Pagi itu, Rumah Sakit Bhakti Husada terasa lebih dingin dari biasanya, seolah hawa dinginnya merasuk hingga ke tulang. Udara pagi di Semarang yang biasanya sejuk dan segar, kini terasa begitu menusuk dan berat di sini. Aroma antiseptik yang tajam menusuk hidung Amelia, seolah menempel di setiap serat pakaiannya, meresap ke dalam pori-pori kulitnya, tak bisa dihindari. Setiap napas terasa berat, dipenuhi bau rumah sakit yang menyesakkan.
Ia duduk kaku di kursi tunggu berwarna krem yang dingin, di koridor yang sepi. Matanya yang sembab tak lepas menatap pintu ruang ICU yang tertutup rapat, kaca buramnya tak memperlihatkan apa-apa. Di balik pintu itu, Bima berjuang untuk hidup. Di tangannya, selembar kertas diagnosis dari Dr. Surya terasa begitu berat, lebih berat dari beban dunia yang tiba-tiba menimpanya. Setiap garis tulisan di atas kertas itu, setiap istilah medis yang rumit, adalah pukulan baru bagi jiwanya yang sudah rapuh, mengukir luka yang dalam.
Tak lama, pintu ruang ICU terbuka perlahan, suara desisnya memecah keheningan yang mencekam. Dr. Surya keluar, wajahnya masih memancarkan keseriusan yang sama seperti semalam, bahkan mungkin lebih pekat, dilingkupi bayangan lelah. Amelia segera berdiri, kakinya terasa kaku dan berat, namun adrenalin membuat jantungnya berdegup tak karuan di dalam dadanya, berpacu seperti kuda yang ketakutan di tengah badai.
"Dokter, bagaimana kondisi Bima? Ada kabar baik?" suara Amelia tercekat, tenggorokannya terasa kering dan sakit. Ada sedikit harapan yang tersisa di suaranya, seperti nyala lilin di tengah badai, mencoba bertahan dari embusan angin kencang.
Dr. Surya menghela napas panjang, sorot matanya menunjukkan empati yang mendalam namun juga keputusasaan yang samar. Ia mengusap wajahnya yang lelah. "Kondisinya stabil, Bu Amelia, itu yang terpenting untuk saat ini. Kami berhasil menstabilkan detak jantungnya dan menguras sebagian cairan di paru-parunya. Tapi ini memang serius."
Ia berhenti sejenak, mengumpulkan kata-kata, seolah mencari cara paling lembut untuk menyampaikan kebenaran yang pahit. "Kami mendiagnosis Bima menderita kardiomiopati dilatasi tahap akhir. Jantungnya melemah dan membesar secara signifikan, ukurannya jauh melampaui normal. Ia tidak bisa lagi memompa darah dengan efisien ke seluruh tubuh, menyebabkan organ-organ lain juga terpengaruh. Cairan di paru-parunya juga akibat dari kondisi ini, karena jantung tidak mampu mengalirkan darah kembali dengan baik, menyebabkan penumpukan."
Amelia membekap mulutnya, napasnya tercekat, seolah ada tangan tak terlihat mencekiknya. Air mata kembali menganak sungai di pipinya, mengalir tanpa henti, membasahi kerudung dan pakaiannya. "Tahap akhir? Apa... apa yang bisa kami lakukan, Dokter? Apakah tidak ada harapan?" bisiknya, suaranya nyaris tak terdengar, diliputi horor yang membekukan. Kata 'tahap akhir' bergaung di kepalanya, menenggelamkan semua harapan, menghancurkan fondasi kehidupannya.
"Ada beberapa pilihan pengobatan, Bu," jelas Dr. Surya, berusaha memberikan secercah harapan. "Mulai dari medikasi intensif untuk memperkuat kerja jantung dan mengontrol gejala, berbagai terapi untuk membantu fungsi organ yang lain, hingga yang paling efektif dan potensial memberikan harapan hidup jangka panjang, adalah transplantasi jantung."
Dokter itu melanjutkan, nadanya profesional namun penuh empati, mencoba menenangkan Amelia. "Namun, perlu saya sampaikan, itu adalah prosedur yang sangat kompleks, membutuhkan teknologi tinggi, tim dokter spesialis yang besar, dan tentu saja, sangat mahal. Prosesnya panjang dan tidak sederhana."
