Keputusan Bodoh Yang Menghancurkanku
Asila tahu ada yang salah sejak pertama kali ia membuka mata pagi itu.
Bukan karena mimpi buruk yang membuat dadanya sesak.
Bukan karena keringat dingin yang masih menempel di tengkuknya.
Tapi karena perasaan aneh yang menggantung di dadanya.
Perasaan yang sulit dijelaskan.
Ia duduk di tepi kasur kos yang sempit, menatap jendela kecil di depannya.
Cahaya matahari pagi masuk samar, memantul di lantai keramik yang dingin.
Asila mengusap wajahnya pelan.
Mimpi itu lagi.
Kecelakaan.
Lampu merah biru.
Suara sirene yang menjerit.
Dan tubuh kedua orang tuanya yang tidak pernah bangun lagi.
Ia menarik napas panjang.
“Sudah… cukup.”
Hari ini seharusnya menjadi awal baru.
Hari pertama kerjanya di toko elektronik kecil di pusat kota.
Bukan pekerjaan impian.
Tapi cukup untuk membayar kos.
Cukup untuk makan.
Cukup untuk hidup.
Dan untuk seseorang seperti Asila, kata “cukup” sudah terasa seperti keberuntungan.
Ia berdiri, merapikan rambut panjangnya, lalu mengambil tas.
Ponselnya bergetar di meja kecil.
Nama Reni muncul di layar.
“Sila, nanti makan siang bareng ya,” suara Reni terdengar ceria begitu telepon diangkat.
Asila tersenyum kecil.
“Oke.”
Ia tidak tahu bahwa hari itu akan menjadi hari paling sial dalam hidupnya.
Toko tempatnya bekerja ternyata lebih ramai dari yang ia bayangkan.
Pelanggan keluar masuk.
Suara kasir.
Kotak-kotak barang yang ditumpuk.
Asila baru saja mengenakan seragam ketika suara keras memanggil namanya.
“Asila!”
Ia menoleh cepat.
“Iya, Bu?”
Pemilik toko menatapnya dengan alis terangkat.
“Kamu tahu jam berapa sekarang?”
Asila mengerutkan kening.
“Tepat waktu, Bu.”
Wanita itu tertawa pendek.
“Tepat waktu menurut siapa?”
Beberapa pegawai lain mulai memperhatikan.
“Bu, saya datang sesuai jadwal.”
Wanita itu melipat tangan.
“Saya tidak suka pegawai yang suka membantah.”
Asila membeku.
Ia belum sempat bekerja.
Belum sempat melakukan apa pun.
Namun suasana sudah terasa salah.
“Tapi saya baru mulai…”
“Justru itu,” potong wanita itu dingin.
“Kalau hari pertama saja sudah seperti ini, saya tidak mau ambil risiko.”
Jantung Asila berdetak lebih cepat.
Sesuatu di perutnya terasa jatuh.
“Mulai sekarang kamu tidak perlu kerja di sini.”
Kalimat itu terasa seperti tamparan.
Asila menatapnya beberapa detik.
“Saya… dipecat?”
Wanita itu bahkan tidak ragu.
“Iya.”
Ia menunjuk pintu.
“Keluar.”
Tidak ada kesempatan menjelaskan.
Tidak ada kesempatan mencoba.
Hanya satu keputusan.
Selesai.
Asila berdiri di trotoar beberapa menit kemudian.
Masih mengenakan seragam yang bahkan belum sempat ia pakai bekerja.
Angin siang berhembus pelan.
Suara kendaraan lewat.
Hidup orang-orang tetap berjalan.
Seolah tidak ada yang berubah.
Padahal bagi Asila, satu pintu baru saja tertutup.
Ia menarik napas panjang.
“Tidak apa-apa…”
Namun kata-kata itu terasa kosong.
Ia menyalakan motor tuanya dan melaju perlahan keluar dari area pertokoan.
Namun beberapa menit kemudian—
perasaan aneh itu kembali.
Seperti ada yang mengawasi.
Asila melirik kaca spion.
Dua pria di motor lain.
Awalnya ia tidak terlalu memikirkan.
Sampai salah satu dari mereka menunjuk.
“ITU DIA!”
Jantung Asila langsung berdebar keras.
Motor mereka berbelok mengikuti jalannya.
Gas motor mereka ditarik lebih kencang.
Ke arah Asila.
Napasnya tiba-tiba terasa berat.
“Apa mereka… mengejarku?”
Ia mencoba menenangkan diri.
Mungkin hanya kebetulan.
Mungkin mereka juga lewat jalan yang sama.
Namun ketika ia membelok ke gang kecil—
motor itu ikut masuk.
Dan ketika ia mempercepat laju—
mereka juga.
Sekarang tidak ada keraguan lagi.
Mereka benar-benar mengejarnya.
Jantung Asila berdetak semakin keras.
Tangannya mulai berkeringat di setang motor.
“Aku tidak kenal mereka…”
“Kenapa mereka mengejarku?”
Ia berbelok lagi.
Gang semakin sempit.
Tembok tinggi di kanan kiri.
Dan tiba-tiba—
jalan itu buntu.
Motor Asila berhenti mendadak.
Mesinnya masih menyala, tapi tubuhnya tidak bergerak.
Suara motor lain berhenti di belakangnya.
Ia tidak perlu menoleh untuk tahu mereka sudah turun.
Langkah kaki mendekat.
Pelan.
Santai.
Seolah mereka tidak terburu-buru sama sekali.
“Asila.”
Namanya disebut.
Tubuhnya langsung kaku.
Perlahan ia menoleh.
Dua pria berdiri beberapa meter darinya.
Salah satu dari mereka tersenyum.
Senyum yang membuat perutnya terasa mual.
“Kami akhirnya menemukanmu.”
Jantung Asila terasa jatuh.
“A-aku tidak kenal kalian…”
Pria itu tertawa pelan.
“Tapi kami kenal kamu.”
Ia melangkah lebih dekat.
“Rasya mengirim kami.”
Nama itu membuat darah Asila seperti berhenti mengalir.
Rasya.
Pria yang selama ini mengirim pesan manis setiap malam.
Pria yang bilang akan menjaganya.
“Kenapa…?” suara Asila hampir tidak terdengar.
Pria itu memiringkan kepala.
Seolah pertanyaan itu lucu.
“Karena kamu barang yang belum dibayar.”
Dunia terasa runtuh tepat di bawah kaki Asila.