T W E N T I E T H ; Different Personalities

1470 Kata
"Pagi." Sapaan lembut itu menyambutnya saat matanya terbuka. Elica mengerjap pelan, berusaha untuk memperjelas penglihatannya. "Kendrick?" Gumamnya melihat sosok yang sedang berbaring disampingnya, dengan punggung yang bersandar pada kepala ranjang. Menatapnya lembut sambil mengulas senyuman. Elica sedikit terserentak lalu bangun dari baringnya dan menegakkan punggungnya, menatap Kendrick sedikit shock. "Ap-apa yang kau lakukan disini?" "Tentu saja menjagamu." Jawab Kendrick tenang. Menunduk, Elica menatap pakaiannya yang masih utuh. Ia menghela napas lega. Kendrick yang melihat tingkah Elica pun terkekeh geli. "Apa kau berpikir aku melakukan sesuatu padamu saat kau tertidur?" Mendengar itu, Elica melotot kecil. "Jangan bilang kau bisa membaca pikiran?!" Kendrick terkekeh pelan. Ia mendekatkan wajahnya, membuat Elica yang melihat itu refleks memundurkan kepalanya. "Jika aku bisa, aku akan selalu membaca pikiranmu. Sayangnya aku tak mempunyai kekuatan seperti itu." Tanpa sadar Elica menghela napas lega, lagi. Untung saja pria itu tak memiliki kekuatan yang baginya menakutkan seperti itu. Bagaimana tak menakutkan jika seseorang bisa membaca pikiranmu. Bagaimana jika ia sedang merutuki atau memaki orang itu dalam hati. Atau sesuatu yang privasi. Itu menjengkelkan! Tak ada seorang pun yang ingin pikirannya dibaca. Termasuk Elica sendiri. "Eum..." Elica menatap Kendrick ragu. "Sejak kapan kau berada disini? Mm, maksudku di ranjang ini." Katanya dengan suara yang kecil. Karena Kendrick yang memiliki indra pendengaran yang cukup tajam, cicitan Elica mampu didengar. Satu alis Kendrick terangkat dengan tatapan yang masih tertuju pada wajah cantik wanita dihadapannya ini. Bahkan Kendrick belum menarik diri untuk menjauhkan dirinya dari Elica. Posisi mereka masih sama. "Kurasa dari semalam." Jawab Kendrick membuat Elica melebarkan matanya. Dengan cepat Elica mendorong d**a Kendrick kuat. Walaupun sudah melakukannya dengan seluruh tenaganya yang ada, Kendrick hanya memundurkan dirinya sedikit. Itupun bukan karena dorongan Elica. "Kau sungguh pria yang m***m! Bagaimana bisa kau menyelinap di kamar seorang gadis?!" Serunya lalu beranjak. Ia menatap Kendrick kesal lalu melangkah menuju kamar mandi yang berada didalam ruang kamarnya. Saat sudah memegang knop pintu kamar mandi, Elica melirik Kendrick yang masih berada diatas ranjangnya. Dengan punggung yang kembali bersandar pada kepala ranjang, dan tatapan yang tak luput dari gerakan Elica saat ini. "Pergilah saat aku sedang mandi. Jika kau tetap masih berada disitu, aku benar-benar tak akan berbicara padamu selama seminggu." Ancam Elica lalu masuk kedalam kamar mandi. Brakkk Dengan sengaja Elica menutup pintu kamar mandi dengan keras. Kendrick yang melihat itupun hanya tersenyum geli lalu memutuskan keluar dari kamar Elica, bisa gawat jika Elica benar-benar mogok berbicara dengannya. Setelah selesai membersihkan diri, Elica yang sudah memakai gaun berwarna ungu keluar dari kamar mandi. Ia melihat sekitar kamarnya, tak ada tanda-tanda keberadaan Kendrick disana. Ia tersenyum tipis lalu menuju meja rias untuk sekedar menyisir rambutnya yang panjang. Sesekali ia bersenandung pelan. Menatap bayangannya pada cermin. Ia menangkup sebelah pipinya. Senyuman yang sangat manis tercetak jelas di bibir ranumnya. Wajahnya yang alami tak ada bedanya dengan wajahnya yang telah di make up. Sama-sama terlihat cantik dan memikat. Merasa sudah siap, Elica bangkit dari duduknya dan membuka pintu kamar. Dilihatnya lorong panjang yang tak ramai seperti biasa. Ia melangkah