Matahari pagi menyelinap masuk lewat tirai tipis ruang tengah. Aroma kopi baru diseduh bercampur dengan wangi roti panggang. Suara sendok beradu pelan dengan cangkir terdengar dari meja makan. Vania sudah duduk rapi di sana. Pakaian yang ia kenakan bukan sekadar piyama rumah, melainkan setelan santai bermerek dengan bahan jatuh yang elegan. Rambutnya disanggul sederhana tapi tetap anggun, wajahnya segar dengan sedikit polesan tipis. Dari caranya memegang cangkir, terlihat jelas wibawa seorang nyonya rumah yang terbiasa memimpin. Beberapa asisten villa terlihat sibuk menyiapkan sarapan. Vania tidak memandang mereka, hanya sesekali memberi instruksi dengan nada datar tapi penuh kuasa. Tak lama, Adrian keluar dari kamarnya. Ia masih mengenakan kaos abu-abu polos dan celana santai, rambut s

