Radit mandi air dingin untuk meredakan pikiran mesumnya tentang Elina, semuanya gara-gara dirinya yang nekat ingin melihat Elina. Terpaksa dia harus seperti ini sekarang. Bahkan dia menyadari kesalahannya sekarang.
"Ah sialan Elina," umpat Radit yang memainkan adiknya sendiri sampai puas.
Membayangkan tubuh Elina yang memang sangat membuat dia mengubah seleranya. Dia benar-benar ingin bermain dengan wanita itu. Tetapi dia memikirkan cara yang baik untuk dia lakukan.
Setelah Radit bermain dengan puas, dia mengambil handuk dan membersihkan semuanya. Sampai dia keluar dari kamar mandi.
Dia merasa terkejut ketika melihat Elina yang ada di dalam kamarnya.
"Kenapa kamu ada di sini?" tanya Radit dengan tajam.
Elina meneguk salivanya ketika dia melihat perut kotak-kotak milik Radit yang memang sangat menggugah selera dirinya.
Dia tidak menyangka kalau akan melihat lekuk tubuh dari bosnya yang begitu sangat kekar. Membayangkan tubuh itu mengukung dirinya dengan begitu kasar. Membuat pikirannya kembali kotor sekarang.
"Maaf Pak Radit. Tadi kata pembantu yang ada di sana menyuruh saya masuk ke sini," ujar Elina.
Radit tersenyum dengan penuh arti ketika melihat Elina yang mengatakan itu dengan nada yang sedikit takut. Dia senang sekali ketika menggoda wanita itu sekarang.
"Apa kamu yakin Elina?" ujarnya sambil tersenyum dengan penuh arti dan menggoda wanita itu.
"Apa maksud Pak Radit?" tanya Elina dengan nada yang sedikit ketakutan. Dia khawatir kalau Radit akan melakukan sesuatu yang membuatnya merasa panas dingin saat ini.
"Tidak usah malu, kamu pasti sengaja masuk ke dalam kamar saya untuk menggoda saya, kan?" tanya Radit dengan santai.
Elina melotot ketika dituduh seperti itu oleh bosnya. Mana mungkin dia sampai berpikir seperti itu, apalagi melakukan hal tersebut dengan bosnya.
Itu sungguh diluar dugaan dirinya. Bahkan, dia tidak habis pikir dengan pandangan dirinya saat ini.
"Pak Radit dengan asal berasumsi seperti itu. Lagian saya juga tidak tahu kok kalau ini kamar pribadi milik Pak Radit," ujar Elina dengan mendengus kesal.
Radit menarik tangan Elina dengan cepat, membuat Elina kini ada di dekat dirinya. Radit menahan pinggang Elina agar wanita itu tidak kabur dari situ.
"Pak Radit, lepaskan," protes Elina.
"Kenapa, hm? Kamu benar-benar menggodaku," ujar Radit sambil berbisik halus di telinga Elina.
Sepertinya Radit sudah mulai menyadari titik sensitif dari wanita itu. Rasanya dia senang ketika menggoda wanita yang ada dihadapannya sekarang.
"Kenapa hm? Apa kamu tidak suka?" godanya sambil tersenyum manis. Dia sudah tidak sabar dengan yang terjadi selanjutnya.
"Pak Radit mesum." Elina akhirnya memberanikan dirinya dengan mengumpati bosnya.
Radit tidak perduli dengan apa yang dikatakan oleh Elina barusan. Dia langsung mendekatkan bibirnya dengan wanita itu dan melumatnya lembut.
Sentuhan demi sentuhan dia rasakan dengan lembut. Bahkan dia tidak habis pikir kalau semuanya akan jadi seperti ini.
"Kamu seperti menikmatinya Elina," bisik Radit membuat Elina kembali sadar dan wanita itu langsung menjauhkan dirinya dari Radit. Dia tidak mau kalau semuanya malah jadi seperti ini.
"Pak Radit jangan sembarangan yah."
"Kenapa? Aku tahu kalau kamu sudah lama tidak dengan suamimu. Begitu pun aku yang sudah tidak bersama dengan istriku," ujar Radit.
