“Dia nelpon lagi,” bisik Asila sambil terduduk lemas di lantai, punggungnya menempel ke pintu kamar.
“Jangan diangkat,” suara Dion terdengar dingin di seberang.
“Sekarang kamu dengerin aku.”
Asila mengangguk meski Dion tak bisa melihatnya.
“Kamu masih di kamar kamu, kan?”
“Iya.”
“Pintu udah kamu kunci?”
“Iya… aku ganjel juga pakai meja.”
“Oke.”
Nada Dion datar. Terlalu tenang untuk situasi genting seperti ini.
“Kamu jangan pernah keluar, jangan bersuara, dan jangan buka pintu buat siapa pun,” lanjutnya.
“Termasuk kalau dia maksa buat masuk.”
HP Asila langsung bergetar.
(100) Missed Call: Rasya
Asila menutup mata. Air matanya jatuh tanpa bisa dibendung lagi.
“Aku takut…” bisiknya di telepon.
“Aku tahu kamu takut,” jawab Dion.
“Tapi rasa takut itu jangan bikin kamu jadi bodoh.”
Kalimat itu menusuk, tapi justru membuat Asila menelan tangisnya.
Terdengar suara mesin mobil dari HP Dion. Dia sedang menyetir.
“Dion… kalau dia masuk paksa gimana?”
“Dia nggak akan berani,” jawab Dion cepat.
“Kalau dia berani…”
Dia berhenti sebentar.
“…aku pastikan dia akan menyesal seumur hidupnya.”
Asila bergidik ngeri.
“Ya Tuhan… kenapa hidupku jadi tragis begini…”
Tok. Tok. Tok.
Ketukan pelan di pintu kamar. Tubuh Asila membeku. Dia tidak berani bergerak.
“Dion…”
Suaranya hampir tak terdengar.
“Jangan bersuara. Diam!” kata Dion setengah membentak.
“Kamu dengar suara ketukan?”
“Aku dengar jelas suaranya…”
Tok. Tok. Tok.
“Asilaaa,” suara Rasya terdengar santai dari luar.
“Kamu nggak usah banyak drama, deh.”
Air mata Asila jatuh lebih deras. Dia meringkuk di balik pintu.
“Dia di luar, Dion…”
“Iya… kamu tenang dulu,” suara Dion mengeras.
“Sekarang fokus ke suara aku aja.”
Tok. Tok. Tok.
Ketukan Rasya terdengar lebih keras.
“Asila, buka pintu. Kita bisa ngobrol baik-baik,” kata Rasya.
“Kamu nggak akan aku sakitin, kok. Selama kamu nurutin perintahku.”
Dion mendengus pelan di telepon.
“Hem… dasar berengsek manipulatif.”
“Dia ngomong lagi. Dia nyuruh aku keluar.”
“Diam,” potong Dion.
“Kamu jangan balas satu kata pun. Dia makin ngejar kamu buat keluar nanti.”
Tok. Tok. Tok.
Gedoran mulai terasa.
“Sila,” suara Rasya berubah rendah.
“Aku capek bolak-balik nelpon kamu. Tapi nggak ada yang kamu angkat.”
Asila meringkuk, memeluk lututnya erat-erat.
“Buka pintunya sekarang,” ancam Rasya.
“Atau kamu mau aku buka sendiri pintunya…”
“Dengan paksa!!!”
Asila menjerit pelan.
“Dion…”
“Aku nyampe ke sana lima menit lagi,” kata Dion cepat.
“Kamu tahan dulu. Jangan buka pintu!”
BRAKKK!!!
Pintu kamar bergetar.
Asila terisak keras. Dia membekap mulutnya dengan kedua tangan agar suaranya tidak terdengar.
“Sil,” suara Rasya terdengar dingin.
“Kamu nggak mau bikin aku marah, kan?”
“Nanti kamu nyesel, lho…”
“Rasya, pergi kamu sana! Aku nggak mau ketemu sama kamu lagi!!!” teriak Asila akhirnya.
Suaranya pecah.
Hening sesaat.
Lalu tawa kecil terdengar.
“Oh, jadi sekarang kamu berani nolak aku, ya?”
“Gara-gara cowok yang di bar itu?”
Asila menutup telinga.
“Dia siapa sih?” lanjut Rasya.
“Om-om mana lagi yang kamu godain?”
Asila tersentak.
“Jangan ngomong kayak gitu! Aku bukan perempuan murahan!!!”
“Kenapa?” Rasya tertawa.
“Kan emang itu kerjaan kamu sekarang.”
Asila menjerit.
“Kamu jahat, Rasya!!!”
Dion mendengar napas Asila yang tersengal.
“Asila,” katanya rendah tapi tegas.
“Jangan balas apa pun perkataannya. Fokus ke suara aku.”
“Dia bilang kalau aku—”
Asila tersedu.
“Kamu jangan terpengaruh kata-katanya,” potong Dion.
