N I N E T E E N T H ; The Demon

1630 Kata
Sentuhan terakhir. Elica mengikat tali jubah pada lehernya. Ia tersenyum sembari menatap bayangannya pada cermin besar dipojok ruangan kamarnya. Dibelakangnya, Ra dan Ri tersenyum saat melihat wajah Elica yang sangat gembira. Mereka sangat bersyukur bisa melayani Calon Ratu mereka yang sangat baik seperti ini. Tak pernah mereka temui seseorang yang mempunyai status tinggi sangat baik dan tak memandang rendah mereka. Awalnya mereka cukup kaget saat Elica melakukan semua hal yang sangat tak pantas bagi seseorang yang mempunyai status yang penting untuk dilakukan. Seperti menyuruh mereka berjalan disampingnya, menggandeng dan memegang tangan mereka, bahkan memeluk mereka. Dan seiring berjalannya waktu, mereka sadar, jika Calon Ratu mereka ini sangat berbeda dan spesial. Baik dirinya maupun hatinya. Perlahan Elica memutar tubuhnya dengan mata yang tetap menatap pada cermin. Melihat jubah putih pemberian Kendrick dulu saat mereka hendak berjalan-jalan untuk pertama kalinya. Ia sengaja menyimpan jubah ini, karena jubah putih ini merupakan pemberian Kendrick yang pertama untuknya. Tumitnya berjinjit, lalu berbalik menatap Ra dan Ri membuat kedua Mermaid itu langsung menunduk. Elica berjalan mendekati mereka dengan kedua tangan yang berada dibelakang punggungnya. Ia tersenyum manis. “Bagaimana penampilanku?” “Anda sangat cantik, Putri.” Kata Ra membuat pipi Elica sedikit memerah. Ia tertawa pelan. “Tidak. Jangan memujiku seperti itu. Aku tak cantik seperti yang kau katakan. Maksudku, apa baju ini cocok untukku?” Katanya sambil menunduk melihat pakaian yang digunakannya. Elica memang meminta agar ia menggunakan pakaian seperti waktu itu. Tetapi Kendrick tak mengijinkannya, dan malah memberinya sebuah baju dan rok panjang berwarna senada yang terbuat dari kain sutera pilihan. Sangat lembut dan nyaman untuk digunakan. “Iya Putri. Anda sangat cocok menggunakannya.” Jawab kedua Mermaid itu membuat Elica mengangguk sambil tersenyum lebar. Pintu terbuka membuat Elica menoleh. Disana, terlihat Kendrick yang memasuki ruangan itu sambil menatap Elica. “Sudah selesai?” Tanyanya yang dijawab anggukan oleh Elica. Elica mendekati Kendrick lalu menatap Ra dan Ri. “Aku akan pergi sekarang. Kalian bisa kembali ke tempat kalian.” Katanya lalu berjalan mengikuti Kendrick. Kendrick melirik Elica yang sedari tadi tersenyum. “Jangan tersenyum terus menerus. Aku tak suka makhluk lain melihat senyumanmu.” Katanya membuat Elica menoleh menatapnya sedikit kesal. “Tenanglah. Tak ada yang melihatnya. Bagaimana bisa mereka melihatnya saat kita melewati mereka saja, mereka malah menunduk.” Jawab Elica sambil melipat kedua tangannya dibelakang punggungnya dibalik jubah. “Aku tak ingin terbang lagi.” Kata Elica saat mereka sudah berada diluar. Kendrick yang mendengar itu terkekeh pelan. “Lalu, apa yang ingin kau gunakan untuk berkeliling?” Elica tersenyum lebar. “Berjalan kaki tentu saja! Aku hanya ingin berjalan-jalan di sekitar luar kerajaan ini saja.” Jawabnya dengan percaya diri. Kendrick mengangguk lalu mulai berjalan. Saat sampai di gerbang depan, Elica berdecak kagum melihat tinggi dan besarnya gerbang yang digunakan untuk akses keluar masuk Kerajaan Altissimo. Terdapat sejumlah pasukan prajurit yang berjaga disana. Diatas dua pilar gerbang yang tinggi, terdapat dua buah patung berbentuk sebuah hewan sejenis singa yang bertanduk dan bersayap berwarna hitam. Elica kembali melangkah melewati gerbang besar itu. Matanya menyapu sekitar kiri dan kanan. Semuanya hutan. Keningnya sedikit mengernyit lalu mendongak menatap Kendrick penuh tanda tanya. “Kenapa semuanya hutan?” Tanyanya  terus berjalan. “Dari dulu memang sudah seperti ini.” Jawab Kendrick seadanya. Memang benar jika