menuruni tangga-tangga. Sambil mencari sosok yang sedari tadi terus dipikirkannya, Elica berjalan menuju ruangan yang tak lain adalah tempat dimana singgasana Kendrick berada. Mengikuti ingatannya saat pertama kali pergi kesana, Elica terus melangkah. Berharap saat sesampainya disana, ia bisa bertemu dengan sosok itu. Sedikit rasa bersalah terselip di benaknya. Ia tak bermaksud mengancam Kendrick seperti itu, mengingat rasa gugup dan malu yang dirasakannya tadi, ia tak bisa berpikir lebih jauh. Bagaimana pun Kendrick adalah penguasa di dunia ini. Raja diatas segala Raja. Mengingat itu Elica tersenyum. Masih tak menyangka jika Kendrick adalah orang yang sedari awal dicarinya. Kini Elica menengadah menatap tinggi dan besarnya pintu dihadapannya. Pintu berwarna putih dan ukiran yang rumit terlihat jelas. Penjaga yang berada disana menunduk hormat lalu dengan cepat membuka pintu besar itu. Elica melangkah masuk. Dilihatnya dengan lebih jelas didalam ruangan ini. Tak begitu banyak barang yang ada. Bisa ditebak jika ini adalah aula besar, tempat untuk pertemuan dan tempat untuk Kendrick berada. Mengingat singgasananya ada disana. Pandangannya kini beralih pada sosok yang sedang duduk di singgasana itu. Kendrick. Sedari tadi Kendrick terus menatapnya, membuat Elica sedikit salah tingkah. Elica berjalan menuju singgasana itu, tampak sangat jelas Kendrick yang duduk disana penuh aura kepemimpinan dan kebangsawanan. Wajah Kendrick yang awalnya dingin perlahan melembut. Menatap Elica yang semakin melangkah mendekat. Elica berhenti didekat tangga untuk naik ke singgasana. Berdiri disana dengan kepala yang mendongak menatap Kendrick. Membuat Kendrick mengangkat satu alisnya melihat tingkah Elica yang mengherankan. Elica tersenyum manis lalu menundukkan kepalanya. "Hormat saya pada Yang Mulia Lord." Kata Elica dengan suaranya yang lembut. Kendrick mengangguk. Senyumannya tak dapat ia sembunyikan lagi. Senyuman yang begitu tulus dan lembut. "Kemarilah." Titahnya membuat Elica menaikkan alisnya bingung. Tanpa bertanya lebih banyak, Elica perlahan menaiki anak tangga. Berdiri didepan Kendrick yang terus menatapnya intens. "Apa ada yang bisa saya bantu, Yang Mulia?" Tanya Elica hati-hati. Kendrick tersenyum lalu menggeleng. Ia menarik tangan Elica. Ketika tubuh Elica yang sudah begitu dekat dengannya, dengan cepat Kendrick menarik Elica duduk dalam pangkuannya. Mendapat hal yang begitu tiba-tiba seperti itu, Elica melebarkan matanya dan hendak bangun, tetapi Kendrick malah melingkarkan kedua tangannya di perutnya, membuat pergerakannya terbatas. Mengingat kuatnya tenaga yang dimiliki Kendrick, dan lemahnya tenaganya. Elica duduk mematung dalam pangkuan Kendrick. "Ke-kendrick?" Bisik Elica pelan. Kini napas Kendrick yang tenang terasa ditelinganya. "Ada yang kau inginkan sehingga mencariku disini?" Tanya Kendrick dengan suaranya yang serak dan dalam. "Hm?" Gumam Elica ketika mendengarkan perkataan Kendrick. Ia menoleh, tatapannya kini terkunci pada tatapan lembut Kendrick yang entah sejak kapan mampu membuat jantung Elica berdesir hebat. "Aku? Mm, kurasa tak ada. Aku hanya bingung ingin melakukan apa." Kata Elica seadanya. "Begitukah? Kukira kau merindukanku setelah mengusirku dari kamarmu." Kendrick terkekeh, lucu melihat wajah Elica yang kini sedikit merasa bersalah yang langsung ditutupinya dengan pelototan garang. "Buat apa aku harus merindukanmu? Lagipula wajar saja aku bersikap seperti itu. Kau pria. Bagaimana mungkin seorang pria bisa dan layak berada di kamar seorang gadis?" Cerca Elica panjang lebar. Mengeluarkan unek-unek yang sedari tadi ia