Giana menutup pintu kamarnya dengan keras, lalu bersandar pada dinding, tubuhnya gemetar menahan marah sekaligus putus asa. Napasnya tersengal, lalu ia berjalan ke ranjang, menjatuhkan tubuhnya di atas kasur dengan kasar. Tangannya menutupi wajah, sementara air mata yang sejak tadi ia tahan akhirnya mengalir juga. “Aku benci dia… aku benci, aku benci sekali!” Giana berulang kali berbisik, suaranya serak bercampur tangis. Dadanya terasa sesak. Mengapa hidupnya kini seperti neraka hanya karena kehadiran pamannya sendiri? Ia bangkit, berjalan mondar-mandir di dalam kamar. Pandangannya jatuh pada boneka-boneka di rak, vas kecil di meja, hingga tirai jendela yang bergoyang karena angin malam. Semua benda itu ia lihat dengan emosi bercampur aduk. Tiba-tiba ia meraih boneka beruang besar, lalu

