Badai Di Keluarga Wijaya

1519 Kata

Pagi itu terasa lebih dingin dari biasanya.Bukan karena cuaca.Tapi karena jarak yang tercipta di antara dua orang yang duduk berdampingan.Asila duduk di kursi makan dengan punggung tegak. Tangannya memegang sendok, tapi nasi di piringnya hampir tak tersentuh. Dion duduk di sebelahnya, diam, fokus pada ponsel yang bahkan tidak benar-benar dia baca.Tidak ada obrolan.Tidak ada tatapan. Padahal biasanya,sekecil apa pun,mereka selalu saling menyenggol, saling menatap, atau saling berdebat kecil.Mama Meli melirik dari ujung meja.Alisnya terangkat sedikit. “Kalian berdua kenapa?” celetuknya, nada datar tapi menusuk.“Bertengkar?” Asila dan Dion refleks menoleh.“Ng—”“Nggak.” Jawaban itu keluar bersamaan.Mama Meli menyipitkan mata.Oma Andini yang duduk di seberang hanya mendecak pelan sambil men

Bacaan gratis untuk pengguna baru
Pindai untuk mengunduh app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Penulis
  • chap_listDaftar Isi
  • likeTAMBAHKAN