bc

Asi Untuk Bosku

book_age18+
450
IKUTI
5.4K
BACA
revenge
dark
contract marriage
family
HE
fated
arranged marriage
badboy
heir/heiress
blue collar
drama
sweet
kicking
city
office/work place
lies
assistant
like
intro-logo
Uraian

Elina Zanima ditawari bosnya untuk menyusui? Itu hal gila menurut Elina selama dia bekerja. Terlebih pikiran mesumnya sudah berkeliaran di otaknya itu. "Apa? Pak CEO butuh Asi." "Kamu akan dijadikan seorang sekertaris jika memenuhi semua persyaratan." Bagaimana nasib dari Elina? apa dia akan menerima tawaran gila tersebut? Apa yang akan terjadi dengan Elina selanjutnya?

chap-preview
Pratinjau gratis
Bab 1 Pak Radit Mau Apa?
Elina menatap dengan kesal ke arah Radit, CEO baru yang baru saja memaksanya untuk menerima tawaran kenaikan jabatan yang sebenarnya tidak pernah ia inginkan. Sebagian orang mungkin akan merasa bahagia dengan hal itu, terutama karena jabatan baru berarti lebih banyak pengakuan dan kesempatan. Namun, bagi Elina, ada sesuatu yang membuatnya tidak bisa begitu saja menerima perubahan ini. "Kenapa melamun, Elina?" Suara Radit yang berat membuat Elina terkejut. "Eh, iya maaf, Pak Radit." Tanpa banyak bicara, Elina menundukkan kepala dan mengikuti perintah untuk masuk ke ruang kerja pribadi Radit. Begitu berada di dalam, ia terperangah melihat tumpukan berkas yang menggunung di atas meja. Pekerjaan yang seharusnya menjadi tanggung jawab sekretarisnya kini dialihkan padanya. "Kerjakan semuanya dengan cepat," ujar Radit tanpa ragu. "Tapi, Pak... saya..." Elina hendak berargumen, namun Radit dengan cepat memotong kalimatnya. "Kenapa? Mau cari alasan lagi? Jangan sampai ada hal lain yang mengganggu kerjaanmu." Elina terdiam sejenak, merasa ada yang aneh dengan sikap Radit. Ia mengangkat sebelah alis. "Maksud Bapak bagaimana?" Radit mengalihkan pandangannya, lalu dengan nada santai berkata, "Sudah, jangan banyak bicara. Berkas-berkas itu harus segera selesai." Elina memilih untuk menahan segala pikirannya. Tidak ada gunanya menunda-nunda atau berbicara lebih banyak. Dalam diam, ia mulai menyusun berkas yang menumpuk di meja. Tugas ini sebenarnya bukan tanggung jawabnya, tetapi ia tahu, jika tidak segera menyelesaikannya, situasi ini bisa menjadi lebih buruk. Namun, tanpa Elina sadari, Radit memperhatikan setiap gerak-gerikannya. Matanya tak sengaja melirik ke arah lehernya yang tampak jenjang. Sesuatu dalam dirinya membuatnya merasa gelisah, pikirannya mulai berkelana. Radit menelan saliva dengan kesulitan, matanya mulai bergerak dengan pola yang tidak bisa dia kendalikan. Pikirannya melayang ke tempat-tempat yang seharusnya tidak ia bayangkan—berimajinasi tentang apa yang mungkin terjadi jika keadaan ini berbeda. Elina tampaknya fokus pada tugasnya, sementara Radit semakin tidak bisa menahan hasrat yang datang begitu mendalam. Mungkin, dalam benaknya, ada pikiran tentang kekuasaan dan kendali, tapi ia mencoba mengesampingkan perasaan itu untuk saat ini. Tapi, sesuatu dalam interaksi mereka yang terasa tegang ini, membuat keduanya berada di tepi ketegangan yang tak terucapkan. Akankah Elina menyadari apa yang sedang terjadi? Atau, apakah Radit bisa menahan diri dari godaan yang perlahan tumbuh di dalam hatinya? Dia memainkan bunda itu dengan membuka kancing baju kemeja yang digunakan oleh Elina Dia mempermainkan benda tersebut dan mencoba untuk menyentuhnya. "Pak Radit." "Ah iya." Radit mengumpat kesal, dia menggelengkan kepalanya ketika sadar tadi hanya melamun saja. Padahal dia membayangkan ketika main dengan Elina. Sial, Radit mengumpat dalam hati ketika dia hanya melamun saja. Dia sudah membayangkan bermain panas dengan Elina. Elina menaikan sebelah alisnya heran, dalam hati dia mengumpat kesal. Apalagi setelah melihat bosnya itu melamun. Memangnya apa yang ada di dalam pikiran laki-laki tersebut. "Pak Radita lagi mikir kotor yah?" tebak Elina. Radit langsung memalingkan wajahnya ke arah lain. Akan sangat memalukan jika dia mengatakan yang sebenarnya kepada Elina. "Tidak usah sok tahu kamu." Radit mengatakan itu dengan sedikit gugup. Elina malah tersenyum dengan penuh arti ketika mendengar hal tersebut. "sudah mengaku saja." Radit berdiri ketika Elina benar-benar menantang dirinya. Dia berjalan mendekati wanita itu dengan penuh keberanian. Dia memojokkan wanita itu sampai ke dekat mejanya. "Pak Radit mau ngapain?" tanya Elina yang tengah merasa gugup sekarang. Elina benar-benar tidak tahu harus melakukan