Chessy menatap pantulan wajahnya melalui cermin meja riasnya. Saat ini, ia tengah bersiap-siap untuk pergi ke restorannya. Sudah beberapa hari belakangan ini Chessy tak pergi mengecek kondisi restorannya dan hanya mempercayakan orang kepercayaannya untuk memantau restoran miliknya. “Dibanding wanita sialann itu, jelas aku yang lebih cantik,” gumam Chessy sembari meneliti wajahnya. “Tapi, kenapa Azka justru memilih jalangg itu? Apa yang kurang dariku?” “Justru, aku lebih baik dari jalangg itu. Apa Azka sudah buta sampai memilih jalangg itu?” “Ck! Memikirkan masalah ini membuat kepalaku kembali sakit,” decaknya. Namun kemudian, ia menyeringai. “Tapi, aku tidak perlu khawatir. Tidak lama lagi, Azka pasti akan bertekuk lutut padaku.” Perhatian Chessy teralihkan ketika mendengar ponselnya

