Sepertinya Si Hitam lebih menguasai Reino saat ini. Matanya sungguh fokus pada bibir pucat Jingga, dia semakin mendekat, mendekat, bahkan sudah memejamkan mata karena mungkin tinggal setengah senti lagi bibir mereka akan bertemu. Nyatanya, semesta tidak berpihak pada Reino! Tiba-tiba saja ponselnya berdering nyaring, membuatnya terkaget-kaget sampai terlonjak bangun dari posisi duduk di sebelah Jingga. Disambarnya ponsel dan segera keluar kamarnya, duduk di sofa depan televisi ukuran raksasa. “Halo…” “Assalamualaikum, pagi Pak Reino. Maaf saya, Kamila, perawat yang semalam ke sini bersama dr. Topan.” Sebuah suara empuk perempuan terdengar. Saat si penelpon menyebut identitas diri, Reino tahu itu siapa. “Ah iya. Ada apa?” Reino melirik jam dinding, masih jam setengah enam, seharusnya d

