Renata menatap dua anaknya yang masih tertidur lelap. Ya Tuhan, dia berpikir apa dia kemarin sampai berniat menjadi asisten Arkan di Rumah Sakit, jelas-jelas dua buah hatinya lebih membutuhkan dirinya di rumah. Renata turun ke bawah menuju dapur, dia bangun lebih pagi dari biasanya. Renata duduk melamun di dapur cukup lama. Akhirnya dia memutuskan untuk menjadikan membawakan makan siang untuk Arkan menjadi sebuah rutinitas, dia tak mungkin berada seharian di sana. Satu dua jam mungkin cukup untuk membuat bibit-bibit pelakor itu melihat kehadirannya. "Kenapa jam segini udah bangun hm?" Renata terkejut saat tiba-tiba Arkan memeluknya dari belakang kala ia tengah memotong beberapa bahan makanan. "Bikin sarapan." "Perlu aku bantu?" tanya Arkan sambil mencium leher bagian belakang Renata

