"Kau bisa tinggal beberapa saat disini." Kata pria itu membuat lawan bicaranya menunduk hormat.
"Terima kasih, Lord." Kata Damian Horneld, King dari kaum Elf.
Kendrick mengangguk. "Kudengar wilayahmu mengalami rusak yang sangat parah. Apa itu benar?" Tanya Kendrick membuat Damian mengangguk.
"Benar Lord. Para kurcaci menyerang dari arah selatan, bersamaan dengan para traitors yang ikut menyerang disebelah barat. Prajurit kami sedikit kewalahan akibat serangan mereka yang bersamaan." Jelas Damian panjang lebar.
Mereka berada di ruang dimana tempat singgasana Kendrick berada. Hanya berdua. Kendrick ingin berbicara empat mata dengan King kaum Elf. Kaum Elf sangat makmur dan damai. Tentu saja akan menjadi sasaran empuk bagi para kurcaci yang ingin menghancurkan kedamaian yang ada. Ah, mengingat para traitors itu, mereka adalah pemberontak yang menentang keberadaan Raja para kaum. Terutama Kendrick, yang dimana adalah Lord yang paling berkuasa di dunia ini. Yang dikenal sebagai Raja yang berhati beku.
Selama hidup, Kendrick tak pernah menampakkan senyumannya. Bahkan tidak ada yang pernah melihat senyumannya. Sejak kecil, Ayahnya selalu menekankan untuk tak menebar senyuman dan harus mulai membangun dinding perasaan dan pertahanannya sejak dini.
Ayahnya sangat tegas walaupun dengan anaknya sendiri. Ayahnya yang dikenal sebagai Lord Androkles yang sangat agung, tegas, bijaksana, dan berdarah dingin. Ia tak pernah memandang bulu. Jika memang salah, ia akan menghukumnya tanpa berbelas kasih, walaupun orang yang melakukan kesalahan tersebut adalah keluarganya sendiri.
Semua penghuni dunia ini pun marak membicarakan sosoknya. Bahkan hingga sosok Lord yang sekarang. Lord Kendrick. Semua rakyat di dunia ini mengatakan jika Lord Kendrick mengikuti jejak dan sifat Lord Androkles. Tak ada kaum yang bisa menyaingi kemampuan kaum bangsawan seperti mereka.
Kemampuan yang sangat sulit dikendalikan haruslah memiliki raga yang kuat. Dan itulah yang membuat kaum Demon sangat pantas dan layak menjadi penguasa dunia ini. Jika mereka berkehendak, seluruh tanah di dunia ini sanggup diluluh lantakkan dalam sekejap.
"Aku sudah mengirimkan sepuluh ribu pasukan untuk mengamankan dan mengembalikan wilayahmu. Kau tak perlu sekhawatir itu." Ujar Kendrick lalu bangun dari singgasananya. Ia melewati Damian tanpa melirik sedikitpun. Damian dengan cepat melangkah mengekori Rajanya. Raja yang sebenarnya.
"Alangkah baiknya jika kau beserta keluargamu yang berkunjung menikmati keindahan kerajaanku. Masalah wilayah Elf, aku yang akan menanganinya." Kata Kendrick lagi lalu berbelok ke lorong yang lain, meninggalkan Damian yang menghentikan langkahnya.
Damian menunduk sesaat. "Terima kasih, Lord." Gumamnya.
***
"Hari yang cerah bukan?" Tanya Elica pada Ra dan Ri yang berada dibelakangnya.
"Benar, Putri. Hari ini sangat cerah." Jawab Ri dan Ra mengangguk membetulkan.
Senyuman terukir di bibir Elica. Ia menengadah, menatap langit dunia Dracania yang seakan tak pernah gelap disaat siang. Dan inilah yang ia suka. Baginya jika melihat langit, dirinya seperti bebas. Melihat langit yang tak berujung itu membuat perasaan Elica menjadi damai dan tenang. Seakan jiwanya tertarik keatas. Ditambah suasana kerajaan yang saat ini sangat tentram baginya.
Elica tak bisa menemui Kendrick. Pria itu yang mengatakannya langsung. Tapi buat apa ia mencari pria itu terus menerus? Memang benar jika ia mencari pria itu karena tak tahu harus melakukan apa. Tak lebih.
