Mereka keluar dari kafe kecil itu dengan perut kenyang. Jalan setapak yang membelah persawahan Ubud terlihat memikat. Petak-petak sawah bertingkat berundak, dengan padi hijau menguning bergoyang terkena angin. Beberapa turis lain tampak sibuk berfoto, tapi suasana tetap tenang. Adrian berjalan lebih dulu, tangannya masuk ke saku celana, sementara Nayla mengikuti dari belakang. “Mas, jangan jalan cepet-cepet. Aku masih kenyang, jadi agak berat nih,” protes Nayla sambil menepuk perutnya. Adrian meliriknya sekilas. “Kalau makan tadi ditahan, nggak akan berat.” Nayla langsung manyun. “Enak aja. Aku kan lapar.” “Lapar, tapi porsinya kayak orang balapan sama kuli sawah,” sindir Adrian dengan nada datar. “Mas! Jahat,” Nayla menepuk lengan Adrian dari belakang. Adrian hanya menggeleng pelan,

