BRAK! Azka membanting pintu mobilnya ketika pria itu keluar dari mobil. Tatapannya tetap menghunus tajam ke depan dengan rahang yang mengetat. Langkahnya lebar masuk ke dalam rumah. “Selamat malam, Tuan,” sapa Benjamin yang hanya dihiraukan oleh Azka. Hingga membuat pria paruh baya itu terheran melihat sikap sang Tuan yang tak seperti biasanya. Bahkan hanya dengan melihatnya lewat pun mampu membuat sekujur tubuh Benjamin merinding seolah baru saja melihat penampakan halus yang diselimuti hawa dingin. Di lain sisi, Azka yang berada di lift memejamkan mata dengan kening mengerut, berusaha sekuat tenaga menekan emosinya agar tidak meledak. Kedua tangannya yang mengepal sampai bergetar karena amarah yang mendidih dalam dirinya. Tak butuh waktu lama, pria itu telah tiba di lantai 3. Tanpa

