Keputusan Bodoh
BRAK! Wiiu… wiiu… wiiu!
Suara itu menyayat telinga.
Seorang gadis kecil tampak duduk meringkuk dan menangis di samping jenazah orang tuanya.
“Ayah…! Ibu…! Jangan tinggalin Sila sendirian…!”
Tiba-tiba,
“YA TUHAN…!”
“Cuma mimpi ternyata…”
Asila menghela napas panjang, tetapi air matanya tetap menetes.
“Semangat, hari ini hari pertama kerja,” gumam Asila.
Asila berangkat kerja dengan penuh semangat. Layar ponselnya menyala, nama Reni terpampang di layar.
Reni: Nanti waktu istirahat makan siang aku traktir, di kafe biasanya.
Asila: Oke.
Di kafe, Reni menyenggol lengannya sambil tertawa kecil.
“Eh, Sil, kamu itu emang jomblo dari lahir, ya? Kok aku nggak pernah lihat kamu gandeng cowok, sih?”
Nada Reni bercanda, tetapi cukup membuat d**a Asila terasa diremas.
“Emang kenapa kalau jomblo, Ren?
Dosa, ya?”
Reni langsung merasa nggak enak.
“Bukannya gitu, tapi lihat deh kamu tuh cantik, cantik banget malah. Kayak artis Korea yang namanya Suzy itu, lho. Rambut panjang, kulit putih. Kurang apa lagi coba?”
“Mungkin aku cuma kurang hoki aja…”
Asila tersenyum, meski hatinya terasa perih.
“Eh, aku punya teman, Sil. Ganteng, mapan. Kayaknya cocok deh sama kamu. Nanti aku kenalin, ya. Pasti kamu suka.”
“Ya nggak apa-apa sih… jangan ngenalin cowok yang aneh-aneh, ya.”
“Beres. Pasti cowok baik-baik, kok.”
Reni nyengir sambil menyeruput es tehnya yang tinggal setengah.
Asila melamun, memandang jauh ke seberang kafe, membayangkan hidupnya yang tak pernah jauh dari kata susah.
Tiba-tiba telepon berdering.
“SILAA! KAPAN KAMU BALIK KE TOKO?! INI PEMBELI SUDAH ANTRI!”
“Baik, Bu. Ini juga mau balik, masih makan.”
“CEPAT BALIK!”
Asila menghela napas panjang.
“Ren, aku balik kerja dulu, ya. Sudah dicari sama bu bos. Toko lagi ramai.”
Reni ikut berdiri.
“Oke. Nanti aku kabarin kalau temanku mau ketemu sama kamu.”
“Hm.”
Asila menyalakan sepeda motornya dan,
Jedeg… jedeg… jedeg…
“Ya Tuhan, cobaan apalagi ini…”
Asila mendorong sepedanya ke bengkel pinggir jalan.
“Pak, sepedanya mogok. Tolong dicek, ya.”
“Siap, Neng.”
Telepon kembali berdering.
“Sila, kamu emang kurang ajar, ya! Katanya balik sebentar, ini sudah setengah jam!”
“Tapi, Bu,”
“Udah! Nggak usah balik ke sini lagi. Kamu saya PECAT!”
Asila terdiam.
Baru kerja sehari.
Sepeda mogok.
Dipecat.
“Ya Tuhan…”
Setelah sepedanya selesai diperbaiki, Asila pulang ke kos.
Telepon berdering lagi.
Reni.
“Ada apa, Ren?”
“Nanti malam kita ketemu di kafe biasanya.”
“Ren,”
“Jangan telat!”
Telepon ditutup sepihak.
Malamnya, Asila datang mengenakan dress sederhana. Murah, tapi rapi. Tetap membuatnya terlihat cantik.
“Sila, kenalin. Ini Rasya.”
Asila terkejut melihat Reni datang bersama seorang cowok.
Tinggi. Rapi. Senyumnya tipis, tapi bikin deg-degan. Wanginya enak. Bajunya simpel, tapi terlihat mahal.
Tatapan Rasya menyapu Asila dari ujung rambut sampai kaki. Bukan tatapan biasa.
“Halo,” katanya. Suaranya rendah dan tenang.
“Kamu Asila, ya?”
“I-iya.”
Asila refleks berdiri.
“Namaku Rasya.”
Ia menjabat tangan Asila dengan lembut.
“Nah, tuh,” ujar Reni nyengir.
“Akhirnya ada juga yang nyantol.”
Asila nyubit lengan Reni pelan.
“Malu, tau!”
Rasya tertawa kecil.
“Tenang. Aku nggak gigit, kok.”
Asila tersenyum, meski jantungnya berdebar.
