskannya lebih terperinci?" Tanya Elica dengan binar yang terlihat jelas di kedua manik matanya. Erulissë menahan senyumannya lalu mengangguk. Ia mulai menjelaskan lebih terperinci bahasa Elvish tersebut. Cara tulis dan bacanya pun ia jelaskan dengan segenap hati. "Oh ya, aku lupa menanyakan ini." Celetuk Elica ketika Erulissë sudah selesai menjelaskan. "Apa kau sedang tak sibuk? Aku hanya takut jika kau mempunyai urusan tetapi aku malah menahanmu disini." Lanjut Elica sedikit bersalah. "Tidak, Putri. Saya tidak mempunyai urusan apa-apa." Jawab Erulissë membuat senyuman Elica kembali mengembang. "Oh ya, satu pertanyaan lagi. Apㅡ" "Ratu?" Perkataan Elica terpotong ketika suara berat dan dalam terdengar. Elica dan Erulissë menoleh, mendapati seorang pria berambut cokelat yang berdiri tak jauh dari mereka. Erulissë langsung terbangun dari duduknya lalu melangkah mendekati pria tersebut. Sedangkan Elica hanya menatap heran pria asing yang baru dilihatnya pertama kali. Siapa dia? Aku baru pertama kali melihatnya disini. Apa dia juga berasal dari kaum Elf? Terka Elica dalam hati. Dilihatnya Erulissë tersenyum simpul sambil sedikit menunduk. "Peich." Katanya membuat Elica mengernyit dalam. Peich? Bukankah itu artinya King seperti yang dijelaskan Erulissë tadi? Pikir Elica lagi lalu sedetik kemudian matanya sedikit melebar. Jadi pria itu adalah King? King dari kaum Elf? Pasangan Erulissë? Pikirnya lagi penuh tanya diotaknya. Mata Damian tak sengaja menatap sosok wanita yang sedari tadi berdiri dibelakang Ratunya. Damian maju selangkah sambil sedikit menundukkan kepalanya. "Apa benar Anda Putri Elica?" Tanyanya membuat kesadaran Elica kembali. Elica menetralkan wajahnya sambil tersenyum tipis lalu mengangguk. "Ya, aku Elica. Apa kau Raja dari kaum Elf?" Tanya Elica membuat Damian mengangguk tetapi sedikit heran dari mana Elica mengetahui hal itu. "Putri Elica sedikit belajar mengenai bahasa Elvish. Mungkin ia menebak jika Anda adalah Raja dari panggilan saya tadi." Jelas Erulissë sedikit berbisik membuat Damian kali ini mengangguk samar tanda mengerti. "Maaf kami menganggu kenyamanan Anda di kerajaan ini, Putri." Kata Damian sopan. Bagaimanapun dihadapannya sekarang adalah seseorang yang akan menjadi Ratu dari Lord besar. Mana mungkin ia tak menghormatinya. Walaupun saat ini wanita dihadapannya ini masih berstatus sebagai 'calon' tetapi tak menutup kemungkinan cepat atau lambat memegang status yang begitu tinggi. Setara dengan Lord besar. Dan tentu saja, berstatus lebih tinggi darinya. "Kalian tak menganggu. Kalau begitu aku akan pergi sekarang. Semoga kalian betah di kerajaan ini." Kata Elica pamit lalu beranjak pergi dari sana, di ikuti Ra dan Ri yang sedari tadi menunggu. Elica berjalan masuki kamarnya seorang diri. Ra dan Ri sudah disuruhnya untuk kembali karena memang ia ingin sendiri di dalam kamarnya. Ia duduk di pinggir ranjang, matanya menatap kearah jendela besar dihadapannya sedikit menerawang. Hingga tak sadar jika sosok lain selain dirinya ada didalam ruangan tersebut. Kendrick tersenyum tipis. Melihat Elica yang diam dengan tatapan kosong kearah jendela. Ia mendekat tanpa menimbulkan suara apa pun, bahkan derap langkahnya sama sekali tak terdengar. "Bolehkan aku tahu apa yang sedang kau pikirkan, αγάπη μου?" Tanya Kendrick membuat Elica menoleh kaget. Dilihatnya Kendrick yang berdiri tak jauh darinya dengan senyuman yang sangat lembut. Kendrick kembali melangkah dan duduk disamping Elica. Membuat Elica mau tak mau harus menghadap ke samping dengan kepala yang sedikit mendongak. "Kendrick? Apa yang kau lakukan disini?" Tanya Elica linglung. Bukankah Kendrick mengatakan tak akan menemuinya untuk beberapa saat? Kenapa sekarang pria itu malah menampakkan diri dihadapannya? Padahal hari ini baru terhitung dua hari mereka tak bertemu. "Tentu saja menemuimu. Ternyata aku tak bisa menahan rinduku padamu." Kata Kendrick membuat Elica merengut