Bab 2 Hah Butuh Asi

1452 Kata
Elina baru saja menyelesaikan semua tugasnya dengan penuh hati-hati, namun ada sesuatu yang membuat pikirannya tak tenang. Tugasnya sudah selesai, tapi ucapan Radit tadi pagi masih terngiang di telinganya. "Sudah selesai?" tanya Radit sambil menyandarkan diri pada pintu ruangan Elina. "Iya Pak Radit. Semuanya sudah selesai," jawab Elina, berusaha tetap tenang meskipun dalam hati ada rasa cemas yang mulai merayap. "Kalau begitu, ikut dengan saya," ucap Radit, lalu melangkah ke pintu keluar dengan cepat, meninggalkan Elina yang masih terdiam beberapa detik. "Baik Pak Radit," jawab Elina akhirnya, merasa bingung tetapi tak ingin terlihat ragu. Ia pun mengikutinya. Namun, langkah kaki Elina yang terburu-buru itu tak terlepas dari pandangan orang-orang di sekelilingnya. Beberapa rekan kantornya menatapnya dengan mata penuh rasa penasaran. Ada yang tersenyum simpul, ada juga yang menggelengkan kepala seolah-olah tahu sesuatu yang tak diketahui Elina. Namun, ia hanya bisa melanjutkan langkahnya, berusaha menutup telinga dari bisikan-bisikan yang mulai memenuhi ruang kantornya. "Elina, semangat ya!" tiba-tiba terdengar suara Wita, teman satu divisi yang dulu selalu menemani Elina di saat-saat berat. Wita tersenyum lebar dari kejauhan, memandang Elina dengan pandangan penuh arti. Elina membalas dengan anggukan ringan, mencoba menyembunyikan rasa gelisah di dalam hatinya. Ia tahu Wita hanya ingin memberi semangat, tapi di balik senyum itu, Elina merasa ada yang kurang biasa. Tanpa banyak kata, Elina melangkah ke lift bersama Radit. Suasana kantor yang tadinya ramai dan penuh suara kini terasa begitu sunyi, seolah-olah waktu berhenti sejenak. Radit berdiri dengan tenang di depan pintu lift, sementara Elina hanya bisa menatap bayangannya di kaca lift yang perlahan tertutup. "Menarik," batin Radit dalam hati. Tiba-tiba Elina merasa bahwa ada sesuatu yang lebih dari sekedar tugas yang baru saja dia selesaikan. Ada rasa penasaran yang tak bisa dia abaikan. Mengapa Radit ingin menemaninya pulang? Mengapa semua orang di kantor tampak begitu memperhatikan mereka berdua? Saat pintu lift tertutup, Elina merasakan jantungnya berdebar lebih kencang. Mungkin saja, hari ini akan menjadi awal dari sebuah cerita yang tak pernah ia duga sebelumnya. Keheningan dalam lift terasa semakin tebal ketika Elina berdiri di samping Radit. Hanya ada suara detakan jantungnya yang begitu keras, seolah bersaing dengan ketegangan di udara. Radit tetap diam, hanya sesekali melirik ke arah Elina, namun ia tak mengucapkan sepatah kata pun. Entah mengapa, suasana ini membuat Elina semakin canggung. Mereka berdua terperangkap dalam ruang sempit itu, seolah dunia di luar sana sudah hilang begitu saja. Tiba-tiba, Radit mengeluarkan suara yang cukup keras untuk memecah keheningan itu. "Ekham," katanya, berdehem dengan nada yang tak biasa. Elina terkejut, menoleh dengan cepat ke arahnya. "Kenapa Pak Radit?" tanyanya, suaranya terdengar canggung, mencoba menyembunyikan rasa gelisah yang menggebu di dalam dadanya. Radit menatapnya dengan tatapan datar. "Kamu sudah tahu kalau saya sedang butuh asi," katanya dengan tenang, namun ada makna yang lebih dalam tersirat dalam kalimat itu. Elina memicingkan mata, tak percaya dengan apa yang baru saja didengarnya. "Apa maksud Pak Radit?" tanyanya, sedikit melotot, mencoba mencerna kata-kata itu. Rasa tak nyaman langsung