sedari dulu, kerajaannya sudah dikelilingi hutan. Sama seperti kerajaan kaum lainnya. Bedanya, Kerajaannya lebih besar dan megah. Penjagaan disana pun sangat ketat, tak sembarang makhluk yang bisa memasukinya. “Hm? Begitukah?” Gumam Elica lalu menatap Kendrick. “Ah, aku lupa menanyakan ini. Kau termasuk kaum apa? Fairy? Witch? Vam...pire?” Celetuk Elica dan pertanyaan akhir sangat meragukan baginya. Ia tak berharap jika Kendrick berasal dari kaum Vampire. Karena Vampire membutuhkan darah bukan? Mengingat mata Kendrick yang merah, tebakan Elica semakin kuat kalau Kendrick berasal dari kaum Vampire. “Demon.” Jawab Kendrick membuat Elica menatapnya heran. Demon? Setahunya, pria ini tak pernah menyebutkan kaum yang bernama Demon di dunia ini. Melihat Elica yang terdiam tak mengerti, Kendrick kembali melanjutkan. “Menurut garis keturunan dan kekuasaan, Lord di dunia ini haruslah seorang Demon. Memang tak ada lagi kaum Demon yang tersisa selain aku disini. Maka dari itu aku tak mengatakannya padamu. Dari dulu, kaum Demon adalah makhluk yang memiliki status dan kekuatannya paling besar. Maka dari itu, setiap keturunan Demon akan menjadi seorang Lord dunia ini.” “Begitukah? Lalu dimana keluargamu? Tak mungkin 'kan kau hidup tanpa adanya keluarga? Pasti kau mempunyai Ibu untuk mengandungmu bukan?” Tanya Elica membuat Kendrick terdiam sesaat. Melihat Kendrick yang terdiam membuat Elica mengatupkan mulutnya. Apa aku terlalu jauh bertanya? Pikirnya dengan sebuah perasaan tak enak. Ia merasa tak enak kepada Kendrick karena telah bertanya sesuatu yang sangat pribadi seperti itu. Pasti terjadi sesuatu pada keluarganya dulu. Ah, kau sangat ceroboh Elica! Bagaimana mungkin kau menanyakan hal yang mengingatkannya pada masa lalu? Pikirnya lagi sambil merutuki dirinya sendiri. “Keluargaku terbunuh.” Tiba-tiba Kendrick berceletuk. Mendengar perkataan Kendrick itu, membuat Elica tertegun. Ia menatap Kendrick dengan perasaan bersalah yang semakin besar. “Maafkan aku telah mengingatkanmu pada kejadian yang menyakitkan. Pasti kau sangat sedih.” Kata Elica dengan gumaman diakhir kalimatnya. Kendrick tersenyum. “Tak apa. Kau bagian dari hidupku sekarang. Tak perlu meminta maaf, kau tak pernah memiliki salah padaku.” Katanya lalu menarik pinggang Elica mendekat kearahnya. Elica terserentak pelan saat tubuhnya membentur pelan sebagian tubuh Kendrick dari samping. Jantung Elica berdetak cepat. Wajahnya memerah. Posisi mereka sangat dekat saat ini. Mereka terus berjalan dengan tangan Kendrick yang merangkul pinggangnya posesif. “Kau tahu? Aku selalu ingin dekat dan menyentuhmu seperti ini saat aku pertama kali menemukanmu.” Bisiknya membuat Elica menatapnya. “Salahmu bukan, berpura-pura menjadi pengawal pribadiku? Dan apa yang kau lakukan! Bagaimana jika nanti seseorang melihat kita?” Elica berusaha menjauhkan diri tetapi tenaganya tak cukup kuat untuk menjauhkan tubuh Kendrick darinya. Bahkan untuk melepaskan tangan pria itu dari pinggangnya pun sangat susah. Kendrick terkekeh pelan. “Memangnya kenapa jika ada yang melihat? Aku tak memperdulikan itu. Biar dunia ini tahu jika kau milikku.” Kendick mengecup pucuk kepala Elica lalu kembali menatap kedepan. Baru saja Elica ingin menjawab, suara Kendrick mendahuluinya. “Lihatlah itu.” Kendrick menunjuk sebuah burung yang berada disebuah dahan pohon yang tinggi. Elica menyipitkan matanya lalu mengangguk. “Aku melihatnya. Ada apa?” “Burung itu bernama peneothello. Spesies burung itu hanya bisa ditemui di hutan Kerajaanku.” Elica terus menatap burung kecil itu. Memang ia akui jika burung itu sangat cantik. Dari tempatnya melihat saja ia bisa menebak jika bulu hewan kecil itu sangat halus. Bulu burung itu berwarna hitam, dengan d**a yang berwarna merah. Sangat unik. Pikir