Sebulan terasa cepat. Bali yang awalnya hanya sekadar tempat singgah kini sudah jadi saksi berbagai hal—dari canggung, perdebatan, sampai kedekatan yang tak pernah Nayla bayangkan sebelumnya. Tapi akhirnya, koper-koper sudah rapi di ruang tamu vila, siap diangkat ke mobil yang akan membawa mereka ke bandara sore nanti. Pagi itu, Nayla baru saja turun dari kamar dengan wajah sedikit pucat. Adrian yang sedang membaca berkas di ruang tamu langsung menoleh. Alisnya mengernyit tipis. “Kau kenapa?” tanyanya tanpa basa-basi. Nayla buru-buru tersenyum kecil, meski jelas wajahnya tidak segar. “Nggak apa-apa, Mas. Cuma agak pusing. Mungkin kecapekan beberes koper semalam.” Adrian menutup map di tangannya, berdiri, lalu mendekat. Tatapannya menelusuri wajah Nayla, dari pucatnya pipi sampai bibir

