Pagi itu, vila masih diselimuti udara lembap khas Bali setelah hujan semalaman. Tirai putih di kamar bergoyang lembut diterpa angin laut. Vania berdiri di depan cermin besar, rambut hitamnya yang panjang dibiarkan tergerai rapi. Tubuhnya dibalut gaun siang sederhana berwarna krem muda, tetap anggun meski tak berlebihan. Ia sedang merapikan anting mutiara yang baru saja disematkan, wajahnya tenang, tapi matanya menyimpan sesuatu yang tidak bisa didefinisikan dengan jelas. Di belakangnya, koper besar sudah tertutup rapat, siap dibawa. Beberapa asistennya hilir-mudik di ruang tamu vila, membereskan keperluan tuannya. Tapi di kamar itu, hanya ada ia dan Adrian. Adrian berdiri bersandar di kusen pintu, kemeja putihnya masih segar, lengan digulung hingga siku. Ia memandang istrinya dalam diam.