Kini Elica hanya berjalan-jalan disekitar halaman istana yang berakhir di taman. Tak bisa dipungkiri jika tempat ini akan menjadi tempat yang selalu ditujunya. Bunga - bunga di taman ini selalu diganti. Membuat Elica tak henti-hentinya berdecak kagum ketika melihat perubahan taman yang semakin hari semakin indah saja.
"Tempat ini sangat indah." Kata seseorang membuat Elica refleks menoleh. Didapatinya seorang wanita yang sangat cantik parasnya. Rambutnya berwarna pirang dengan kedua telinga yang panjang -seperti telinga kurcaci yang pernah dilihatnya di dongeng- dan menggunakan gaun berwarna putih bening.

Kening Elica sedikit berkerut melihat wanita itu. Siapa dia? Kenapa Elica baru melihat wanita ini disini? Apakah pendatang baru? Atau memang wanita itu jarang keluar dari tempatnya? Pikiran Elica penuh dengan pertanyaan - pertanyaan yang mungkin tak akan sanggup di jawab satu per satu.
Wanita itu tersenyum. Senyum yang sangat manis bagi Elica. "Perkenalkan. Nama saya Erulissë Horneld. Saya berasal dari kaum Elf." Katanya mengenalkan diri.
Seketika Elica melebarkan matanya.
"Kaum Elf?" Wanita yang bernama Erulissë itu mengangguk. "Benar."
Elica melebarkan senyumannya yang membuat wajahnya terlihat berseri. Ia melangkah mendekati Erulissë.
"Aku cukup banyak mendengar tentang kalian. Apa yang membuatmu kemari?" Tanya Elica riang. Ia baru pertama kali melihat seseorang yang berasal dari kaum Elf. Sungguh sangat cantik wanita ini. Pikirnya.
Erulissë tersenyum. "Saya hanya berjalan - jalan sebentar dan ketika melewati tempat ini, saya melihat Anda sedang menikmati waktu disini." Elica mengangguk-angguk mengerti mendengarkan perkataan Erulissë. "Apakah benar Anda Putri Elica?"
Mengernyit sesaat, Elica mengangguk kemudian. "Dari mana kau mengetahuinya?" Tanyanya sedikit heran. Dimana Erulissë mengetahuinya? Padahal Elica tak pernah bertemu orang luar. Tak mungkinkan jika wanita secantik ini membuntutinya selama ini? Sungguh itu pikiran yang konyol yang pernah dipikirkannya.
"Saya rasa Anda sudah menjadi rahasia umum di dunia ini. Siapa yang tidak mengenal calon Ratu diatas segala Ratu di dunia ini? Anda sering menjadi pembicaraan diantara para bangsawan di setiap kaum, Putri." Jelasnya sedikit menunduk.
"Rahasia umum? Aku?" Tanya Elica sambil menunjuk dirinya sendiri. Wajahnya nampak sedikit terkejut mendengar itu.
Erulissë mengangguk membenarkan.
"Benar. Anda adalah Putri Vionetta Cathalina Elica bukan? Jika benar, Anda bisa menguji kejujuran saya. Saya tak pernah berbohong selama ini. Terlebih kepada Anda."
Elica menggeleng. "Ah, maafkan aku. Bukan itu maksudku. Aku hanya sedikit terkejut tadi." Elica kembali tersenyum, menyembunyikan rasa terkejutnya sesaat. "Aku tak pernah melihatmu sebelumnya. Apa kau pendatang baru?" Tanya Elica sambil berjalan menuju kursi taman yang tak begitu jauh dari tempat mereka. Diikuti Erulissë dibelakangnya.
Elica duduk di kursi tersebut, tetapi tidak dengan Erulissë. Erulissë masih berdiri, membuat Elica menepuk bagian kursi yang masih kosong disampingnya. "Duduklah. Tak perlu sekaku itu denganku. Anggap aku temanmu." Katanya membuat Erulissë sedikit terserentak kaget yang langsung ditutupinya dengan wajah yang tenang. Ra dan Ri berdiri tak jauh dari mereka sambil menatap sekeliling.
Sedikit gugup, perlahan Erulissë duduk disamping Elica. Sesaat wanita itu menahan napasnya, gugup berselimut takut menyerangnya. Bagaimana jika Lord Kendrick melihat kelancangannya? Tidak ada yang boleh memperlakukan Elica yang statusnya lebih tinggi darinya seperti ini. Bahkan menatap mata Elica secara langsung pun tak diijinkan. Itulah peraturan yang selalu berlaku di dunia ini. Tidak boleh menyamakan derajatnya dengan seseorang yang mempunyai derajat yang lebih tinggi darinya.
