“T-Tante Vania…,” ucap Nayla pelan, hampir berbisik. Vania menoleh, bibirnya melengkung dengan senyum tipis. “Akhirnya kalian pulang juga. Tante sudah menunggu cukup lama.” Adrian langsung mengernyit, menutup pintu dengan sedikit hentakan. “Vania… kenapa kamu di sini?” Vania melangkah anggun ke depan, tatapannya bergantian ke Adrian lalu ke Nayla. “Kenapa? Seorang istri sah datang menemui suaminya sendiri, apa itu salah?” Nayla menunduk, merasa darahnya mendidih sekaligus dingin. Ada dorongan untuk mundur, tapi juga kewajiban untuk tetap berdiri di tempat. Adrian menarik napas panjang. “Seharusnya kamu memberi kabar dulu. Ini bulan madu, Vania.” Senyum Vania tidak goyah sedikit pun. Ia justru menoleh langsung ke arah Nayla. “Kau terlihat lelah, Nayla. Apa artinya… kau sudah melakukan

