“Piya...” Aku menurunkan ranting-ranting pohon yang menghalangi. Kakiku semakin melangkah memasuki kawasan hutan didekat danau.
“Kau ingin menunjukkan apa?” Celetuk seseorang yang sedari tadi mengekoriku.
“Nanti kau akan melihatnya sendiri.” Balasku acuh sambil memandang sekeliling.
Dimana Piya? Biasanya dia akan muncul saat aku memanggilnya. Yah, walaupun beberapa hari ini aku tak menemuinya. Tapi tak mungkinkan hewan itu marah? Itu sungguh mustahil.
“Piㅡ”
Seseorang langsung membekap mulutku. Aku melotot sambil melirik kebelakang. Itu Kendrick. Ia menatapku lalu menyuruh untuk diam. Walaupun aku tak mengerti, aku tetap menurut.
Srekkk
Suara sesuatu membuatku menoleh. Bunyi itu berasal dari semak-semak. Aku mengernyit lalu menatap Kendrick yang juga menatap semak-semak belukar itu dengan pandangan waspada.
Ia merentangkan sebelah tangannya menyuruhku untuk mundur tanpa berkata. Kendrick mendekat kearah semak yang bergoyang itu. Aku menatapnya khawatir. Apakah ada sesuatu yang berbahaya bersembunyi di semak itu?
Suara yang berasal dari semak itu semakin keras terdengar. Tiba-tiba sesuatu berwarna putih melesat dengan cepat menuju kearahku, membuatku yang melihat itu tak cukup cepat untuk menghindar.
Mataku terbelalak karena sesuatu yang melesat dengan cepat itu berhenti tepat didepan wajahku. Perasaan takut dan cemas yang menyelimutiku seketika lenyap.
Aku tersenyum samar lalu mengelus kepalanya. “Piya, kau menakutiku.”
Piya mengerjap pelan mata bulatnya. Wajahnya yang menunjukkan tak mengerti apa-apa membuatku tertawa pelan. Pandanganku tertuju pada sesuatu dibalik punggungnya. Mataku berbinar, “Kau ada sayap?!”
“Itu...”
Aku menoleh, melihat Kendrick yang menatap Piya dengan tatapan yang sulit diartikan. Aku tersenyum lalu meraih Piya agar berada didalam pelukanku. Sayap kecilnya hilang begitu dia berada didekapanku. Aku berjalan mendekat kearah Kendrick sambil tersenyum bahagia karena telah menemukan Piya.
“Ini yang ingin kutunjukkan padamu. Bukankah dia sangat imut?” Kataku sambil mengelus kepala Piya.
“Dari mana kau mendapatkannya?” Aku menaikkan satu alisku melihat wajah Kendrick yang begitu serius.
“Saat kau menghilang waktu itu, aku diam-diam masuk ke hutan ini saat malam. Dan saat aku sendirian berada di sungai kecil yang tadi kita lalui, Piya datang dan menemaniku. Apa ada yang salah?” Jelasku lalu menatap Kendrick penasaran.
Kendrick menaikkan satu alisnya. “Kau datang sendirian? Malam-malam? Bagaimana biㅡ”
“Tentu saja bisa. Aku terlalu bosan berada di istana dan tak tahu ingin melakukan apa. Saat aku berada di danau, aku melihat hutan ini yang tak begitu jauh dari sana.” Aku mengidikkan bahuku, “Entah dorongan dari mana, aku pergi ke hutan ini. Dan bertemu dengan Piya. Selesai.” Kataku mengakhiri cerita pendek pertemuanku dengan Piya.
Kendrick terkekeh pelan lalu melangkah semakin mendekatiku. “Kau tahu makhluk apa ini?”
Dengan cepat aku menggeleng. “Memangnya makhluk apa Piya?” Tanyaku sambil menatap Piya lalu mendongak menatap Kendrick kembali.
“Makhluk pelindung dunia Dracania Yang kutahu makhluk ini susah untuk ditemui. Ia hanya akan menampakkan dirinya kepada seseorang yang tepat untuk dijadikan majikannya.” Kendrick tersenyum samar. “Aku tak pernah menduga jika kau akan terpilih sebagai majikan barunya.”
Aku menatap Kendrick bingung. “Apa? Piya adalah pelindung dunia ini? Apa dia sehebat itu?” Aku mengerjap pelan lalu menatap Piya yang tampaknya sangat nyaman berada didalam dekapanku. Hewan seimut dan sekecil ini adalah pelindung? Mungkinkah benar adanya? Tapi dia tak nampak seperti hewan buas yang kuat.