Amelia merasakan dadanya sesak, nyeri yang tajam. "Mahal?" tanyanya, suaranya serak, nyaris tak percaya. Ia menelan ludah yang terasa seperti kerikil, sulit untuk menelannya. "Seberapa mahal, Dokter? Berapa angka pastinya?" Pertanyaan itu keluar dari bibirnya, meskipun ia sudah menduga jawabannya akan sangat menyakitkan, sebuah pukulan telak.
Dr. Surya meraih selembar kertas dari saku jasnya, selembar perkiraan biaya yang dicetak rapi dan profesional. Angka-angka di atasnya terlihat mengerikan. "Untuk medikasi intensif dan rawat inap jangka panjang, setidaknya di kisaran puluhan juta rupiah per bulan, Bu. Itu belum termasuk biaya tambahan jika ada komplikasi tak terduga, atau tindakan medis darurat lainnya."
Ia berhenti sejenak, menunjuk angka di kertas, matanya menatap Amelia dengan iba. "Dan untuk transplantasi, perkiraannya bisa mencapai miliaran rupiah. Itu belum termasuk biaya pasca-operasi yang juga sangat besar, rehabilitasi fisik dan mental, serta obat-obatan imunosupresan yang harus dikonsumsi seumur hidup agar tubuh tidak menolak organ baru. Semuanya bisa mencapai belasan miliar."
Miliaran rupiah. Angka itu seperti tamparan keras di wajah Amelia, membuatnya terhuyung, kehilangan pegangan. Kakinya lemas seketika, ia kembali terduduk di kursi tunggu yang dingin, seolah semua kekuatan telah meninggalkannya. Otaknya berputar, mencoba menghitung, namun angka itu terlalu besar untuk dibayangkan, tak terjangkau, seperti gunung es yang tak bisa didaki.
"Tapi... kami tidak punya uang sebanyak itu, Dokter," katanya, suaranya hampir putus asa, bercampur dengan isakan kecil. "Tabungan kami hanya... hanya cukup untuk beberapa bulan obat biasa, untuk kebutuhan sehari-hari kami, untuk membayar cicilan rumah." Amelia merasa air matanya tak akan pernah kering.
"Saya mengerti, Bu. Ini memang berat, dan saya turut prihatin," kata Dr. Surya dengan nada kasihan yang tulus. "Tapi waktu sangat penting untuk Bapak Bima. Jantungnya terus melemah. Setiap hari berarti..." Dr. Surya berhenti, tidak perlu melanjutkan kalimatnya. Tatapannya sudah cukup menjelaskan. Amelia paham. Setiap hari yang berlalu, setiap detik yang terbuang, berarti Bima semakin dekat dengan kematian, semakin dekat dengan jurang yang dalam. Badai yang disebutkan Dr. Surya kini terasa seperti tsunami yang akan menelannya hidup-hidup, tanpa sisa.
Setelah pertemuan yang menguras emosi itu, yang meninggalkan Amelia dalam kondisi syok dan hampa, dunia Amelia berubah menjadi pengejaran tanpa henti. Sebuah perlombaan melawan waktu yang kejam, di mana setiap detik adalah taruhan hidup dan mati. Ia mencoba menghubungi bank-bank besar di Semarang, mulai dari bank swasta hingga bank pemerintah. Ia mencari pinjaman, mencoba menggadaikan apa pun yang tersisa.
Di sebuah bank swasta besar di pusat kota Semarang, gedung pencakar langit dengan fasad kaca yang memantulkan langit biru, ia bertemu dengan seorang Pejabat Bank muda. Pria itu mengenakan setelan rapi, wajahnya ramah namun kaku, tanpa ekspresi emosi yang berarti. Meja kerjanya bersih dan teratur, kontras dengan kekacauan di hati Amelia.
"Dengan segala hormat, Bu Amelia, riwayat kredit Anda memang baik, itu nilai plus Anda," jelas Pejabat Bank, tangannya menunjuk ke deretan angka dan grafik di layar komputernya. "Tapi jumlah pinjaman yang Anda ajukan ini terlalu besar untuk jaminan yang Anda miliki saat ini. Rumah Anda sudah digadaikan untuk cicilan sebelumnya, bahkan belum lunas, dan pendapatan bulanan Anda, meskipun stabil, tidak mencukupi untuk jumlah sebesar itu." Ia menghela napas, nadanya berubah menjadi penyesalan profesional. "Maaf, Bu, tapi kami tidak bisa menyetujui pinjaman Anda. Risikonya terlalu besar bagi bank."
