Bab 1: Badai di Atas Meja Makan

1365 Kata
"Amelia, sudah kubilang jangan terlalu banyak bekerja. Lihat, tubuhmu makin kurus saja," suara Bima terdengar hangat. Namun, kehangatan itu diselimuti kelelahan yang nyata. Batuk kecil yang menyertainya memecah keheningan makan malam mereka. Suara Bima, yang biasanya penuh vitalitas dan tawa, kini terdengar rapuh, seolah setiap kata harus diukir dengan susah payah dari paru-parunya yang lelah. Amelia tersenyum tipis, senyum yang tak mencapai matanya. Ada kekhawatiran yang samar di balik senyum itu. Ia meraih tangan suaminya yang terulur di atas meja. Jemarinya yang ramping mengelus punggung tangan Bima yang kini tampak lebih kurus. Urat-urat biru samar menonjol di sana, menampakkan kerapuhan yang tak biasa. "Aku baik-baik saja, Sayang. Hanya sedikit lembur," ujarnya lembut. Ia mencoba menyembunyikan kecemasannya di balik nada yang dipaksakan ceria. "Lagi pula, kau juga harus makan yang banyak. Jangan pilih-pilih begitu." Ia mencoba menyuapkan sesendok nasi lagi ke mulut Bima, berharap suaminya mau makan lebih banyak. Tapi batuk Bima tiba-tiba bertambah keras. Seluruh tubuhnya terguncang oleh guncangan yang dalam dan berulang. Wajahnya memerah padam, urat lehernya menegang dengan jelas. Amelia segera menyodorkan segelas air putih, tangannya sedikit gemetar. Air itu beriak pelan di dalam gelas, seperti cerminan gejolak di hatinya. "Sudah, Sayang, jangan dipaksakan. Nanti tambah parah batuknya," kata Amelia cemas. Ia mengelus punggung Bima dengan gerakan lembut, berharap sentuhannya bisa meredakan penderitaan suaminya. Aroma nasi dan lauk yang tadinya menggiurkan kini terasa hambar, tertelan oleh kepanikan yang merayapi hatinya, seperti kabut tebal yang tiba-tiba turun. Bima menggeleng, mencoba memaksakan senyum kecil, namun sorot matanya menunjukkan kelelahan yang mendalam, nyaris putus asa. "Tidak apa-apa. Mungkin hanya kecapekan." Ia menarik napas dalam, mencoba menenangkan diri, namun setiap tarikan napasnya terdengar berat, seperti desiran angin yang bergesekan dengan ranting-ranting kering di musim kemarau. Ruang makan sederhana mereka, yang biasanya dipenuhi tawa renyah, cerita-cerita harian, dan canda ringan, kini terasa diselimuti selimut kekhawatiran yang tebal dan mencekik. Lampu gantung di atas meja makan memancarkan cahaya kuning redup, namun suasana hati Amelia terasa gelap. Ia menatap Bima lekat-lekat, mengamati lingkaran hitam keunguan di bawah mata suaminya, serta bibirnya yang pucat pasi, nyaris tanpa warna. Perasaan tak enak yang sudah berminggu-minggu menghantuinya kini kembali menyelinap, jauh lebih kuat dan dingin, seperti es yang menusuk. Batuk itu, yang awalnya hanya sesekali dan dianggap flu biasa, kini sudah ada selama berminggu-minggu, semakin parah, semakin sering. Tak jarang disertai napas terengah-engah dan suara napas yang berbunyi seperti desah kesakitan. Amelia merasakan ketakutan yang dingin merayapi hatinya, menjalar dari ujung jari kaki hingga ke ubun-ubun. "Besok kita ke dokter lagi, ya? Aku mau kau diperiksa lebih teliti," bujuk Amelia. Suaranya mengandung permohonan yang mendalam, nyaris seperti ratapan. Ia merasa ada sesuatu yang jauh lebih serius di balik batuk kronis itu, firasat buruk yang terus-menerus menggerogoti ketenangan batinnya. Bima mengangguk lemah, tatapannya nanar, seolah pandangannya mulai kabur. "Tentu, Sayang. Asal kau tidak memarahiku