"Kenapa malem banget baru dateng?" Domi langsung menghambur memeluk Sena begitu melihat pria itu berdiri di depan pintu rumahnya. Sena membalas pelukan Domi. "Maaf. Nggak mudah untuk menghilang dari kejaran wartawan." Domi menengadah memandangi Sena. Sehari saja tidak melihat pria ini membuat Domi gelisah. Rasanya ada yang kurang. "Mereka ada di galeri kamu juga?" "Hmm." Sena mengangguk. Mengurai pelukan mereka, kemudian membimbing Domi menuju ruang keluarga rumahnya. "Terus gimana caranya kamu pergi?" "Reiga yang atur." "Abi, kita harus gimana?" tanya Domi takut-takut. Sena duduk perlahan, menyandarkan punggungnya di sofa. Perlahan Sena menggeleng lesu. Wajahnya terlihat sangat keruh. "Semuanya kacau." "..." Untuk pertama kalinya Domi melihat Sena seperti ini. Biasanya, lelakinya

