Papa?
Suara deru nafas berat saling bersahutan. Gerakan liar mendominasi permainan gila dua orang di atas peraduan.
“Pak, jangan…” desah Aruna hampir yang tak bisa menguasai hasratnya sendiri.
“Kenapa, hem? Kamu menolakku?” Lelaki dominan itu tak mau mengalah. Terus mendesak dengan sentuhannya yang sangat lembut, namun menuntut.
“Saya ini cuma karyawan rendahan, Pak. Sedangkan Bapak adalah pemilik perusahaan. Kita nggak cocok. Saya nggak mau jadi mainan Bapak."
“Siapa yang bilang kita nggak cocok? Siapa yang bilang juga saya hanya akan mempermainkan kamu?” Tatapan lelaki atletis itu menghujam mata Aruna.
“Saya, Pak. Saya sadar diri. Dan pasti di luar sana juga banyak yang tidak menyukai hubungan kita.”
“Persetan dengan mereka semua. Kalau saya sukanya sama kamu, mereka bisa apa, hem?”
Aruna terhenyak, tapi dia hanya bisa berkedip-kedip lucu karena orang di atasnya itu tak memberinya kesempatan untuk bergerak.
“Ba—bapak suka sama saya?” gadis itu hanya ingin memastikan.
“Ya, Aruna. Saya mencintai kamu. Saya ingin memiliki kamu seutuhnya. Jadi, boleh ya saya melakukan? Saya sudah nggak tahan sama kamu,” mohon lelaki dominan itu.
Ah, bukan. Dia bukan sedang meminta, tapi lelaki itu sedang memaksa Aruna dengan caranya.
Sialnya, Aruna mengangguk dengan patuh. Logikanya sudah kalah dengan kebodohannya sendiri.
Lelaki itu tersenyum puas, tak ingin menyia-nyiakan waktu sedikitpun. Dia bergerak, mulai menunjukkan kelebihannya. Mendominasi Aruna yang pasrah di bawahnya.
“Tahan sedikit. Sakitnya nggak akan lama.”
Aruna mengangguk lagi. Dia memejamkan matanya menunggu sesuatu yang membuatnya penasaran luar biasa.
Sayangnya, dalam waktu sepersekian detik, bukannya nyeri di bagian itu yang dia dapatkan, melainkan sebuah kejutan yang menghantam sekujur tubuhnya.
Brugh.
“Akh!”
Suasana remang-remang romantis yang tadi tercipta, berganti cepat dengan dunia nyata setelah kepalanya membentur lantai.
Ya, Aruna baru saja terjatuh dari ranjangnya sendiri. Seketika itu, mimpi indahnya sirna ditelan kenyataan.
“Aduh… jidatku… Akh, pinggangku juga.” keluh gadis yang nyaris seperti orang bodoh itu.
Tok tok tok.
“Buka, Una! Kamu ini sebenarnya udah bangun belum?
Aruna terpaksa menoleh cepat ke arah pintu. Dari suaranya, sepertinya sang ibu bukan baru saja mengetuk pintu kamarnya. Mungkin, sudah sejak bermenit-menit yang lalu.
Sialnya, Aruna baru menyadari itu.
Tak punya pilihan lain, gadis itu berdecak sebentar sebelum akhirnya bangkit dengan sedikit sulit.
“Ah, sial! Gara-gara mimpi jorok, badanku sakit semua.” gumamnya sambil berjalan menuju pintu. Meregangkan tangannya, juga memegangi pinggangnya.
Tapi, karena dia tidak bisa berlama-lama membukakan pintu sebab tahu ibunya sedang kesal, gadis itu memilih mengesampingkan rasa sakit yang masih sedikit tersisa.
Ceklek.
“Iya, Bu. Una udah bangun kok.” Gadis itu cemberut kesal, merasa terganggu.
“Sebenarnya, kamu ini mau kerja apa enggak, hem? Tuh, Nak Darrel udah jemput kamu.”
“Darrel? Kok udah kesini?"