lagi karena malas minum obat." Ia berusaha melucu, mencoba meringankan suasana yang menekan, namun suaranya serak dan nyaris tak terdengar, membuat lelucon itu terdengar seperti bisikan kesakitan yang memilukan. Mereka melanjutkan makan dalam diam, sebuah keheningan yang menyesakkan, dipenuhi oleh pikiran-pikiran yang tak terucapkan. Hanya diselingi suara denting sendok dan mangkuk yang terasa begitu keras dalam suasana yang tegang. Setiap kunyahan terasa seperti pasir di mulut Amelia, dan setiap napas Bima terasa seperti pukulan di dadanya, menggemakan kekhawatiran yang mendalam. Tiba-tiba, Bima terbatuk lagi. Kali ini lebih parah, lebih dalam, suara batuknya seperti robekan kasar di udara, membelah keheningan dengan kejam. Tubuhnya menegang, tersedak. Tangannya mencengkeram dadanya kuat-kuat, seolah berusaha menahan sesuatu yang ingin keluar dari sana, sesuatu yang menyakitkan dan mematikan. Wajahnya memucat pasi, bola matanya membelalak, pupilnya melebar karena rasa sakit dan kepanikan yang tiba-tiba melanda. Tubuhnya limbung, mulai miring ke samping, kehilangan keseimbangan. "Bima! Ada apa?!" Amelia menjerit panik, suaranya melengking tinggi, memecah keheningan mengerikan. Ia segera berdiri, menggeser kursi dengan kasar hingga menimbulkan suara decitan yang memekakkan. Ia menangkap tubuh suaminya yang mulai melorot dari kursi, berusaha menahannya agar tidak jatuh. Gelas di tangan Bima jatuh, pecah berderai di lantai, serpihannya berkilauan di bawah cahaya lampu yang redup. Pecahan kaca itu tampak seperti cerminan dari hati Amelia yang hancur berkeping-keping, tak bersisa. "A-Amelia..." Bima mencoba berucap, suaranya tercekat, napasnya tersengal-sengal, seperti ikan yang kehabisan air dan sedang sekarat. Matanya yang sebelumnya membelalak kini terpejam erat, kelopak matanya bergetar hebat. Tubuhnya ambruk sepenuhnya ke lantai, tak bergerak, seolah semua kehidupan telah meninggalkan raganya dalam sekejap mata. "Bima! Bima! Jangan tinggalkan aku!" Air mata Amelia langsung membanjiri pipinya, mengalir deras membasahi kerudungnya, membasahi lantai di bawahnya. Tangannya gemetar hebat saat ia mencoba mengguncang tubuh suaminya yang tak bergerak, mencoba membangunkannya dari mimpi buruk yang tiba-tiba menjadi kenyataan yang paling mengerikan. Detak jantungnya berpacu gila-gilaan di dalam dadanya, berdebum-debum seperti genderang perang yang ditabuh tanpa henti. Pikirannya kosong melompong, semua kenangan dan rencana masa depan seolah lenyap dalam sekejap. Hanya satu yang mengisi benaknya, menguasai seluruh indranya, berteriak tanpa suara: Bima tidak boleh meninggalkannya. Dengan sisa kekuatan yang ia miliki, Amelia berusaha menyeret Bima, atau setidaknya mengangkatnya sedikit dari lantai yang dingin. Namun, tubuh suaminya terasa begitu berat, seolah terbuat dari timah murni. Kakinya kaku, seperti mati rasa, tenaganya terkuras habis oleh panik yang melumpuhkan, mengikatnya di tempat. Dengan tangan gemetar tak terkendali, ia meraih ponsel yang tergeletak di meja, jemarinya bergetar hebat saat mendial nomor darurat, berkali-kali salah menekan tombol. "Tolong! Suami saya pingsan! Dia tidak sadarkan diri!" suaranya putus-putus, nyaris tak terdengar, seolah tenggorokannya tercekat oleh air mata. "Tolong cepat! Di Jalan Flamboyan, Nomor 12! Cepat!" Air matanya terus mengalir, membasahi layar ponsel, mengaburkan pandangannya. Beberapa menit