Devan melajukan mobilnya menuju restoran Chessy dengan kecepatan tinggi setelah tak menemukan sang Kakak di apartemen. Tak butuh waktu lama, pria itu telah tiba di restoran milik Chessy yang malam ini lumayan ramai akan pengunjung. Tanpa basa-basi, Devan langsung masuk ke dalam dengan langkah lebar dan tegas. Pandangannya lurus ke depan tanpa menoleh sedikit pun. Tatapan pria itu tajam bak pedang yang siap menghunus siapa saja yang menghalangi jalannya. Sapaan dari para pelayan wanita yang telah lama mengagumi Devan karena wajah tampan pria itu pun diabaikan olehnya. Hingga membuat para pelayan tersebut menjadi bingung. Pasalnya, biasanya jika mendapat sapaan seperti itu, paling sedikit Devan akan membalas dengan senyuman. Namun kali ini, melirik mereka pun tidak. “Ada apa dengan Pak D

