“Mama,” gumam Navaya. “Nyonya,” sapa Benjamin. ‘Aku tahu kalau suatu saat nanti, aku akan menghadapi Ibu Mertua-ku di rumah ini. Tapi, kenapa dia harus datang sekarang? Kenapa harus di situasi seperti ini?’ batin Navaya merutuk. Tak membalas ucapan sang menantu dan Benjamin, Freya justru meneliti penampilan Navaya dari atas sampai bawah yang terlihat sedikit berantakan. Pakaian biasa, rambut lepek, kaki kotor, serta aroma yang sedikit tak sedap. Pandangan wanita paruh baya itu lalu beralih pada Ayu, Sartika, dan Benjamin yang membawa beberapa kantong keresek berisi bahan makanan. Kaki mereka bertiga pun ikut kotor seperti kaki Navaya. “Mama datang? Kapan Mama tiba?” tanya Navaya yang mencoba bersikap seolah tidak terjadi apa-apa. Akan tetapi, sepertinya perhatian Ibu mertua-nya tidak