kemudian, yang terasa seperti berabad-abad dalam keheningan yang mencekam, sirene ambulans meraung-raung. Suaranya semakin lama semakin keras, memecah kesunyian malam yang pekat di Semarang. Dua petugas medis bergegas masuk, membawa tandu. Wajah mereka menunjukkan keseriusan yang mendalam, tanpa senyuman. Amelia hanya bisa menangis sesenggukan, menunjuk ke arah Bima yang tergeletak tak berdaya di lantai. Dunia di sekelilingnya tampak buram, hanya fokusnya yang tertuju pada tubuh kaku Bima. Di dalam ambulans yang melaju kencang, membelah malam dengan kecepatan penuh, sirenenya meraung nyaring di jalanan yang basah oleh embun. Amelia menggenggam erat tangan Bima yang terasa dingin dan lemas, tanpa sedikit pun denyut kehidupan. Wajahnya basah oleh air mata, matanya tak lepas dari wajah pucat suaminya, seolah takut jika ia mengedip, Bima akan menghilang, lenyap seperti kabut. Ia memanjatkan doa dalam hati, doa-doa yang tak terucap namun penuh dengan permohonan dan keputusasaan yang mendalam, memohon agar ini semua hanyalah mimpi buruk yang akan berakhir ketika ia terbangun dari tidur yang panjang. Sesampainya di Rumah Sakit Umum Pusat Dr. Kariadi, Bima langsung dilarikan ke UGD. Pintu geser otomatis tertutup di hadapannya, menyisakan Amelia dalam ketidakpastian yang menyiksa. Amelia hanya bisa menunggu di luar, mondar-mandir tak karuan di koridor yang dingin dan sepi, aroma desinfektan menyengat hidungnya, menusuk hingga ke ulu hati. Setiap menit terasa seperti jarum yang menusuk jantungnya, setiap detik terasa seperti siksaan yang tak berujung. Lampu neon di langit-langit terasa begitu terang dan menusuk mata, namun pikirannya gelap gulita. Seorang dokter muda, Dr. Surya, mendekatinya dengan ekspresi serius, wajahnya memancarkan kelelahan yang mendalam. "Dengan Ibu Amelia, istri Bapak Bima?" tanya Dr. Surya pelan, suaranya tenang namun ada nada kasihan yang terselip. "Iya, Dokter. Bagaimana suami saya? Dia baik-baik saja, kan?" suara Amelia tercekat, tenggorokannya kering, suaranya bergetar hebat. Ia berusaha mengenyahkan pikiran-pikiran terburuk dari benaknya, mencoba meyakinkan dirinya bahwa semua akan baik-baik saja. Dr. Surya menarik napas panjang, tatapannya beralih ke lantai sejenak sebelum kembali menatap Amelia, seolah mencari kata-kata yang tepat. "Kami sudah melakukan pemeriksaan awal, Ibu. Kondisi Bapak Bima cukup mengkhawatirkan. Ada cairan di paru-parunya dan kami menduga ada masalah serius pada jantungnya. Kami harus segera melakukan serangkaian tes lanjutan untuk diagnosis pasti." Dunia Amelia runtuh seketika, hancur berkeping-keping menjadi serpihan tak berarti. Kata-kata "cairan di paru-paru" dan "masalah serius pada jantung" bergaung di telinganya, memekakkan, seperti guntur yang menyambar di tengah badai. Ini bukan hanya batuk biasa, bukan hanya kecapekan. Ini adalah awal dari badai yang sesungguhnya, badai yang akan menghancurkan seluruh kehidupannya, mengoyak masa depan yang telah mereka impikan bersama, membuangnya ke jurang kehampaan. Rasa dingin menjalar dari ujung kaki hingga ubun-ubun, membuatnya limbung, hampir jatuh. Ia tahu, dari sorot mata dokter, dari nada suaranya yang lembut namun penuh keseriusan, bahwa hidupnya tak akan pernah sama lagi.
Bacaan gratis untuk pengguna baru
Pindai untuk mengunduh app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Penulis
  • chap_listDaftar Isi
  • likeTAMBAHKAN