Elina yang mendengar itu pun jadi penasaran. Terlebih dia tadi mempertanyakan ibu dari Jiar. Dia masih penasaran dengan ibu dari bayi tersebut.
"Istri dari Pak Radit ke mana?" tanya Elina yang akhirnya menanyakan tentang hal ini.
Tetapi sepertinya istri dari bosnya itu bukan wanita yang bertanggung jawab. Buktinya Radit sampai mencari ibu s**u untuk anaknya. Bukannya unu sedikit atau aneh.
Radit yang ditanya seperti itu pun hanya tersenyum tipis. "Kamu baru penasaran sekarang, Elina."
"Memangnya kenapa? Kalau Pak Radit melakukan sesuatu pada saya, bukannya lebih mudah untuk saya melaporkan semuanya pada istri anda," ujar Elina.
Radit justru tertawa ketika mendengar ucapan dari Elina barusan. "Kamu lucu Elina. Ternyata kamu adalah tukang mengadu juga. Tetapi sayang sekali Elina, niat kamu tidak akan terlaksana karena istri saya sudah meninggal."
Deg
Elina menutup mulutnya dengan tidak percaya sama sekali. Dia baru mengetahui tentang fakta yang satu ini. Kalau istri dari bosnya itu sudah meninggal. Dia jadi sedikit merasa bersalah sekarang.
"Maaf Pak Radit. Saya tidak tahu sama sekali kalau istri anda sudah tidak ada," ujar Elina yang merasa sedikit bersalah sekarang. Dia sama sekali tidak tahu tentang hal yang satu ini.
Radit menghela napas panjang ketika mendengar hal tersebut. Sebenernya dia tidak ingin menceritakan semuanya pada Elina. Tetapi karena dia mengingat sesuatu, akhirnya dia memutuskan untuk memberitahu wanita itu.
"Iya tidak usah dipikirkan, lagian aku tidak mencintai wanita itu," ujar Radit dengan jujur.
Elina yang mendengar itu pun jadi penasaran, bagaimana mungkin laki-laki itu tidak mencintai istrinya.
"Pak Radit tidak mencintai istrinya sendiri? Saya tidak habis pikir kalau Pak Radit orang yang tidak punya perasaan sama sekali," sindir Elina.
"Kamu wanita yang tidak tahu apapun sama sekali, Elina. Jangan pernah mencoba menghina saya. Istriku berselingkuh dengan banyak pria, bahkan ketika dia tengah hamil Jiar."
Elina yang mendengar itu sedikit terkejut. Apalagi dia bisa melihat emosi yang ada dalam diri Radit. Tidak menyangka kalau bosnya itu mempunyai sisi gelap yang seperti ini.
"Maaf Pak Radit. Saya tidak tahu tentang hal ini. Saya tidak bermaksud untuk mengatakan itu."
"Sudahlah lagian kamu juga tidak tahu."
Radit mengatakan itu dan dia langsung mengambil baju milik dirinya dan dia mulai memakainya dengan perlahan.
"Kalau begitu saya permisi, tunggu diluar."
Elina merasa canggung dan dia akhirnya memutuskan untuk keluar dari kamar bosnya. Semuanya karena Lisa yang tadi malah menyuruh dia masuk ke dalam kamar ini.
Elina sendiri heran dengan Lisa yang sengaja menyuruh dia masuk ke dalam kamar bosnya. Bahkan Elina sendiri juga tidak tahu kalau ini adalah kamar bosnya.
Radit tersenyum tipis ketika melihat tingkah Elina yang menurut dirinya menarik. Dia tidak salah pilih sekarang, memang Elina wanita yang cocok dengan dirinya.
"Terlihat menarik. Dia akan menjadi milikku nanti," batin Radit sambil tersenyum menyeringai. Beruntung dia sudah menyuruh anak buahnya untuk menyelidiki tentang Elina dan kehidupan wanita itu.
Sekarang dia sudah menemukan bukti yang baik. Setidaknya semuanya sudah menjadi bukti yang kuat bagi dirinya sekarang.
"Menarik."
BERSAMBUNG