menyelimutinya. Apa yang dimaksud Radit? Kenapa kata-kata itu terdengar begitu ambigu dan membingungkan? Radit hanya tersenyum tipis, seolah tak terburu-buru untuk menjelaskan lebih lanjut. Namun, tak lama setelah itu, gerakannya tiba-tiba berubah. Tanpa peringatan, dia mendekatkan tubuhnya ke arah Elina. Radit menyentuh pinggangnya dengan lembut, namun ada ketegangan dalam sentuhan itu. Dengan gerakan cepat dan penuh kepercayaan diri, wajahnya semakin dekat dengan wajah Elina. "Pak Radit, apa yang..." Belum sempat Elina menyelesaikan kata-katanya, bibir Radit sudah menyentuh bibirnya. Ciuman itu datang begitu mendalam dan tiba-tiba, membuat Elina terkejut dan hampir tak bisa bergerak. Deg. Jantung Elina berdegup kencang. Rasanya seolah seluruh dunia berhenti sejenak. Dia merasa terperangkap dalam momen itu, tak tahu harus berbuat apa. Rasa hangat dari ciuman itu menyusuri bibirnya, membingungkannya lebih jauh. Setiap gerakan dari Radit, setiap sentuhan pada bibirnya, seolah menghitung inci demi inci dengan penuh arti, menciptakan ketegangan yang semakin membesar. Elina tak bisa menahan rasa gugup yang merayap ke seluruh tubuhnya. Apa yang terjadi? Mengapa Radit melakukan ini? Tetapi, meskipun ada kebingungan yang menghantui pikirannya, tubuhnya terasa kaku, seolah tidak mampu melawan keadaan yang tak terduga ini Elina bahkan merasa hawa panas disekitar tubuhnya sekarang. Ramon memang orang yang luar biasa. Dia tidak bisa membayangkan kalau mulutnya akan dibungkum seperti itu. Euhgh Suara lenguhan Elina tidak bisa dibayangkan sebelumnya, dia bahkan tidak bisa berkata lagi setelah ini. Laki-laki yang ada dihadapannya memang terlalu panas dan dia tidak yakin kalau hal ini akan terjadi. "Kenapa Elina?" tanya Radit seolah mempermainkan wanita itu. Deg Radit melepaskan tautan bibirnya ketika Elina yang habis kehabisan napas. Bahkan bos mesumnya itu bertanya dia kenapa? "Pak Ra.." Belum sempat Elina hendak akan berkata dan protes, tiba-tiba Radit sudah kembali melumat bibirnya dengan cepat. Seolah memakan dirinya dengan seperti ini. Elina bahkan tidak bisa protes sama sekali setelah ini. Sampai tak lama kemudian pintu lift terbuka. Elina langsung melepaskan tautan bibirnya tersebut dan dia menyadari kalau banyak orang yang melihat adegan tersebut. "Ekhem." Radit tanpa berdosa sedikit pun akhirnya berdeham dan semua karyawan yang ada di sana langsung menunduk seolah tidak tahu apa yang sudah dilakukan oleh bos dan asistennya di dalam lift. Luar biasa sekali kekuatan dari pemimpin perusahaan ini, semua orang yang melihat kelakuan bosnya itu hanya diam tanpa protes. Mungkin karena mereka takut akan kehilangan pekerjaan mereka. "Kita lanjutkan di mobil saya," saran Radit. Elina melihat banyak orang yang menatap dirinya sinis, mungkin saja ada yang sampai mengira kalau dirinya w************n karena adegan tadi. Lagian kenapa juga tadi dia malah menikmati sentuhan tersebut? Harusnya dia tidak menikmatinya tetapi tubuhnya malah berkata lain. Seolah mengkhianati dirinya. "Eh iya." Radit menatap kearah Elina dengan sekilas ketika wanita itu sudah naik ke dalam mobilnya. "Kamu melamun Elina." "Tidak kok Pak," jawab Erika yang merasa canggung selepas ciuman panas itu. "Sudah mengaku saja, wajah kamu tidak bisa berbohong. Tadi menikmati sentuhan saya kan?" goda Radit membuat Elina malah melotot. Sudah dia duga kalau bos mesumnya itu pasti tengah merencanakan sesuatu. Dia