Di mobil perjalanan pulang, Reino jauh lebih kalem. Tidak banyak bicara. Hanya sesekali tersenyum saat merespon Jingga. Karena Reino jadi kalem, Jingga jadi menyadari hal itu. Dia cukup tahu diri, bahkan Jingga menyangka bahwa Reino berpikir tentang kehamilan. Dari dulu kan suaminya ini memang ingin punya anak walau tanpa menikah. Daripada tambah runyam lebih baik dia diam saja. Tapi hingga sampai kamar pun Reino tetap saja tidak bersuara. Jingga yang juga lelah tidak mau membahas lebih lanjut. “Mas, aku mau tidur ya.” “Iya.” Jawab Reino singkat. Sebenarnya Jingga merasa sedih karena Reino tampak abai padanya. Jujur dia ingin dibelai, dipeluk dan disayang-sayang, diberi semangat. Tapi sudahlah, dia ingin mengistirahatkan tubuhnya. *** Reino menyesap kopi hitam pahitnya dengan lesu

