"Bangun Mas." Renata menggoyangkan sedikit keras punggung Arkan. Tidak biasanya suaminya itu susah di bangunkan. "Aku berangkat siangan Re." "Sakit?" "Enggak, lagi pengin berangkat siang aja." Arkan tidak berbohong, dia sehat dan ingin berangkat bekerja agak siang sedikit. Dia rindu bermain bersama puterinya, padahal belum ada dua minggu ia kembali sibuk menjalani profesi sebagai dokter. Keluarga yang ia punya saat ini membuat ia betah berada di rumah, apalagi Renata tidak lagi bekerja di rumh sakit, sehingga dia tak pernah bisa bertemu dengannya selain di rumah. Tidak seperti dulu, waktu yang dulu ada saat ia bekerja di rumah sakit yang sama dengan Renata, tak berarti apa-apa, tapi kini ia merasa begitu menyesal telah melewatkan waktu berharga itu. Setelah Renata keluar dari kamar

