22. Adu Hujat

2310 Kata

Domi mendaratkan bokongnya di sebelah Sena dengan napas terengah. "Anak lo belom dateng?" "Belum." "Untung, deh." Ia menghela napas lega. Domi memang sengaja berusaha datang lebih cepat dari waktu yang dijanjikan. Beruntung juga cafe tempat mereka bertemu tidak terlalu jauh dari Forty Media. "Kenapa?" tanya Sena heran. "Gue masih sempet bikin meja ini clear dari benda-benda berbahaya." Tangan Domi dengan cepat bergerak mengumpulkan benda-benda di atas meja, dan memindahkannya ke meja lain. Sena terheran-heran melihat tingkah Domi. "Buat apa dipindahkan?" "Gue takut garpu, vas bunga, sama pisau itu bakal malayang ke muka gue." Setelah yakin tidak ada lagi benda-benda tajam yang bisa Luna jadikan alat untuk menusuk, Domi bisa duduk dengan sedikit tenang. Tidak berselang lama, sosok

Bacaan gratis untuk pengguna baru
Pindai untuk mengunduh app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Penulis
  • chap_listDaftar Isi
  • likeTAMBAHKAN