29. Perawan Ting-ting

1875 Kata

Sepertinya Si Hitam lebih menguasai Reino saat ini. Matanya sungguh fokus pada bibir pucat Jingga, dia semakin mendekat, mendekat, bahkan sudah memejamkan mata karena mungkin tinggal setengah senti lagi bibir mereka akan bertemu. Nyatanya, semesta tidak berpihak pada Reino! Tiba-tiba saja ponselnya berdering nyaring, membuatnya terkaget-kaget sampai terlonjak bangun dari posisi duduk di sebelah Jingga. Disambarnya ponsel dan segera keluar kamarnya, duduk di sofa depan televisi ukuran raksasa. “Halo…” “Assalamualaikum, pagi Pak Reino. Maaf saya, Kamila, perawat yang semalam ke sini bersama dr. Topan.” Sebuah suara empuk perempuan terdengar. Saat si penelpon menyebut identitas diri, Reino tahu itu siapa. “Ah iya. Ada apa?” Reino melirik jam dinding, masih jam setengah enam, seharusnya d

Bacaan gratis untuk pengguna baru
Pindai untuk mengunduh app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Penulis
  • chap_listDaftar Isi
  • likeTAMBAHKAN