Aruna melakukan gerakan mengintip ke ruang tamu dari pintu kamarnya. Dan benar saja, dia menemukan Darrel terlihat menunggu dengan sikap canggung.
"Ya sudah dong, Na. kan emang Nak Darrel sering jemput setengah tujuh."
"Apa, Bu? setengah tujuh?" Gadis itu mendadak melotot.
“Hem… emang kamu pikir ini jam berapa?” Bu Marini terdengar sewot. “Udah sana, buruan mandi. Anak gadis kok jam segini baru bangun. Ibu kira kamu udah bangun dari tadi.”
Aruna mencebik lucu.
“Iya iya… tolong bilangin Darrel ya, Bu. Suruh tunggu Una sebentar.”
Karena memang tak ada waktu lagi, Aruna lekas membersihkan diri, meskipun waktunya cukup mepet.
Sekarang, sudah hampir jam 7 pagi, sementara dia masuk kerja jam 8 pagi.
Sambil mandi, dia merutuki dirinya sendiri yang bisa-bisanya memimpikan sosok Sagara Narendra Bhimantara, pemilik perusahaan tempatnya bekerja.
Semua itu salah Monik. Teman satu divisinya itu sering mencekokinya dengan hal-hal berbau dewasa yang dia dapat dari grup rumpi para karyawan perempuan.
Mereka yang sejatinya memang mengagungkan Sagara, sering membicarakan semua hal tentang lelaki itu, bahkan sampai hal-hal bersifat m***m sekalipun.
Dan karena semalam lagi-lagi Monik mengiriminya foto shirtless Sagara saat berada di kolam renang—yang entah dia dapatkan dari mana, alhasil pikiran kemana-mana Aruna dia bawa sampai alam mimpi.
“Sialan Mbak Monik. Udah tahu aku masih dibawah umur, tapi sengaja banget dia kasih lihat aku yang enggak-enggak.”
Dibandingkan terus menggerutu, Aruna memilih segera menyudahi aksi mandinya. Selain karena takut telat, sang kekasih juga sudah menunggu di luar sana dengan setia.
Pemuda yang dia pacari sejak hampir dua tahun lalu saat mereka masih SMA. Laki-laki yang juga memberi pekerjaan bagus untuk Aruna di perusahaan besar, padahal dia hanya lulusan SMA.
Kata Darrel, dia punya Om yang jadi Manajer HRD di Bhimantara Group. Makanya, dengan kekuatan orang dalam, Aruna yang belum mampu melanjutkan kuliah, bisa masuk ke tempat itu meskipun hanya menjadi staf administrasi saja.
“Maaf ya, Dar, nunggu lama. Hehehe, aku bangun kesiangan soalnya,” Aruna nyengir menyapa Darrel yang duduk di ruang tamu.
“Nggak apa-apa, Na.” Darrel berdiri dari duduknya, senyum manis terpatri di bibirnya sampai ke mata. “Ya udah yuk, berangkat sekarang biar nggak telat. Kamu udah sarapan?” tanya pemuda tampan itu.
Aruna menggeleng kecil, karena sebenarnya malu untuk jujur.
“Ya udah, nanti mampir beli di jalan aja ya. Terus, kamu bisa sarapan di kantor. Sana, pamitan dulu sama ibu.”
Aruna mengangguk. Tapi, baru saja dia membuka mulutnya hendak memanggil sang ibu, tiba-tiba suara mengejutkan datang dari arah pintu.
Brugh!
Aruna dan Darrel kompak menoleh. Rupanya, disana Herman—Ayah tiri Aruna sedang terjatuh di depan pintu.
“Bapak kamu, Na,” beritahu Darrel.
Aruna hanya tersenyum canggung karena malu. Lagi-lagi, Bapak tirinya berulah dengan pulang pagi-pagi begini dalam keadaan mabuk. Tidak dapat dipungkiri, bau alkohol cukup menyeruak di ruang tamu kecil itu.
“Em…”
“Biar ibu aja. Kalian berangkat sana.” Bu Marini cepat-cepat menyela ucapan anaknya. Sudah pasti, wanita itu juga malu karena apa yang terjadi dengan suaminya.