“Dia lagi mancing kamu keluar. Dan dia bakal bayar mahal atas perkataan brengseknya.”
BRAK!! BRAKK!!!
Pintu kembali digedor.
“Asila!”
“Buka sekarang!”
Tiba-tiba terdengar suara langkah kaki di lorong.
“Mas, ada apa ini?”
“Tolong jangan bikin ribut di sini! Atau saya laporkan satpam!”
Rasya mendecak.
“Jangan ikut campur!”
“Asila!” teriaknya lagi.
“Kamu mau bikin aku malu, hah!”
Asila menutup mata rapat-rapat.
Di HP, suara Dion terdengar lebih keras. Terdengar suara mesin mobil dimatikan.
“Aku sudah sampai di kosan kamu.”
Asila membeku. Suaranya melembut. Hatinya sedikit lega.
Beberapa detik kemudian—
“Mas, jangan bikin ribut di sini!”
“Ini kos cewek! Cowok b******k kayak kamu dilarang masuk!!”
Suara itu familiar.
Suara Dion.
Jantung Asila berdegup kencang.
“Dion…”
“Di mana orang yang jual cewek baik-baik ke bar?” suara Dion terdengar dingin, tanpa emosi.
Asila berdiri. Kakinya gemetar.
Dia mengintip dari celah pintu.
Di lorong sempit kos itu, Dion berdiri tegap. Bahunya lebar. Wajahnya dingin seperti baja. Tatapannya tajam, siap menantang siapa pun di depannya.
Rasya berdiri beberapa langkah di hadapannya.
“Apa urusan kamu ke sini, hah?” tanya Rasya sinis.
Dion menatapnya dari ujung kepala sampai kaki.
“Kamu Rasya?” tanyanya pelan.
“Iya. Kamu ada urusan sama aku?”
Nada suara Rasya menantang.
Dion melangkah maju.
“Kamu jangan berani cuma sama cewek, bos! Itu cewekku yang kamu ganggu, dan aku nggak terima!”
Rasya tertawa keras.
“Cewek kamu? Oh… kamu yang nyelametin Asila di bar kemarin, ya?”
“Baru kenal semalam, udah ngaku-ngaku pacar. Cih!”
Rasya meludah di depan Dion.
Dion tersenyum tipis.
“Tapi aku tahu kamu laki-laki b******k jenis apa.”
“Jangan ganggu Asila! Pergi kamu ke neraka sana!”
“Kalau aku nggak mau?” Rasya maju menantang.
Nada suara Dion turun. Tatapannya tajam.
“Kamu nggak punya hak buat nolak kata-kataku.”
“Berani kamu, ya?” tantang Rasya.
“Iya. Aku nggak takut sama siapa pun, termasuk cowok mucikari b******k kayak kamu,” jawab Dion pelan.
“Dan aku nggak suka ditantang.”
Lorong mulai ribut.
Tiba-tiba satpam datang bersama dua temannya.
“Mas, silakan pergi dari sini. Anda mengganggu kenyamanan penghuni kos,” kata satpam ke Rasya.
Rasya menatap pintu kamar Asila lama. Tatapannya penuh ancaman.
“Ingat,” katanya pelan. “Ini belum selesai.”
Dion menatap balik, dingin dan menekan.
“Buat kamu,” katanya tenang, “ini sudah berakhir.”
Rasya pergi dengan wajah gelap.
Lorong kembali sepi.
Asila membuka pintu perlahan. Kakinya lemas.
Dion menoleh ke arahnya.
“Kamu sudah aman sekarang.”
Asila menunduk.
“Maaf… aku udah nyeret kamu ke masalah ini.”
Dion melangkah mendekat.
“Aku masuk sendiri karena aku mau,” katanya.
“Dan juga karena kamu nggak bisa lindungin diri kamu sendiri.”
Kalimat itu jahat. Tapi fakta.
“Kenapa kamu masih nolongin aku?” tanya Asila lirih.
Dion menatapnya lama. Tatapannya gelap.
“Karena kalau aku nggak turun tangan,” katanya pelan,
“dunia kayak gini bakal ngancurin orang lemah kayak kamu.”
Hening.
Asila mengangkat kepala, menatap mata Dion.
“Kalau aku ikut kamu sekarang,” tanyanya gemetar,
“berapa harga yang harus aku bayar?”
Dion mendekat.
“Kejujuran kamu.”
Asila mengangguk.
“Dan satu hal lagi,” lanjut Dion rendah.
“Kamu harus siap…”
Dia berhenti tepat di depan Asila.
“…kalau nanti aku berhenti nawar.”
Asila membeku.
“Apa maksud kamu?”
Dion menatapnya dalam-dalam. Nadanya datar. Posesif.
“Aku bukan tipe orang yang nunggu lama, Asila,”Dion mendekat.
“Dan aku nggak suka ditolak dua kali.”