harus berhati-hati dengan bos mesumnya itu. "Pak Radit jangan goda saya!" umpat Elina yang merasa malu. Elina memalingkan wajahnya ke jendela, rupanya bosnya itu terlalu percaya diri sekali. Bahkan dia sendiri tidak habis pikir dengan bosnya tersebut. Radit hanya tersenyum sekilas ketika melihat wajah Elina sekarang. Dia tahu apa yang terjadi dalam dirinya. Dia akan memanfaatkan moment nanti. Sampai sekitar 20 menit kemudian. Mobil yang ditumpangi oleh Elina dan Radit sudah berada di tempat tujuannya. "Kita sudah sampai?" tanya Elina ketika mobil yang dikendarai oleh Radit sudah berhenti. "Iya kita sudah sampai. Ayo turun. Saya akan menunjukkan sesuatu kepada kamu," ujar Radit. Elina tanpa berkata lagi, dia hanya mengangguk menuruti apa yang dikatakan oleh bosnya barusan. Dia juga sebenernya merasa penasaran dengan yang disebutkan bosnya. "Baiklah," ujar Elina yang pada akhirnya memutuskan untuk turun dari mobilnya Radit. Dia melihat pekarangan rumah yang begitu sangat luas. Lalu dia melirik kearah bosnya tersebut. "Apa ini rumah Pak Radit? Ini sangat luas sekali dari bayangan," ujar Elina ketika melihat rumah yang bisa dikatakan sangat luas tersebut. Membuat dia merasa nyaman dan tidak sabar ingin masuk ke dalam rumah tersebut. "Kenapa melamun di sana? Ayo masuk ke dalam!" perintahnya dengan nada yang sedikit agak tegas. "Eh iya." Elina akhirnya memutuskan untuk masuk ke dalam rumah Radit yang bisa terlihat sangat luas. Dia tidak menyangka kalau semuanya akan jadi seperti ini. "Jangan sungkan di rumah saya, nanti kamu juga harus pindah tinggal di sini," saran Radit yang membuat Elina sedikit terkejut dengan perkataan dari Radit barusan. "Maksud Pak Radit, bagaimana?" tanya Elina menaikan sebelah alisnya heran. Radit yang tadinya membelakangi Elina pun, kini menoleh kearah wanita itu sambil mengedipkan matanya. Seolah kini laki-laki itu menggoda dirinya. "Kamu tidak paham dengan yang saya katakan, Elina?" ujar Radit. Nyali Elina jadi ciut ketika mata elang tersebut yang menatap dirinya dengan tajam. Bahkan dia tidak habis pikir kalau semuanya jadi seperti ini. Elina berpikir untuk melakukan sesuatu, tetapi dia berusaha untuk menahannya sekarang. "iya Pak Radit." "Good girl, sebaiknya kamu memang harus menurut. Ada sesuatu lagi yang ingin saya kenalkan dengan kamu," ujar Radit yang kini berjalan menuju ke sebuah kamar. Elina sudah berpikir kotor ketika Radit yang kini berjalan mendekati arah pintu kamar. Apa yang ingin dikenalkan oleh Radit padanya? "Siapa yang ingin diperkenalkan?" "Juniorku," jawab Radit Elina yang mendengar itu pun langsung melotot tajam. Sepertinya memang benar, laki-laki itu sangat m***m sampai ingin memperkenalkan juniornya, memangnya sebesar apa junior milik bosnya itu. Elina jadi penasaran dengan bentuknya, sebelum akhirnya pikirannya sadar akan sesuatu. Jangan bilang kalau bosnya itu akan melakukan sesuatu padanya. "Untuk apa Pak Radit butuh ASI?" tanya Elina yang langsung refleks ketika menanyakan itu langsung. "Hei, maksudmu?" tanya Radit menatap Elina dengan pandangan horor. Sebelum sebuah jitakan pada kepala Elina tersebut dengar sedikit keras. "Kamu berpikir m***m tentang saya?" "Eh tidak Pak," jawab Elina yang seketika jadi gugup sekarang. BERSAMBUNG
Bacaan gratis untuk pengguna baru
Pindai untuk mengunduh app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Penulis
  • chap_listDaftar Isi
  • likeTAMBAHKAN