Senja di Semarang meredup, menyisakan jejak jingga yang memudar di balik gedung-gedung tinggi. Di dalam mobilnya, Amelia menatap lurus ke depan, ke arah Jalan Pahlawan yang basah, di mana lampu-lampu jalan memudar menjadi titik-titik cahaya yang berkilauan di kaca depan, seperti air mata yang membeku. Aroma tanah basah sehabis hujan bercampur dengan bau asap knalpot, menciptakan atmosfer melankolis yang sempurna untuk perasaannya yang remuk redam. Jari-jarinya mencengkeram erat setir, buku-buku jarinya memutih, seolah berusaha menahan seluruh kekacauan yang berkecamuk di dalam hatinya. Kilatan lampu lalu lintas yang berganti-ganti warna—hijau, kuning, merah—terasa seperti denyut jantungnya yang berpacu tak karuan, terperangkap di antara harapan dan kenyataan pahit. Pikirannya terus ber