“Ya. Tugasnya hanya melindungi kesejahteraan dan kestabilan dunia ini. Tetapi sangat sulit untuk ditemui dan ditakhlukkan. Sudah banyak orang yang mencarinya, tapi dia tak mau muncul.” Kendrick menatap Piya. “Apa kau menyukainya?”
Piya menarik dirinya dariku lalu terbang mendekati Kendrick. Ia mengangguk membuatku melebarkan mataku takjub. “Dia meresponmu! Waktu itu dia juga meresponku tetapi hanya sekali.”
Kendrick menatapku sambil tersenyum lalu kembali menatap Piya yang terbang tepat dihadapan Kendrick. “Jadi kau ingin dia menjadi tuanmu? Jika seperti itu kau bisa mendapatkannya.” Piya lagi-lagi mengangguk lalu kembali terbang mendekatiku dan memaksa masuk kembali kedalam dekapanku.
Aku menatap Kendrick tanpa berkedip. Ia sangat menakjubkan. Bagaimana bisa ia berbicara dengan hewan? Sungguh aku baru mengetahui hal ini.
“Kau... bagaimana bisa ia begitu patuh denganmu?” Tanyaku membuat Kendrick terkekeh.
“Tentu saja bisa.” Kendrick kembali menatap Piya, “Kembalilah.” Piya lagi-lagi keluar dari dekapanku lalu terbang pergi memasuki hutan.
Aku menatap Kendrick tak percaya. “Kau tahu? Sangat sulit menemuinya. Dan kau dengan mudah menyuruhnya kembali? Sungguh jahat.”
“Kau akan dengan mudah menemukannya karena kau adalah tuannya. Jika kau ingin bertemu dengannya, panggil dia. Tanpa kau datang ke hutan ini pun dia yang akan mendatangimu.” Aku mengangguk tanpa protes lebih banyak lagi.
“Karena hanya itu yang ingin kutunjukkan disini, sebaiknya kita kembali ke istana. Aku sedikit lelah.” Kataku membuat Kendrick menaikkan satu alisnya. “Mau aku bantu agar mengurangi rasa lelahmu?”
Keningku mengerut mendengar perkataannya. “Bagaimana?” Seringaian tercetak jelas dibibirnya membuatku mundur beberapa langkah sambil menatapnya waspada.
“Apa yang kau rencanakan?” Aku memicingkan mataku melihatnya yang sepertinya mempunyai suatu rencana. Kendrick menghilang dengan cepat membuatku bergumam tanpa sadar. “Oh jangan lagi.”
Seperti sudah mengetahui apa yang akan dilakukannya, tubuhku tiba-tiba terangkat. Aku memejamkan mataku ketika kepalaku bersandar pada d**a bidang dengan aroma maskulin yang begitu kuat.
“Kau sepertinya sangat suka menggendongku.” Kataku pelan dengan mata yang tertutup.
Kekehan keluar dari mulutnya. “Yah, kurasa. Bukalah matamu. Kita sudah sampai.”
Aku membuka mataku sambil menatapnya heran. Aku memandang sekitar dan langsung tertegun beberapa saat. Sejak kapan? Perasaan baru beberapa saat aku menutup mata.
“Kau... bagaimana bisa secepat ini? Kau tidak terbang?” Tanyaku penuh kecurigaan.
Kendrick menunduk dengan senyuman tipis di bibirnya. “Apa kau begitu nyaman didalam gendonganku?” Tanyanya membuat aku mengernyit sesaat lalu melebarkan mata kemudian.
Aku memberontak pelan membuat Kendrick terkekeh dan menurunkan aku. Wajahku memanas ketika mengetahui beberapa prajurit berjaga didekat sini. Aku mundur beberapa langkah lalu menatap Kendrick kesal. Tanpa mengatakan apapun aku berbalik dan berjalan meninggalkannya.
Suara derap langkah terdengar mengikutiku membuatku berdesis. “Kendrick, kuperingatkan, jangan mengikutiku!”
“Bagaimana bisa? Bukankah aku pengawalmu? Sudah selayaknya aku terus mengikutimu.” Katanya dengan tenang membuatku menghela napas pelan.
Aku kembali berjalan, menikmati sore hari yang begitu tenang dan damai seperti biasa. Sedangkan Kendrick mengikutiku dari belakang. Sebenarnya aku tak begitu marah dengannya. Tetapi mengerjainya sedikit mungkin akan menyenangkan.
“Kau masih kesal denganku?” Celetuknya membuatku menoleh karena asal suaranya tepat disampingku.
“Tentu saja masih.” Jawabku ketus lalu duduk di kursi yang tersedia di taman. Aku melipat tanganku lalu mendongak menatap langit yang sangat cerah.
