Mereka berdua berjalan pelan meninggalkan area ayunan, Nayla masih sibuk mengelus dadanya sendiri sambil komplain. Adrian di sebelahnya tampak tenang, bahkan sedikit tersenyum melihat wajah panik Nayla yang belum juga reda. “Kaki aku masih gemeter, Mas. Rasanya kayak nggak punya tulang,” keluh Nayla sambil duduk di kursi kayu kafe kecil yang berada di pinggir tebing. Dari situ, pemandangan sawah berundak masih terlihat jelas, hijau dan luas. Adrian menarik kursi di depannya lalu duduk santai, menyandarkan punggung. “Habis teriak kayak mau diculik, ya wajar kalau gemeter.” Nayla menatap tajam. “Mas, aku beneran bisa mati tadi tau!” “Kalau mati beneran, nggak mungkin kamu bisa marah sekarang.” Adrian menahan tawa, lalu memanggil pelayan. “Dua kelapa muda, ya.” Pelayan mengangguk dan per