"Tapi ini darurat, Pak! Suami saya sekarat! Ini masalah hidup atau mati, bukan hanya sekadar pinjaman biasa!" Amelia memohon, suaranya putus asa, air mata kembali menggenang di pelupuk matanya. Ia berusaha menahan diri agar tidak menangis tersedu-sedu di depan meja bankir yang acuh tak acuh itu, menjaga martabatnya yang tersisa.
"Saya turut prihatin, Bu. Sungguh. Saya memahami situasi sulit Anda," jawabnya tegas, ekspresinya berubah dingin, kembali ke profesionalismenya. "Tapi prosedur kami sangat ketat dan tidak mengizinkan pengecualian dalam kasus seperti ini. Kami harus mematuhi aturan." Pintu itu tertutup di hadapannya, tak ada lagi celah.
Putus asa, Amelia mencoba menghubungi keluarganya di kampung halaman, sebuah desa kecil di lereng Gunung Ungaran. Ia menelepon Ibu Amelia. Suara Ibunya terdengar sedih dan parau di telepon, jauh dari keceriaan yang biasa. "Nak, Ibu dan Ayah tahu ini berat, sangat berat. Kami juga ingin membantu," isak Ibunya. "Tapi kami ini petani kecil, Nak. Uang sebanyak itu, dari mana? Hasil panen saja pas-pasan. Sudah coba jual ladang warisan? Tapi itu pun tak seberapa, Nak... hanya cukup untuk biaya sekolah adik-adikmu." Suara Ibu bergetar menahan tangis, Amelia bisa mendengar isakan samar di ujung telepon, menambah beban di hatinya.
"Tidak apa-apa, Bu. Amelia akan cari cara lain. Jangan khawatirkan aku," kata Amelia, mencoba terdengar tegar meski air matanya sudah membasahi bantal di sisi tempat tidurnya, mengukir jejak pahit di kain. Ia merasa sendirian dalam perjuangan ini, terdampar di tengah lautan keputusasaan tanpa perahu.
Ia bahkan memberanikan diri menelepon Vina, sahabat lamanya sejak kuliah di Universitas Diponegoro, yang kini bekerja di sebuah perusahaan multinasional di Jakarta. Vina adalah satu-satunya orang di luar keluarga yang ia percaya untuk berbagi beban seberat ini.
"Vina, aku... aku butuh bantuanmu," suara Amelia lirih, nyaris berbisik, takut jika mengucapkannya terlalu keras, semua akan terasa lebih nyata dan menyakitkan. "Mungkin kau tahu jalan keluar?"
"Amel? Astaga! Ada apa? Suaramu kok begitu? Kau baik-baik saja?" tanya Vina cemas, nada suaranya berubah panik mendengar kondisi Amelia. "Aku mungkin nggak punya uang sebanyak itu, Mel, tapi kalau ada yang bisa kubantu, bilang saja. Jangan sungkan sedikit pun."
Amelia menceritakan singkat kondisi Bima, tidak sampai pada detail nominal yang mencekik itu, ia tak sanggup mengucapkannya. "Aku butuh sangat banyak, Vina. Sangat banyak. Lebih dari yang bisa kau bayangkan. Ini tentang hidupnya Bima, Vina. Nyawanya."
Vina terdiam sejenak di ujung telepon, keheningan yang terasa berat dan panjang, dipenuhi napas tertahan. "Astaga, Amel. Aku benar-benar turut sedih mendengarnya. Ini berita yang sangat buruk. Aku akan coba tanyakan ke beberapa temanku, ya? Mungkin ada yang tahu solusinya, atau punya kenalan di bidang medis atau keuangan yang bisa membantu. Tapi aku nggak janji, Mel. Maaf sekali..." Nada suaranya penuh penyesalan, seolah ia juga merasa tak berdaya menghadapi gunung masalah ini.
Amelia hanya bisa mengangguk pasrah, meskipun Vina tidak bisa melihatnya. Ia tahu bahwa tidak ada lagi pintu yang bisa diketuk, tidak ada lagi jalan keluar yang terlihat, setiap upaya menemui jalan buntu. Ia memejamkan mata erat-erat, membiarkan kegelapan menelannya, seolah ingin menghilang dari kenyataan yang kejam. Angka miliaran rupiah itu terus mencekiknya, bayangannya begitu besar dan menakutkan, mengancam untuk merenggut Bima dari sisinya, mengambil satu-satunya sumber kebahagiaan dan cintanya. Ia merasa terjebak dalam sangkar emas yang tak bisa ditembus.
Ia harus menemukan cara, apapun caranya. Sekejam apa pun, sesulit apa pun, bahkan jika itu berarti mengorbankan segalanya. Demi Bima.