Sean akui kualitas bahasa asingnya minim ketimbang Rahi. Tapi bukan berarti dia tidak mengerti apa yang Rahi ucapkan tadi. Hanya saja … Sean tidak sekekinian itu. Makanya dia cuma terkekeh dan membalasnya dengan, “Ada-ada aja kamu, Ra.” Ada-ada saja, katanya. Rahi meringis. Seperti terjadi error in person dia dalam meluncurkan gombalannya. “Om berapa sih umurnya?” Rahi kesal. “Tiga puluh dua, kenapa?” Rahi berdecak. Mendadak semuanya menjadi tidak seru. Alhasil dia memunggungi. Sudahlah, lebih baik tidur saja daripada makan hati. Kode kerasnya selama ini selalu mental dan tidak kunjung Sean accept. “Ra—” “Tidur, Om.” Sean membuang napas pelan, lalu meraih ponselnya untuk mencari jenis kata yang sekiranya mirip dengan kalimat Rahi tentang si Iwan. Sialan memang. Globalisasi membuat