“Tapi aku nggak mau nikah!”
Asila menolak perkataan Dion.
Dion yang berdiri di dekat jendela tidak langsung menjawab. Dia menoleh perlahan. Tatapannya tenang, terlalu tenang.
“Kenapa emangnya kamu nggak mau nikah sama aku?” tanyanya.
Nada suaranya datar.
Asila berdiri dari kursi. Tangannya mengepal. Dia tidak terima hidupnya diatur oleh orang yang baru dikenal satu hari lalu.
“Karena aku belum siap nikah secepat ini,” katanya cepat.
“Aku masih pengin punya tujuan hidup sendiri. Aku nggak mau hidupku diatur orang lain, apalagi oleh orang yang baru aku kenal kemarin malam.”
Dion berjalan mendekat.
Asila sedikit gemetar, tapi berusaha berdiri tegap.
“Hidup yang seperti apa?” tanyanya.
Asila menelan ludah.
“Aku punya mimpi. Mimpi aku banyak banget.”
“Mimpi,” ulang Dion pelan, seolah mencerna kata itu.
“Aku mau bangun bisnisku sendiri,” lanjut Asila buru-buru.
“Aku mau berdiri di kaki sendiri. Aku mau bebas.”
Dion berhenti tepat di depannya. Jarak mereka terlalu dekat.
“Bebas seperti apa maksud kamu?” tanyanya.
Asila terdiam sepersekian detik.
“Iya… bebas. Bebas dari keterpaksaan orang asing.”
Dion menatapnya lama, lalu mengangguk perlahan.
“Oke. Aku setuju.”
Satu kalimat itu membuat Asila bengong.
“O… oke?” ulangnya ragu.
“Iya.”
Dion menyandarkan punggung ke meja.
“Aku nggak mau maksa kamu nurutin kemauan orang asing.”
Nada ucapannya justru bikin bulu kuduk Asila berdiri.
Asila menegakkan duduknya.
“Serius?” tanyanya.
“Hm. Aku serius,” jawab Dion.
“Tapi jangan salah paham.”
Asila mengernyit.
“Maksud kamu?”
“Aku nggak akan maksa kamu nikah sama aku,” kata Dion tenang.
“Tapi itu bukan berarti kamu aman tanpa perlindungan aku.”
Napas Asila tercekat. Air mata mulai menggenang.
“Kamu nggak bisa terus nekan aku kayak gini.”
Dion tersenyum tipis. Tatapannya tajam.
“Tekanan itu relatif, Asila.”
Dia meraih dompetnya, mengeluarkan kartu nama, lalu menyodorkannya.
“Ini kartu namaku. Ada nomor pribadiku.”
Asila ragu, tapi Dion berkata,
“Terima aja. Kalau kamu butuh bantuan, telepon aku.”
Asila menatap kartu itu lama, lalu menerimanya dengan tangan gemetar.
“Dan soal nikah,” lanjut Dion datar,
“itu bukan permintaan sepele.”
Asila mendongak cepat.
“Itu cadangan,” kata Dion tanpa ragu.
“Kalau suatu hari hidup kamu runtuh dan kamu nggak punya pegangan lagi.”
Asila menelan ludah.
“Kamu ngomongnya kayak aku pasti gagal tanpa kamu.”
Dion menatap lurus.
“Aku ngomong berdasarkan kenyataan.”
“Kamu jahat,” desis Asila.
Dion mengangguk kecil.
“Iya. Aku jahat. Tapi aku realistis.”
Pagi itu Dion mengantarkan Asila pulang ke kos.
Mobil berhenti di depan bangunan sempit dan kusam.
“Kamu yakin tetap mau tinggal di sini?” tanya Dion.
Asila mengangguk.
“Ini hidup aku. Kamu nggak usah ikut campur.”
Dion diam beberapa detik.
“Kalau Rasya datang lagi, dia nggak datang buat ngobrol santai.”
Asila menegang.
“Aku bisa urus diri sendiri,” jawabnya, meski suaranya goyah.
“Oke. Fine,” kata Dion.
“Tapi aku nggak yakin kalau kamu akan aman di sini.”
Asila turun cepat.
Saat hendak melangkah, kaca mobil Dion turun setengah.
“Asila.”
Dia menoleh.
“Tawaranku masih berlaku,” kata Dion.
“Bukan karena aku butuh kamu. Tapi karena kamu yang akan butuh aku.”
Mobil pergi.
Kalimat itu tertinggal di d**a Asila seperti kutukan.
Kamar kos terasa lebih sempit.
Lorong redup. Sunyi.
Begitu pintu tertutup, lutut Asila lemas.
Ponselnya bergetar.
Nama Rasya muncul.
(7) Missed Call
Getar lagi. Pesan masuk.
Rasya:
Asila, kenapa kamu kabur dari bar?!
Asila mengunci pintu dan mengganjalnya dengan meja lapuk.
(24) Missed Call
Rasya:
Kamu pikir ada yang bisa lindungin kamu?
Jantung Asila diremas ketakutan.
(74) Missed Call
Rasya:
Aku tahu kosan kamu. Jangan coba kabur, Sayang…
Dunia Asila runtuh.
Dia mengeluarkan kartu nama Dion. Tangannya gemetar.
“Aku nggak mau…” bisiknya.
“Aku nggak mau terikat sama dia…”
Ponsel bergetar lagi.
Rasya:
Buka pintu. Sekarang!!!
Asila menekan tombol hijau.
Nada sambung.
Satu.
Dua.
“Ya.”
Suara Dion datar.
Asila terisak.
“Dion… aku butuh bantuan kamu sekarang.”
Hening sejenak.
Lalu Dion berkata pelan, sangat tenang,
“Kan aku sudah bilang tadi, Asila.”
“Oke. Dengar baik-baik,” lanjutnya.
“Jangan tutup telepon.”
“Kamu di mana?”
“Di jalan,” jawab Dion.
“Menuju kos kamu.”
Asila tercekat.
“Dion…”