pendam. Lagi dan lagi Kendrick dibuatnya terkekeh. Entah kenapa setiap bersama Elica, Matenya, ia selalu saja terkekeh dan tersenyum hanya dengan mendengar celotehannya dan melihat tingkahnya. Seakan sosok Elica mampu membuat kepribadian Kendrick berubah 80°. Hanya 80°. "Tentu saja bisa. Kau adalah calon Ratuku. Queenku. Apa aku tak boleh menemui Queenku?" Pertanyaan Kendrick kali ini membuat Elica mengatupkan bibirnya rapat. Kendrick yang melihat itu tak kuasa menahan rasa gemasnya melihat wajah Elica yang sangat menggemaskan. Bibirnya yang mengatup rapat dengan kedua matanya yang menatapnya sayu. Kendrick memajukan wajahnya hingga wajah mereka sangat dekat. Bahkan hidung Kendrick sudah menyentuh pipi Elica. Elica terdiam. Tak berniat menghentikan aksi Kendrick. Kriiieettt Pintu terbuka tebar dengan suara decitan pintu yang terdengar menggema membuat Kendrick menjauhkan kembali wajahnya. Derap langkah terdengar mendekat dengan terburu-buru. Ia menatap wajah Elica yang memerah singkat dan beralih pada seseorang yang nampak tak begitu asing yang berdiri dengan lutut yang tertekuk, menghormat. "Ada apa?" Tanya Kendrick dengan suaranya yang dingin. Elica menatap wajah Kendrick yang berubah. Wajahnya yang sangat lembut berubah menjadi datar dan dingin. Elica melirik Alfred yang masih menunduk itu. Tersadar sesuatu, Elica dengan gelagapan berdiri dan menjauh beberapa langkah dari Kendrick. Wajahnya terasa menghangat. Ia menunduk dalam, menahan rasa malunya yang mendominan. Memalukan! Katanya dalam hati. Kendrick yang melihat itu hanya melirik sekilas lalu kembali memandang Alfred. "Lapor Lord, terjadi kerusuhan di daerah kaum Elf. Para kurcaci menyerang bersamaan dengan traitors yang ikut menyerang." Kata Alfred melaporkan. "Hn? Seberapa besar kerusakannya?" Tanya Kendrick menanggapi. Terlihat cukup santai. Dia sudah menangani kejadian yang sama seperti ini hampir ribuan kali banyaknya. Entah ini yang berapa kalinya. Dalam setahun, menurut bulan purnama merah, sudah terjadi kerusakan di daerah-daerah kaum tersebut sebanyak sepuluh kali. "Cukup parah Lord. Beberapa prajurit dari kaum Elf datang melapor yang dititahkan langsung oleh King Damian." Kendrick terkekeh pelan. "Hee? Lagi-lagi anak-anak nakal itu. Mereka sangat suka mengusik ternyata." Kendrick bangkit dari duduknya. "Aku ingin bertemu Raja dari kaum Elf. Sampaikan undanganku padanya." Titah Kendrick langsung. "Baik Lord. Akan hamba laksanakan." Jawab Alfred itu lalu melangkah pergi dengan langkah yang sangat lebar. Kendrick melirik, menatap Elica yang terus menatapnya dengan wajah yang sulit diartikan. Kendrick melangkah mendekat lalu mengelus pipi Elica lembut. Wajahnya pun kini kembali lembut dengan senyuman tipis di bibirnya. "Kembalilah ke ruanganmu. Mungkin aku akan terlambat menemuimu nanti. Ada yang perlu kuselesaikan." Katanya lembut membuat Elica mengangguk mengerti. "Baiklah." Jawab Elica lalu menuruni anak tangga dan pergi dari tempat itu. Menyisakan Kendrick yang kini kembali duduk di singgasananya dengan wajah yang berubah total. Tidak ada wajah lembut yang penuh kasih sayang seperti yang ditampilkannya tadi. Tak ada lagi senyuman lembut yang terukir di bibirnya. Yang ada hanyalah wajah dingin dan seringaian yang terlihat. Dengan aura yang sangat menindas dan penuh kegelapan. "Anak-anak nakal itu semakin membuatku menyukai mereka. Tunggu dan lihatlah nanti." Gumam Kendrick dengan seringaian yang semakin melebar.
Bacaan gratis untuk pengguna baru
Pindai untuk mengunduh app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Penulis
  • chap_listDaftar Isi
  • likeTAMBAHKAN