Elica bersuara. “Benarkah? Itu burung yang cantik.” Kata Elica lalu menatap Kendrick. Mereka kembali melanjutkan langkah mengikuti satu-satunya jalan yang tersedia. Entah sudah berapa lama berjalan, ia belum saja melihat jalan keluar dari hutan ini. Kendrick menuntunnya untuk berbelok, memasuki hutan. “Kenapa kita malah masuk ke hutan?” Tanya Elica sambil menatap sekitarnya. Pohon-pohon yang ada didalam hutan ini sangat tinggi. Mungkin sekitar 10 meter lebih. Tidak begitu banyak dahan yang terlihat, berbeda dengan pohon-pohon dekat gerbang yang dilihatnya. Daun-daun dari pepohonan yang gugur menutupi tanah. Membuat Elica dan Kendrick yang menginjaknya mengeluarkan suara gemerisik dari daun-daun yang mengering dan patahan ranting. “Lihatlah itu.” Elica mengalihkan tatapannya pada sesuatu yang Kendrick tunjuk. Sebuah hewan yang mirip seperti rusa. Ah bukan. Terlihat seperti lembu tetapi mirip juga dengan kambing dengan punuk seperti unta. Hm. Mungkin kombinasi dari rusa, lembu, kambing, dan unta. Pikir Elica. “Spesies hewan itu adalah boselaphus tragocamelus. Salah satu hewan yang sangat cepat dalam hal berlari.” Jelas Kendrick membuat Elica mengangguk-angguk. Mereka kembali melanjutkan langkah dan semakin dalam memasuki hutan. Kini mereka tiba disebuah tempat yang dipenuhi oleh sebuah bunga yang berwarna kuning. “Bunga viola purpurea. Mereka hanya bisa tumbuh dan hidup didalam hutan ini.” Kendrick kembali menjelaskan. Elica mendekati bunga-bunga indah itu. Ia sangat menyukai bunga ini. Andai saja ia bisa membawanya untuk ditanam di taman kerajaan, pasti ia bisa terus melihat jenis bunga ini. Pendangan Elica jatuh pada sebuah makhluk yang hinggap pada bunga viola purpurea ini. Seperti kupu-kupu, tetapi mulut untuk menghisap nektar sangatlah panjang, tak seperti kupu-kupu pada umumnya. “Kupu-kupu jenis apa ini? Aku baru pertama kali melihatnya.” Kata Elica sambil menunjuk kupu-kupu tersebut. Kendrick berjalan mendekati Elica sambil menatap kupu-kupu itu. “Xanthopan morgani praedicta. Kupu-kupu ini sangat jarang terlihat. Mereka sukar ditemui. Mungkin kita sedang beruntung bisa melihatnya.” Elica menoleh menatap Kendrick. “Kau juga baru pertama kali melihatnya?” Lord itu mengangguk. “Hm. Aku pernah membaca tentangnya. Tetapi ini kali pertama aku bisa melihatnya secara langsung.” Elica mengangguk-angguk. “Aku ingin pulang sekarang. Aku sudah lelah.” Katanya membuat Kendrick tersenyum. “Ingin kugendong?” “Mm, kukira itu tawaran yang menguntungkan. Baiklah. Aku ingin berada di punggungmu kali ini.” Kendrick mengangguk lalu berbalik dan berlutut dengan satu kakinya. Melihat itu, Elica tak mampu menahan senyumnya. Ia melingkarkan tangannya pada leher Kendrick. Kendrick berdiri dengan tangan yang memegang kaki Elica agar tak terjatuh. “Aku akan membawamu hingga sampai di kamarmu.” Kata Kendrick lalu mulai melangkah keluar dari hutan. Ia tersenyum tipis dan beberapa kali melirik Elica yang menyandarkan dagu pada pundaknya. Deru napas Elica yang teratur dan tenang membuat Kendrick sedikit melebarkan senyumannya. Kendrick sengaja tak menggunakan kekuatannya untuk sampai dalam sekejap mata di kerajaannya. Ia masih ingin berlama-lama dengan Queennya. “Menikmati harimu hari ini?” Tanya Kendrick yang dibalas anggukan pelan Elica. “Ya. Setidaknya aku belajar sedikit tentang hewan-hewan yang baru kulihat berkatmu.” Katanya pelan. Kendrick terkekeh pelan sambil melirik Elica yang mulai memejamkan matanya. Karena terlalu lelah, kantuk dengan cepat menjemput Elica. Membuat gadis itu mengunjungi alam mimpi lebih cepat hari ini. “Σ 'αγαπώ”
Bacaan gratis untuk pengguna baru
Pindai untuk mengunduh app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Penulis
  • chap_listDaftar Isi
  • likeTAMBAHKAN