apalagi setelah ini. Apalagi Elina menatap dirinya dengan penuh arti. Apa yang akan dilakukan oleh bosnya itu. "Menurut kamu, saya akan ngapain?" tanya Radit dengan jarak yang begitu sangat dekat. Membuat Elina merasa gugup sekarang. Radit mendekatkan wajahnya pada telinga Elina dan meniupnya membuat wanita itu merinding dan gugup. Jarak yang begitu sangat dekat dengan beberapa senti saja, membuat jantung Elina menjadi deg-degan. Ingat kalau dia sekarang adalah seorang singel peren, apa Radit sengaja ingin menggoda dirinya. "Kenapa gugup sekali?" bisik Radit pada telinga Elina. Elina tidak menjawab, dia malah berusaha untuk mendorong tubuh Radit agar jauh dari dirinya. Dia tidak mau kalau sampai jarak seperti ini membuat dia tidak tahan. "Jangan macam-macam yah Pak Radit atau saya akan teriak!" ujar Elina dengan nada yang sedikit mengancam. Apalagi dengan perlakuan dari Radit barusan. Radit hanya tersenyum miring sambil melirik kearah Elina yang ada dihadapannya. Dia mendekatkan tubuhnya kearah Elina dan mencoba untuk menggoda wanita itu. Radit menghirup aroma tubuh dari Elina yang begitu sangat memabukkan untuk dirinya. Sampai Radit menarik pinggang Elina dengan jarak mereka tinggal beberapa senti sama. "Tidak akan ada orang yang mendengar kamu beteriak di sini karena tempat ini kedap suara," kata Radit dengan santai. Elina tidak menyangka sama sekali kalau hal ini akan terjadi padanya. Rupanya ruangan ini sudah dipersiapkan oleh Radit. "Pak Radit." Elina tidak bisa berkata apalagi setelah ini. Radit mendekatkan wajahnya dan secara tiba-tiba dia sudah memberikan sebuah kecupan manis pada bibir wanita itu. Elina yang merasakan sensasi tersebut pun hanya memejamkan matanya. Dia tidak bisa mendeskripsikan sentuhan manis itu, sekolah membuat dirinya merasa melayang sekarang. Elina bahkan tidak menyadari kalau tangan Radit kini sudah berkeliaran menyentuh kemeja yang dia gunakan. Sebelum kesadaran dari Elina kini kembali. Dia langsung menyuruh bosnya itu sedikit menjauh dari dirinya. "Eh Pak Radit saya lupa belum menyelesaikan berkas itu," kata Elina yang menjauhi dirinya sendiri dari Radit. Elina menghela napas panjang setelah dia berhasil kabur dan kembali ke tempat duduknya. Hampir saja dia melakukan hal yang tidak-tidak tadi dengan bosnya. Radit mengumpat dirinya dalam hati, bisa-bisanya dia tadi lepas kendali seperti itu. Biasanya dia tidak lepas kendali, tetapi bersama dengan asisten barunya itu, dia tiba-tiba tidak bisa mengendalikan dirinya. "Erika," panggil Radit kembali. "Iya Pak Ramon?" tanya Elina kembali dengan nada yang sedikit santai. Dia tidak mau terlihat begitu canggung ketika dekat dengan bosnya tersebut. "Nanti kamu sebelum pulang, ke rumah saya dulu." "Mau ngapain Pak?" tanya Elina dengan was-was, dia khawatir kalau Radit akan melakukan sesuatu di rumahnya. "Saya yakin kalau kamu sudah mendengar rumor tentang saya, jadi turuti keinginan saya." Elina terdiam membeku ketika teringat kembali dengan percakapan antara teman-teman kantornya yang katanya Pak CEO membutuhkan Asi. Itu memang sangat konyol, dia kira itu hanya gurauan semata dari teman-temannya. Tetapi kalau memang benar seperti itu, dia sendiri yang akan merasa malu. Kalau dia tidak menuruti keinginan bosnya, tidak lucu kalau dia tiba-tiba dipecat. "Apa kamu keberatan Elina?" Elina terkejut ketika mendengar lagi pertanyaan tegas dari Radit. Sampai akhirnya dia hanya bisa mengangguk menuruti keinginan dari bosnya. "Eh baik Pak." Elina menjawab dengan cepat karena dia sedikit gugup. Tetapi pikiran dirinya sudah menjurus kearah lain, Radit memang pria dewasa dan terlihat begitu gagah, terlebih dengan otot kekar dibalik kemeja yang dia gunakan sekarang. "Bagaimana kalau bercinta dengan pria itu?" batin Elina dalam hati, sebelum kesadarannya kembali. "Kamu seperti menatap saya dengan pandangan lapar Elina, apa kamu mau sesuatu dari saya?" tanya Radit Deg Jantungnya tiba-tiba berdetak kencang. Dia terkejut ketika pandangan mata mereka bertemu satu sama lain. "Pak Radit mau apa?" BERSAMBUNG

editor-pick
Dreame-Pilihan editor

bc

Kali kedua

read
219.3K
bc

Sentuhan Semalam Sang Mafia

read
191.4K
bc

TERNODA

read
200.3K
bc

Dinikahi Karena Dendam

read
235.1K
bc

Terpaksa Menjadi Istri Kedua Bosku

read
18.7K
bc

Hasrat Meresahkan Pria Dewasa

read
32.5K
bc

Setelah 10 Tahun Berpisah

read
78.5K

Pindai untuk mengunduh app

download_iosApp Store
google icon
Google Play
Facebook