"Kau belum menjawab pertanyaanku, Erulissë. Aku belum melihatmu sebelumnya. Apa kau pendatang baru?" Tanya Elica sekali lagi.
Erulissë mengatur suaranya agar tak bergetar dan terdengar gugup. "Benar, Putri. Saya baru saja sampai di Kerajaan Altissimo."
Altissimo? Elica refleks mengernyit. "Kerajaan Altissimo? Apa itu? Apakah itu nama dari kerajaan ini?" Tanya Elica sedikit bertubi.
Sedikit heran, Erulissë mengangguk.
"Benar Putri. Kerajaan ini bernama Altissimo. Altissimo berarti yang tertinggi dan terbesar. Kerajaan Altissimo adalah kerajaan dimana tempat Yang Mulia Lord berada saat ini." Jelas Erulissë panjang lebar. Ada yang mengganjal dibenaknya. Kenapa Calon Ratu ini tak mengetahuinya?
"Benarkah? Aku baru mengetahui jika setiap kerajaan mempunyai nama. Jadi, apa kerajaan yang lainnya juga mempunyai nama seperti kerajaan ini?" Tanya Elica tertarik. Kendrick tak menjelaskan secara detail tentang semua yang ada di dunia ini. Tak semua. Bahkan kerajaannya sendiri pun tak ia jelaskan dengan baik.
Erulissë tersenyum maklum. Ia dengar, Calon Ratunya ini hanyalah manusia yang berasal dari suatu dunia yang bernama Bumi. Jadi ia memaklumi ketidaktahuannya.
"Dunia ini mempunyai berbagai kaum yang hidup. Sepertinya Putri sudah mengetahui apa saja yang tinggal di dunia ini." Kata Erulissë yang diangguki Elica. Memang benar, Kendrick sudah memperkenalkan jenis kaum - kaum itu padanya. Walaupun tak melihatnya secara langsung.
"Saya akan memperkenalkan nama-nama Kerajaan setiap kaum yang ada." Erulissë diam sesaat. "Kerajaan Altissimo. Kerajaan yang tertinggi dan terbesar, sesuai dengan namanya, 'Altissimo'. Kerajaan ini tempat dimana seorang Pemimpin Tertinggi berada. Yang kedua adalah Kerajaan Tranquilina, kerajaan milik kaum Witch. Kerajaan Herodias adalah kerajaan milik kaum Fairy. Kerajaan Aquanetta, kerajaan milik kaum Mermaid. Kerajaan Gonzalo, Kerajaan milik kaum Werewolf. Kerajaan Katias, yaitu Kerajaan milik kaum Vampire. Kerajaan Zalacca, kerajaan milik kaum Manusia. Kerajaan Ramqopteryx, yaitu kerajaan milik kaum Dracula. Yang terakhir adalah Kerajaan Amdis. Yaitu Kerajaan milik kaum Elf."
"Aku tak yakin bisa mengingat semua nama Kerajaan itu." Gumam Elica yang membuat Erulissë tersenyum.
"Pasti Anda akan perlahan-lahan mengingatnya, Putri. Semua butuh proses." Ujar Erulissë membuat Elica kembali menatapnya.
"Mm... aku ingin menanyakan sesuatu." Elica menatap Erulissë sedikit ragu. "Kau dari kaum Elf bukan? Jika benar, apa kau memiliki sepasang sayap cantik seperti kaum Fairy?" Akhirnya. Elica akhirnya bisa menanyakan pertanyaan yang sedari tadi dipendamnya. Bukankah Elf dan Fairy itu berarti peri? Lalu apa bedanya? Kenapa mereka memisah seperti itu? Sedikit mengherankan dan membingungkan. Pikir Elica.
Mendengar pertanyaan Elica membuat Erulissë mengulum senyum. "Kami tidak memilikinya, Putri. Sayap bening dan cantik itu hanya diperuntukan untuk kaum Fairy." Jawab Erulissë membuat Elica menatapnya sedikit bersalah. Entah kenapa Elica sedikit menyesal menanyakan dan membandingkan seperti itu. Walaupun ia membandingkan dalam hati.