pelan mendengar itu. "Kau sangat aneh. Padahal baru dua hari tak bertemu dan kau sudah mengatakan merindukanku? Sungguh konyol." Gerutu Elica pelan membuat Kendrick menatapnya dengan senyuman geli. "Bahkan hanya sedetik aku tak melihatmu aku sudah sangat rindu. Kau tak melarang calon suamimu ini untuk menemuimu, bukan?" Tanya Kendrick sambil menaik-turunkan satu alisnya, menggoda. Elica mendengus pelan. "Calon suami?" Gumamnya pelan. "Benar, αγάπη μου. Aku calon suamimu. Dan kau adalah calon Queenku." Kata Kendrick lagi. Elica lagi-lagi mendengus. Kalimat itu! Kalimat dalam bahasa asing yang sama sekali tak ia mengerti. Kenapa Kendrick selalu menyebutkan kalimat itu? Itu membuat Elica sedikit kesal. "Anto Hir?" Kata Elica pelan sambil menatap wajah Kendrick ragu. Kendrick yang mendengar itu mengernyit samar lalu tertegun. Melihat wajah Kendrick yang seperti itu, Elica tersenyum puas. Apa Kendrick tak bisa bahasa Elvish? Akhirnya ia bisa menyaingi pria itu. Jika Kendrick mempunyai bahasa yang tak dimengerti Elica, maka Elica pun mempunyai bahasa yang tak dimengerti Kendrick. Oh, haruskah Elica mengucapkan terima kasih saat bertemu lagi dengan Erulissë? Baik. Ia akan mengucapkan rasa terima kasihnya saat bertemu dengan Erulissë nanti. "Hm, Βασίλισσα μου?" Elica merengut kesal mendengar Kendrick yang kembali melontarkan bahasa yang tak dimengertinya. Kali ini dengan kata yang berbeda. "Herven vanwa malina, anto Hir." Kata Elica sambil tersenyum lembut. Didalam hatinya ia tersenyum puas karena berhasil membuat kalimat seperti itu. Lagi-lagi ia tak menyesal belajar singkat bahasa Elvish tadi. "Vanwa malina, anto Man." Seketika senyuman Elica pudar. Ia menatap Kendrick tak percaya. "K-kau tahu artinya?!" Pekiknya pelan dengan mata yang melebar. Kendrick mengangguk lalu tersenyum lembut sambil mengelus surai hitam Elica yang lembut. "Aku tak tahu kau bisa melontarkan kalimat itu lebih cepat. Aku sungguh senang mengetahui perasaanmu padaku, αγάπη μου." Katanya lalu mengecup singkat kening Elica. Wajah Elica menghangat dan memerah. Ia sangat malu sekarang. Kini Elica menunduk sangat dalam, tak ingin bertatapan lebih lama lagi dengan Kendrick. Bagaimana mungkin aku mengatakan kalimat itu tanpa berpikir panjang?! Ah, itu bukan sepenuhnya salahku. Dia memasang wajah tak tahunya membuatku mengira jika ia tak mengerti bahasa Elvish. Ya! Ini salahnya Kendrick! Pikir Elica dalam hati. Ia berusaha menetralkan wajahnya. Walaupun ia tahu jika wajahnya masih memerah. "A-aku hanya asal berceletuk! Tûr." Cicit Elica pelan. "Aku malah berharap jika itu memang berasal dari harimu, Βασίλισσα μου." "Bisakah kau berhenti mengatakan bahasa yang tak kumengerti? Tadi kau mengatakan αγάπη μου. Sekarang Βασίλισσα μου. Aku bingung!" Sahut Elica sedikit kesal. "Entahlah. Aku suka menggunakan kalimat itu. Cocok untukmu." Jawab Kendrick sekenanya. Elica memicingkan matanya. "Bisa kau katakan arti dari kalimat yang sering kau ucapkan itu?" Kendrick menggeleng pelan. "Kau akan mengetahuinya saat kau resmi menjadi Queenku." Kendrick kembali tersenyum. Tetapi tidak dengan Elica. Ia merengut kembali. Kenapa Kendrick harus merahasiakannya? Memangnya apa arti kalimat itu? Sungguh itu membuat Elica semakin penasaran dibuatnya. "Baiklah, Faroth. Aku mengalah. Kau menang kali ini." Kata Elica menyerah dan sedikit menekankan kata Faroth saat berbicara. Kali ini Kendrick terkekeh. Merasa lucu dengan wajah menggemaskan Elica dan apa yang Elica katakan tadi. "Aku memang selalu menang, Nim. Jadilah Queenku yang manis. Jagalah bibirmu. Aku mungkin saja akan menyerangnya jika bibirmu terus menerus seperti itu." Perkataan Kendrick itu membuat Elica mengulum bibirnya dan melotot nyalang. Hal itu lagi-lagi membuat Kendrick terkekeh gemas.
Bacaan gratis untuk pengguna baru
Pindai untuk mengunduh app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Penulis
  • chap_listDaftar Isi
  • likeTAMBAHKAN