Bab 34

990 Kata

Vania meletakkan cangkir cappuccinonya dengan bunyi klik yang terdengar jelas di meja kayu. Senyum tipis masih terpampang, tapi matanya tajam. “Ayo, Adrian. Temani aku sebentar. Kita foto berdua di taman luar. Sayang sekali kalau suasana begini tidak kita abadikan.” Ia langsung berdiri anggun, meraih tas kecilnya. Seolah-olah ajakan itu tak memberi ruang penolakan. Nayla menahan napas. Tangannya mengepal di pangkuan. Ada rasa sesak, tapi ia mencoba menahan ekspresi agar tetap datar. Adrian belum bergerak. Ia menyandarkan tubuh ke kursi, menatap Vania lekat-lekat. “Van, duduk dulu.” Nada suaranya tenang, tapi tegas. Tidak ada ruang untuk bantahan. Vania menoleh, alisnya terangkat. “Kenapa? Kau malu difoto denganku?” Adrian menaruh sendok di piring kecilnya dengan rapi, lalu berdiri pe

Bacaan gratis untuk pengguna baru
Pindai untuk mengunduh app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Penulis
  • chap_listDaftar Isi
  • likeTAMBAHKAN