Adrian tidak langsung memberitahu tujuannya. Setelah Nayla berganti pakaian lebih ringan—blus putih longgar dan celana linen—mereka keluar dari vila. Sopir sudah menunggu dengan mobil, namun Adrian memilih untuk menyetir sendiri. “Kenapa tidak pakai sopir saja?” tanya Nayla saat sudah duduk di kursi penumpang. “Aku butuh kendali penuh,” jawab Adrian singkat, matanya lurus ke jalan. Nayla tidak membalas. Ia hanya menunduk, jemari tangannya meremas ujung tas kecil yang ia pangku. Di satu sisi, ia lega Adrian masih bisa setenang itu setelah malam dan pagi yang penuh ketegangan. Di sisi lain, ia terus merasa tidak nyaman memikirkan Vania. Mobil melaju menyusuri jalan berliku. Sawah hijau dan deretan pohon kelapa bergantian memenuhi pandangan. Udara pagi yang segar masuk lewat jendela yang

