Sontak, kedua tangan Azka mengepal erat ketika mendengar suara Rebecca memanggil namanya. Raut wajah pria itu berubah mengeras dengan tatapan tajam menghunus ke arah Rebecca yang tersenyum sendu padanya. Hingga membuat Prima yang menyadari perubahan raut wajah Azka menjadi merinding dan ingin segera kabur dari sana. “Pergilah,” pinta Azka seolah mengerti keinginan hati Prima. Tanpa menunggu lama, pria itu pun bergegas keluar dari ruangan Azka. Menyisakan Rebecca dan Azka di ruangan tersebut. Sepeninggal Prima, Azka langsung berkata dengan aura dingin, “Mau apa kau ke sini?” Nyut! Seolah ada tombak yang menerjang jantungnya. Rebecca merasa sangat sakit ketika mendengar Azka menyebutnya dengan kata ‘kau’, bukan ‘kamu’ seperti sebelumnya. Namun begitu, ia tetap memaksakan seulas senyum la

