Matahari sore baru saja condong ke barat ketika mobil Adrian berhenti di halaman villa. Udara Bali yang lembab dan hangat langsung menyambut, membawa aroma laut yang samar terbawa angin. Villa itu megah, dengan pekarangan luas dan arsitektur tropis yang dipenuhi cahaya emas senja. Vania turun lebih dulu. Tubuhnya tegap, langkahnya anggun, gaun kasualnya tetap memancarkan aura nyonya rumah yang berkelas. Koper besar yang ia bawa sejak pagi sudah diangkat masuk oleh salah satu asisten villa. Perempuan itu menyibakkan rambutnya dengan jari, tersenyum tipis pada Adrian—senyum yang menyimpan arti ganda. “Akhirnya sampai juga,” gumam Vania, nadanya ringan tapi tajam. Adrian hanya mengangguk sekilas, suaranya netral. “Kamu bisa istirahat di kamar utama, sudah kusiapkan.” Nayla, yang berjalan