Malam itu, Rasya duduk di sebelah Asila.
Ngobrol santai. Tapi buat Asila, itu pertama kalinya ada cowok seperhatian itu.
“Kamu belum pernah pacaran, ya?” tanya Rasya santai.
Asila tertawa kikuk. Dia melihat Reni sekilas.
“Pasti Reni ya yang bilang..”
“Iya. Aku belum pernah ketemu cowok yang baik.”
Rasya terlihat kaget.
“Serius?”
“Iya.”
“Kenapa kok bisa belum pernah pacaran?”
Asila mengangkat bahu.
“Nggak tahu. Mungkin belum waktunya.”
Rasya diam sebentar.
Tatapannya ke Asila berubah.
“Kamu kelihatan polos banget,” gumam Rasya pelan.
“Hah?”
“Nggak. Maksud aku… kamu beda dari cewek lainnya, gitu.”
Asila tersenyum kecil. Ada perasaan yang berbeda. Itu perhatian.
Sejak malam itu, Rasya sering chat.
Rasya: Kamu udah makan belum?
Asila: Udah
Rasya: Jangan telat tidur ya…
Asila: Hehe iya… Kamu juga jangan kurang tidur, nanti lemes lho..
Hal-hal receh yang membuat Asila merasa diperhatikan.
Tiga minggu.
Empat minggu.
Rasya nggak pernah maksa.
Nggak pernah ngajak aneh-aneh.
Dan justru itu yang bikin Asila percaya.
“Asila, kamu mau nggak jalan sama aku?”
Asila bengong.
“Jalan?”
“Iya. Kita jalan-jalan kayak ngedate gitu. Kamu mau nggak?”
Asila ragu.
“Mau jalan ke mana?”
Rasya mengetik.
Rasya: Di tempat temen aku. Nggak papa, sekalian nanti aku kenalin ke temen aku.
Perasaan Asila nggak enak.
“Tempatnya seperti apa?” tanyanya lagi.
“Bar kecil. Tapi bukan yang aneh-aneh, cuma tempat orang-orang hang out.”
Asila kaget.
“Bar?”
“Iya. Tapi cuma duduk-duduk aja. Minum soft drink. Aku jagain kamu, jangan takut.”
Asila hampir menolak ajakan Rasya.
Tapi kata aku jagain bikin hatinya melemah.
“Oke,” balasnya akhirnya.
Dan di situlah…
kesalahan pertama Asila dimulai.
Bar itu gelap.
Lampunya remang-remang.
Musiknya pelan tapi berat di telinga.
Asila berdiri kaku di pintu.
“Tenang,” kata Rasya sambil merangkul bahu Asila.
“Nggak akan ada apa-apa, kok.”
Dia menuruti permintaan Rasya.
Padahal tubuhnya sudah ingin kabur.
Beberapa pria menoleh.
Tatapan mereka lambat ke arah Asila, tersenyum tipis.
Bukan tatapan penasaran.
Tapi tatapan seperti memilih barang di mal.
“Ras…” Asila berbisik.
“Kayaknya aku nggak nyaman, deh.”
Rasya tersenyum.
“Biasa aja. Mereka cuma sedang menikmati malam.”
Mereka akhirnya duduk di pojok bar.
Rasya pesan minum soft drink.
Asila cuma pesan air putih.
Seorang pria setengah baya mendekat.
Berjas. Perut buncit. Dan matanya licin.
Senyumnya bikin mual.
“Ini yang kamu bilang kemarin?”
Pria itu menatap Asila tanpa malu.
Asila kaku.
“Ras…?”
Rasya tertawa kecil.
“Iya, Om. Cantik, kan?”
Jantung Asila bergetar.
“Hah?”
“Rasya, ini maksudnya apa?”
Rasya tidak mempedulikan perkataan Asila.
“Eh, aku ke toilet bentar ya, Sil.”
Rasya berdiri. Pergi. Dan nggak balik lagi.
Asila berdiri panik. Matanya mencari keberadaan Rasya ke mana-mana.
“Ras?”
“Rasya?”
Nggak ada jawaban.
Nggak ada pertolongan.
Pria itu duduk di depan Asila. Senyumnya makin lebar.
“Tenang, sayang..” katanya.
“Kita ngobrol dulu di sini sebentar.”
Pria itu duduk di samping Asila.
Asila gemetar.
“T-tunggu… saya mau pulang.”
Pria itu memegang pergelangan tangan Asila.
“Duduk dulu dong. Emang mau ke mana sih? Kok gelisah gitu.”
Asila menarik tangannya.
Air matanya mulai jatuh.
“Rasya…”
suaranya pecah.