Setelah menikmati pemandangan sawah terasering, Adrian melirik ke arah Nayla. “Kalau kau mau, kita bisa mampir ke kios itu. Ada yang menarik di sana,” katanya sambil menunjuk ke deretan kios kecil yang menjual kerajinan lokal. Nayla mengangguk. “Baik. Aku penasaran ada apa.” Mereka berjalan menyusuri jalan setapak, sesekali berhenti karena ada penduduk yang melintas dengan hasil panen atau keranjang penuh sayur. Suasana tenang membuat Nayla merasa sedikit lega, jauh dari hiruk-pikuk turis. Sesampainya di kios, Nayla langsung terpikat pada patung kecil kayu dan beberapa gelang berwarna-warni. Ia mengangkat satu gelang perak dan menatap Adrian. “Kau pikir ini bagus?” tanyanya. Adrian mencondongkan kepala, tersenyum tipis. “Bagus. Simpel tapi elegan. Cocok untukmu.” Nayla tersipu. “Teri

