Sena menatap layar ponselnya. Nomor asing. "Selamat siang." "..." "Benar." Wajahnya mulai terlihat kaku. "..." Seketika jantungnya berdegup kencang, namun ia berusaha tetap tenang. "Di mana?" "..." "Saya ke sana." Tanpa berpikir lagi, Sena langsung bangkit berdiri meninggalkan Reiga yang keheranan. "Siapa?" Reiga mengejar sepupunya yang berlalu tanpa mengatakan apa-apa. "Dari rumah sakit," balas Sena cepat. Firasat buruk langsung menghinggapi Reiga. "Kenapa?" "Domi. Tertabrak .... Gue ..., pergi ...," ujar Sena putus-putus. Reiga terus menyejajari langkah sepupunya. "Gue antar." "Meeting-nya?" tanya Sena tanpa menoleh. "Bisa di reshedule." Bagi Reiga, keluarganya lebih penting. Soal pekerjaan bisa menunggu. Sepanjang perjalanan menuju rumah sakit yang terasa begitu lama, Se

