Begitu Nayla benar-benar bisa berdiri tegak tanpa gemetar lagi, Adrian menuntunnya keluar dari area wahana. Di dekat sana ada sebuah bale kayu sederhana, dengan tikar anyaman dan bantal-bantal duduk. Beberapa turis lain juga sedang beristirahat, sebagian minum air kelapa segar. Adrian menarik tangan Nayla agar duduk di pojok bale yang agak sepi. “Duduk sini. Tarik napas dulu.” Nayla langsung menjatuhkan diri ke bantal empuk, menghela napas panjang. “Ya Tuhan… aku beneran kira tadi jantungku copot di tengah jalan.” Adrian duduk di sebelahnya, tenang sekali, seperti tidak terjadi apa-apa. “Makanya, aku tadi sudah bilang. Kamu itu terlalu buru-buru mau coba sesuatu tanpa mikir.” “Kalau nggak nyoba, aku nggak tau rasanya,” balas Nayla sambil melipat tangan di d**a, tapi wajahnya jelas masi

