Diana masuk ke dalam rumahnya dengan wajah yang lelah namun penuh antusias. Setelah berjam-jam di kantor dan perjalanan yang macet, ia hanya ingin segera bertemu adiknya yang sudah pulang dari luar negeri. Adik yang sudah lama tidak pernah ia peluk, adik yang selalu ia rindukan. Tapi langkahnya mendadak terhenti ketika matanya menangkap sosok putrinya di ruang tengah.
Giana duduk di sofa dengan wajah masam, matanya merah seakan habis menangis, tangannya bersedekap penuh amarah. Gadis itu menoleh tajam begitu melihat ibunya datang.
“Mama!” teriak Giana lantang, membuat Diana kaget. “Aku tidak mau Paman Mark tinggal di rumah ini!”
Suara keras itu menggema di seluruh ruangan. Diana membeku sejenak. Ia tak menyangka putrinya akan langsung meledak seperti itu. Ia mengerutkan kening, matanya menajam menatap putrinya.
“Jaga bicaramu, Giana!” suara Diana meninggi, nada tegasnya keluar tanpa bisa ia tahan. “Kau bicara tentang adikku sendiri. Adik yang sudah bertahun-tahun jauh di luar negeri dan akhirnya mau kembali ke Jakarta, tinggal di rumah kita. Kau seharusnya bersyukur, bukan marah-marah seperti ini!”
Giana berdiri dengan kasar, tangannya gemetar karena emosi. “Bersyukur? Mama pikir aku harus senang tinggal serumah dengan orang asing? Aku tidak kenal dia! Dan sekarang dia masuk seenaknya, membawa barang-barangnya, bertingkah seolah rumah ini miliknya. Aku tidak bisa, Ma! Aku tidak mau!”
Diana terkejut melihat betapa kerasnya putrinya menolak. Hatinya tercabik. Ia tahu Giana memang keras kepala, tetapi kali ini kemarahannya terasa berlebihan.
Mark, yang sedari tadi duduk di sofa sambil menonton drama itu dengan senyum dingin, akhirnya bersuara. Ia menegakkan tubuhnya, lalu menatap ke arah kakaknya. “Kak, biarkan saja. Sepertinya keponakanku yang manis ini memang tidak suka punya tamu. Tidak masalah, aku bisa tidur di hotel jika itu membuatnya tenang.”
Nada suara Mark terdengar tenang, tapi jelas ada sindiran menusuk di dalamnya. Senyum tipis di wajahnya hanya membuat Giana semakin marah.
“Ya, memang lebih baik kau pergi ke hotel!” Giana berteriak sambil menatap Mark dengan mata membara.
Diana langsung menoleh pada putrinya dengan tatapan tajam. “Cukup, Giana! Jangan bicara seperti itu lagi. Mark tidak akan pergi ke hotel. Dia akan tinggal di sini. Ini rumah Mama, dan Mama yang menentukan siapa yang boleh tinggal. Mengerti?”
Giana menatap ibunya tidak percaya. Air mata mulai berkaca di pelupuk matanya, tapi rasa marah menguasai dirinya. “Mama lebih memilih dia daripada aku?” suaranya pecah, tapi tetap penuh amarah.
Diana menghela napas kasar. “Ini bukan tentang memilih siapa pun. Ini tentang keluarga. Dia adik Mama, darah Mama sendiri. Kau juga harus belajar menghormati dia.”
Giana tidak tahan lagi. Ia berlari menaiki tangga dengan langkah keras, pintu kamarnya dibanting hingga menimbulkan dentuman keras.
Keheningan mendadak melingkupi ruang tamu. Diana menutup wajahnya dengan telapak tangan, lelah sekaligus sedih. Sementara Mark hanya duduk dengan wajah datar, seakan-akan semua itu hanya hiburan baginya.
“Maafkan dia, Mark,” kata Diana akhirnya, suaranya lemah. “Kau tahu sendiri, Giana memang selalu keras kepala. Tapi dia anak yang baik, hanya… terlalu banyak membantah.”
Mark menatap kakaknya dengan tenang, lalu berdiri. “Tidak apa-apa, Kak. Aku bisa mengatasinya. Lagipula, aku sudah tahu sifat Giana sejak dulu dari ceritamu. Aku bahkan penasaran bagaimana rasanya berhadapan langsung dengan gadis keras kepala itu.”
Diana menoleh dengan kening berkerut. “Jangan berkata seperti itu. Giana anakku, dia masih muda, jangan terlalu keras padanya.”
Mark menyeringai tipis. “Aku hanya mengatakan fakta. Tapi tenang saja, Kak. Aku tahu cara menghadapinya.”
Diana menatap adiknya lebih lama. Ada sesuatu dari nada suara Mark yang membuatnya merinding. Bukan karena ancaman, tapi karena ketenangan dingin yang dibalut dengan senyuman samar. Seakan ada sesuatu yang direncanakan Mark.
Malam itu, ketegangan tidak mereda. Giana mengurung diri di kamar, sementara Diana sibuk menyiapkan makan malam bersama Mark di dapur. Mark bercerita tentang hidupnya di luar negeri, tentang bisnis yang ia jalani, dan alasan ia akhirnya kembali. Diana mendengarkan dengan penuh semangat, sesekali tertawa mengenang masa kecil mereka berdua.
Namun di lantai atas, Giana duduk di tepi ranjang dengan mata kosong. Ia mendengar suara tawa dari bawah, dan semakin muak. Baginya, Mama terlalu cepat percaya pada lelaki itu hanya karena dia adik kandungnya. Tapi Giana merasa ada sesuatu yang tidak beres dengan Paman Mark. Tatapan matanya terlalu menusuk, senyumnya terlalu dingin.
Di dalam hati, Giana bersumpah. Jika lelaki itu benar-benar berniat tinggal lama di rumah ini, maka perang dingin akan terjadi. Ia tidak akan membiarkan hidupnya diganggu oleh seseorang yang datang tiba-tiba dan bersikap seolah segalanya ada di bawah kendalinya.
Dan malam itu, saat Diana tertidur lebih awal, Mark berdiri di halaman rumah sambil menatap kamar Giana yang gelap. Senyuman samar muncul di wajahnya. Ia berbisik pelan, nyaris tanpa suara.
“Jangan terlalu membenciku, Giana… kau akan terbiasa dengan kehadiranku. Cepat atau lambat. Dan termasuk bagaimana aku menyentuhmu
…”