Begitu pintu kamar dibuka, aroma kopi menyeruak. Adrian rupanya sudah lebih dulu di ruang tengah, duduk santai di sofa dengan cangkir di tangannya. Di meja ada piring kecil berisi pisang goreng hangat, entah ia pesan dari staf villa atau sengaja minta dibuatkan. Nayla melangkah pelan mendekat. “Kamu bikin kopi?” tanyanya, pura-pura biasa padahal hatinya masih campur aduk setelah kejadian barusan. Adrian menoleh sekilas, bibirnya terangkat tipis. “Nggak. Staf villa yang bikinin. Mau coba?” Nayla mengangguk, lalu duduk di sofa sebelahnya. Adrian langsung menyodorkan cangkir satunya. Nayla meraihnya, dan tanpa sadar jari mereka bersentuhan sebentar. Sekilas saja, tapi cukup membuat Nayla buru-buru menarik tangannya. “Pisgor juga, masih hangat,” ucap Adrian sambil mendorong piring itu ke a