"Begitukah? Baiklah. Ada yang ingin kutanyakan lagi padamu. Mm ... sebenarnya siapa dirimu? Apa kau mempunyai urusan hingga repot-repot datang ke Kerajaan ini?" Tanya Elica lagi.
"Wilayah kaum kami di serang, Putri. Yang Mulia Lord menintahkan kami untuk datang kesini." Elica langsung merutuki dirinya sendiri mendengar itu. Bagaimana ia lupa? Bukankah ia sendiri ada saat Alfred melaporkan masalah ini pada Kendrick? Seharusnya ia langsung mengingat masalah ini saat mendengar tentang kaum Elf.
"Maafkan aku... aku lupa jika wilayahmu sedang diserang." Cicit Elica merasa bersalah.
"Anda tak perlu meminta maaf, Putri. Anda tak seharusnya meminta maaf." Erulissë mengulas senyuman manis, seolah ia sedang baik-baik saja sekarang.
"Baiklah. Lalu satu pertanyaan lagi. Apa kau seorang Putri juga? Tak mungkin kau hanya kaum Elf biasa?" Elica menatap Erulissë penasaran.
"Saya hanyalah seorang Ratu dari kaum Elf, Putri." Elica melebarkan matanya mendengar tuturan Erulissë kali ini.
"R-ratu? A-ahh... ma-maafkan aku! Aku tak tahu jika Anda adalah Ratu..." Sesal Elica menunduk dalam.
Resah, Erulissë langsung memegang kedua lengan Elica dan menegakkan tubuh wanita itu. Ia menatap Elica khawatir. "Anda tak seharusnya begitu, Putri. Saya hanyalah Ratu dari kaum Elf. Berbeda dengan Anda yang akan menjadi Ratu dari segala kaum di dunia ini. Ratu diatas segala Ratu!" Ujarnya khawatir. Bagaimana jika seseorang melihat Elica yang menunduk untuknya? Pasti akan terjadi kesalahpahaman.
"Tapi..." Erulissë memberanikan diri menatap mata Elica langsung. Ia menatap Elica memelas, seakan takut jika perbuatan Elica dapat membuatnya dalam masalah. Bagaimanapun dihadapannya ini adalah Calon Ratu dari seorang Lord. Lord yang berdarah dingin dan bengis. Ia tak mau kepalanya terlepas dari tubuhnya jika Lord mengetahui hal ini.
Elica menghembuskan napasnya pelan melihat itu. "Baiklah. Sekarang aku ingin tahu, bahasa apakah yang sering Yang Mulia Lord katakan kepadaku."
"Bahasa? Bahasa seperti apa Anda maksud?" Tanya Erulissë sedikit bingung.
Elica terlihat berpikir. "Mm... seperti αγάπη μου. Dia sering melontarkan kalimat itu kepadaku. Aku tak mengerti artinya." Kata Elica sedikit kesal. Pasalnya Kendrick sering mengatakan kalimat seperti itu. Bagaimana ia tak penasaran?
"Sebenarnya saya tidak mengetahui bahasa apa itu. Saya cukup bisa menebak berbagai bahasa kaum lainnya, tetapi bahasa itu saya baru pertama kali mendengarnya." Kata Erulissë sambil menggeleng pelan. Elica yang mendengar itu sedikit kecewa.
"Lalu, apakah kaum Elf mempunyai bahasa sendiri?" Tanya Elica mengalihkan topik.
Erulissë mengangguk sambil tersenyum. "Benar. Kami mempunyainya. Bahasa Elf dinamakan Elvish. Sebenarnya bukan hanya untuk kaum Elf, tetapi juga digunakan kaum Fairy."
Mendengar itu, ketertarikan langsung memuncak di pikiran Elica. Elica menatap Erulissë berbinar.
"Kalau begitu, bisakah kau mengajariku bahasa Elvish itu? Aku ingin sedikit mempelajarinya!" Kata Elica semangat. Erulissë tersenyum lalu mengangguk. Tadinya ia heran melihat Elica yang seperti ini. Menganggap mereka sederajat. Itu sesuatu hal yang langka mengingat seseorang yang mempunyai derajat yang tinggi akan menjadi seseorang yang arogan dan sombong. Tetapi Elica berbeda. Itulah yang dipikirkan Ratu dari kaum Elf tersebut.