Setelah mencuci muka dan mengikat rambutnya Renata turun ke bawah menuju dapur membuat sarapan pagi untuk puteranya. Hari ini dia juga sudah berjanji akan mengantar sendiri Rey ke Sekolah. Saat sarapan pagi berupa roti panggang dengan selai cokelat kesukaan puteranya sudah siap, Renata kembali ke kamar untuk membangunkan Rey. Renata terdiam di ambang pintu kamar, saat melihat pemandangan di depannya. Anaknya tengah tertawa karena tidurnya di ganggu oleh sang Ayah dengan cara menggelitikinya. "Ibuuu..., tolong Rey." Renata masih terdiam mencerna apa yang sebenarnya terjadi. Apa Arkan tidak melupakan Rey? Tapi kenapa dia tidak pernah menanyakannya atau menyuruh Rey menemuinya di Rumah Sakit. "Ibuuuuuu..., tolooong." Rey turun dari ranjang dan berlari ke arahnya. Renata sedikit mering