Bisa kurasakan Kendrick duduk disampingku. Ia tak berkata lagi. Dia hanya diam membuatku sedikit penasaran. Aku melirik menggunakan ekor mataku, pantas saja aku sedikit merasa hal aneh. Ternyata dia sedari tadi menatapku. Jika tatapannya tak seperti itu, mungkin aku tak akan langsung luluh seperti sekarang. Tatapannya begitu tulus dan lembut, membuat jantungku berdesir hebat.
“Kenapa?”
“Kau terlihat begitu menyukai langit.” Katanya membuatku menoleh sepenuhnya kearahnya.
“Tentu saja. Lihatlah,” Aku mendongak menatap langit yang sangat cerah. Membuatku langsung tersenyum dibuatnya. “Langit sangat biru dan menenangkan. Aku sedari dulu memang sangat menyukainya. Hanya dengan menatapnya, beban dalam diriku terasa ringan, walaupun hanya sementara.” Aku terkekeh pelan saat mengatakan hal itu.
Aku kembali menoleh menatap Kendrick. “Bagaimana denganmu? Tak adakah hal yang membuatmu menyukainya?”
“Dulu tak ada. Tetapi sekarang ada.” Katanya sambil tersenyum. Aku menaikkan satu alisku lalu menatapnya penuh tanda tanya.
“Apa iㅡ”
Suara derap kaki terdengar mendekat dengan tergesah-gesah. Aku yang awalnya tak ingin menoleh pun akhirnya menoleh. Menatap seorang prajurit yang kini berdiri dihadapan Kendrick sambil berlutut dengan satu kaki dan kepala yang tertunduk dalam.
“Ada apa?” Suara Kendrick begitu dingin dan tegas. Membuatku kembali menoleh kearahnya dengan heran.
“Lapor Lord, para traitors menerobos paksa dan merusak wilayah bagian utara.” Kata prajurit itu membuatku menoleh dan melebarkan mataku kaget.
“T-tunggu. Apa katamu? Lord?” Aku menatap Kendrick dengan tubuhku yang sedikit bergetar. “Kendrick, kau...”
Lord? Prajurit itu memanggil Kendrick Lord? A-apa, Apa aku tak salah dengar? Kendrick adalah Lord?!
Aura dingin dan menyeramkan berasal dari tubuh Kendrick. Wajahnya tanpa ekspresi tak menunjukkan tanda emosi sedikit pun. Tapi merasakan auranya saat ini, siapa yang tak tahu bahwa ia sekarang sedang marah?
Kendrick menoleh menatapku. Wajahnya yang dingin perlahan kembali terlihat hangat dan lembut. Ia mengelus rambutku pelan, “Aku harus pergi.” Kendrick kembali menatap prajurit yang masih menunduk hormat itu datar. “Aku serahkan dia padamu. Lindungi dan bawa dia kembali ke ruangannya.”
“Baik, Yang Mulia Lord.”
Kendrick langsung menghilang. Aku menunduk menatap rerumputan hijau yang ada dibawah kakiku. Mengetahui sebuah fakta yang selama ini selalu kucari. Yang Mulai Lord itu... Kendrick.
“Mari Putri, saya akan mengantar Anda kembali ke ruangan Anda.” Aku menatap prajurit itu lalu mengangguk pelan.
Ia berjalan didepanku, sedangkan aku mengekorinya dengan tatapan menerawang disepanjang jalan. Jadi maksud Delion itu Kendrick? Bagaimana aku tak bisa menyadarinya? Bahkan dari sikap dan tingkahnya saja berbeda dari yang lainnya.
Aku mendongak ketika merasa bahwa aku sudah berjalan terlalu lama. Langkahku terhenti. Keningku mengerut ketika melihat tempat jauh dari istana.
“Bukankah kita seharusnya kembali kedalam istana? Kenapa kau membawaku kesini?” Tanyaku heran.
Prajurit itu berhenti lalu perlahan berbalik menatapku. Aku melebarkan mata sambil mundur beberapa langkah ketika merasakan ada yang tak wajar. Seluruh mata prajurit itu berwarna putih.
Aku berbalik dan hendak pergi tetapi entah datang dari mana, kabut tebal yang berwarna keunguan mengelilingi sekitarku. Aku terbatuk beberapa kali dan perlahan rasa kantuk mendominasi. Mataku terasa sangat berat. Badanku seakan mati rasa.
Tubuhku terjatuh ke tanah dengan lemahnya ketika tenagaku tak ada lagi. Perlahan pandanganku mengabur. Sepasang kaki berhenti didepanku. Aku mendongak dengan tatapan sayu.
“K-kau...”
Dan semuanya langsung gelap ketika mataku tertutup rapat dan kesadaranku pun hilang.