“Kamu apakan Jingga hah? Kenapa dia menangis di tempat umum begini?” Adri mendesis ke Reino. Lah pak, kalau saya tahu mah pasti saya udah bujuk-bujuk untuk gak nangis pak! Mana berani saya sama bapak! Reino menelan ludah, inginnya dia berkata itu, tapi otaknya masih waras untuk tidak menjawab sembarangan. “Euum karena Jingga terlalu bahagia bertemu bapak dan ibu. Iya kan sayang?” Reino minta dukungan Jingga. Matanya memohon dengan amat sangat agar Jingga kerja sama dengannya, jika tidak, maka dia harus segera memberi wasiat! “Hiks… hiks… iya pak, bu. Jingga kangen banget sama ibu sampai nangis gini. Yuk cepet pulang, tadi Jingga udah siapin makanan biar bisa makan bareng.” “Kamu kok tumben jadi cengeng gini toh nduk? Apa karena mau laparoski? Harus tetap berpikir positif ya sayang,