Aruna bergegas menarik Darrel keluar dari rumahnya. Dia tidak peduli kalau mereka harus melewati Herman yang sedang terkapar di depan pintu.
Aruna juga meminta Darrel cepat-cepat melajukan motor sportnya keluar dari kompleks perumahan subsidi yang sempit peninggalan Ayahnya.
“Em, Dar. Maaf ya, kamu harus lihat kejadian kayak tadi,” ucap pelan Aruna, dengan perasaan tak enak hati.
Darrel yang sibuk mengemudikan motornya menyempatkan diri menoleh, meski tak sampai berhasil menatap Aruna.
“Jangan khawatir, Na. Aku maklum kok. Aku justru khawatir sama kamu kalau masih tinggal sama Bapak tirimu terus.”
Aruna tersenyum tipis. “Nggak apa-apa, Dar. Bapak nggak pernah kelewat jahat kok sama aku. Paling cuma suka malak doang buat judi.” Gadis itu terkekeh miris.
Darrel melepas kopling di tangannya. Menyempatkan diri mengelus punggung tangan Aruna yang dia tarik dari belakang.
“Yang sabar ya, Na. Nanti, kalau kita udah nikah, kamu bisa bebas dari laki-laki seperti dia.”
Aruna mengangguk saja. Dia juga membiarkan Darrel mengelus tangannya karena jujur saja dia tersentuh karena perlakuan kecil itu.
“Udah yuk, jangan ngomongin Bapak kamu lagi. Kamu mau sarapan apa? Biar aku beliin.”
Aruna tersenyum haru di tengah rasa malu yang masih menyergapnya. Dia bersyukur, selain ibunya masih ada orang yang peduli kepadanya sebaik itu.
“Apa aja, Dar. Beli bubur ayam aja di depan sana.”
Darrel mengangguk tanpa protes. Dia benar-benar menuruti apa yang Aruna mau, dan biasanya memang selalu selalu seperti itu. Darrel sering men-treatment Aruna dengan segala perhatian dan kebaikan hatinya.
Ya, Aruna memang begitu beruntung mengenal Darrel. Dia yang notebenenya kaum mendang-mending, disukai Darrel yang merupakan anak orang berada. Semua berawal dari Darrel yang menjadi anak baru di sekolahnya yang biasa saja.
Katanya, Darrel pindah karena kenakalan yang dia lakukan di sekolah lamanya. Tapi, sejak Aruna kenal dekat dengan Darrel, dia tidak pernah mendapati pemuda itu nakal seperti yang orang-orang katakan.
“Nah, udah sampai. Buruan masuk! Biar punya waktu sarapan dulu,” ucap Darrel setelah menurunkan Aruna di depan lobby perusahaan.
Aruna mengangguk dengan full senyum. Sudah cukup lupa dengan kejadian Bapak tirinya tadi pagi.
“Makasih ya, Dar. Kamu langsung lanjut ke kampus?” Aruna juga merasa harus peduli kepada Darrel.
Darrel mengangguk manis. “Iya. Aku langsung ke kampus.”
“Ya udah, kalau gitu. Aku masuk dulu ya. Kamu hati-hati di jalan.”
Darrel baru saja tersenyum mengizinkan. Namun, belum sempat Aruna beranjak dari tempatnya, tiba-tiba seseorang sudah mengejutkan mereka.
“Darrel? Apa yang kamu lakukan disini?”
Melihat pemilik perusahaan datang, Aruna langsung membungkukkan tubuhnya secara otomatis.
Tapi, ada hal lain yang membuat gadis itu keheranan kenapa lelaki berwibawa itu mengenal Darrel.
Apa karena Omnya Darrel manager di perusahaan itu, jadi Sagara mengenalnya?
“Papa?”
Belum genap pikiran Aruna menyimpulkan segalanya, dia mendadak terhenyak.
Apa kata Darrel tadi?
Papa?
Tunggu! Tunggu! Dia nggak salah dengar kan? Darrel memanggil Sagara dengan sebutan Papa?