Bab 1 Orang yang Selalu Menunggu
Aroma mentega yang baru dipanggang memenuhi udara pagi di dalam Lentera Bakery. Wangi manis vanila bercampur dengan aroma kopi yang baru diseduh menciptakan suasana hangat yang selalu menjadi ciri khas toko roti kecil milik Rarasti. Jam dinding berbentuk bunga matahari yang tergantung di salah satu sudut ruangan menunjukkan pukul enam lewat tiga puluh menit pagi.
Rarasti Lintang Gandari berdiri di balik meja dapur dengan celemek krem yang menutupi dress berwarna biru muda yang ia kenakan saat ini. Rambut hitam panjangnya disanggul sederhana agar tidak mengganggu dirinya saat bekerja. Dengan gerakan terampil, ia mengoleskan lapisan egg wash pada permukaan croissant sebelum memasukkannya ke dalam oven.
"Kak Rara, cinnamon roll-nya sudah selesai dipacking!" seru salah satu pegawainya.
"Terima kasih, Dina. Tolong susun di etalase sebelah kiri, ya," balas Rarasti dengan senyum kecil.
"Siap!"
Lentera Bakery baru buka setengah jam, tetapi suasananya sudah cukup ramai. Beberapa pegawai tampak sibuk menata roti-roti yang baru keluar dari oven. Di atas salah satu dinding berwarna pink pastel yang menjadi ciri khas toko roti itu, sebuah televisi berukuran besar menyala menampilkan siaran berita pagi.
"...dan atas keberhasilannya memimpin operasi pembebasan sandera yang berlangsung selama tiga puluh enam jam tanpa korban jiwa, Komandan Satuan Elite Garuda Hitam, Letnan Kolonel Kamandaka Yudha Jasmara, hari ini menerima penghargaan khusus dari negara..."
Gerakan tangan Rarasti terhenti sejenak. Matanya perlahan terangkat menatap layar televisi. Di sana, pria dengan seragam dinas lengkap itu berdiri tegap di atas podium. Tubuh tinggi dengan bahu lebar dibalut seragam hijau kebanggaan. Wajah tampan dengan rahang tegas itu tetap terlihat datar seperti biasanya.
Itu suaminya. Kamandaka Yudha Jasmara.
Sudah hampir tiga minggu sejak terakhir kali mereka bertemu. Tiga minggu sejak pria itu pulang ke rumah hanya untuk mengganti pakaian sebelum kembali bertugas. Bahkan pesan singkat yang Rarasti kirimkan semalam pun belum dibaca.
"...keberhasilan ini tentu tidak lepas dari kerja keras seluruh anggota tim Garuda Hitam." Kamandaka berbicara dengan suara tenang dan tegas. "Saya mengucapkan terima kasih kepada seluruh jajaran pimpinan, rekan satu tim, serta semua pihak yang telah mendukung operasi ini."
Tepuk tangan memenuhi ruangan dalam siaran tersebut.
Rarasti tetap diam. Tangannya memilih kembali melanjutkan pekerjaannya seolah tidak terjadi apa-apa. Padahal, entah mengapa, ada sedikit harapan bodoh yang muncul dalam hatinya. Mungkin...
Hanya mungkin hari ini namanya akan disebut. Sebagai istri. Sebagai seseorang yang menunggu kepulangannya. Sebagai orang yang selalu memastikan lampu rumah tetap menyala setiap malam.
Namun hingga pidato itu selesai, tak seperti keinginannya. Tidak ada namanya dan seharusnya ia sadar jika itu semua tidak akan pernah ada. Dan tidak akan pernah terjadi.
"Ya ampun..." Dina tiba-tiba berseru sambil menatap televisi. "Komandan Kamandaka emang keren banget, ya."
"Iya, ganteng banget tau nggak sih," sahut pegawai lain, Nisa. "Kalau lihat di berita kayak gini, rasanya kayak tokoh utama di cerita drakor atau dracin banget."
Rarasti menunduk, berpura-pura fokus menghias pastry.
"Katanya beliau masih lajang, ya?" tanya Dina penasaran.
"Setahuku gitu," jawab Nisa cepat. "Belum pernah ada berita soal pacar apalagi istrinya."
Rarasti terdiam.
Lalu terdengar suara pegawai lainnya. "Eh, bukannya beliau sering muncul sama Dokter Kirana?"
"OH IYA!" seru Dina antusias. "Dokter Kirana Arunika, kan? Dokter militer itu!"
"Yang cantik banget itu?" Nisa ikut menyahut.
"Iya! Mereka sering banget kelihatan bareng waktu acara resmi. Cocok banget, sih."
"Dokter Kirana juga hebat. Pintar, berasal dari keluarga terpandang, sama-sama bekerja untuk negara."
"Kalau mereka menikah, pasti jadi couple goals."
Rarasti menggenggam spatula di tangannya sedikit lebih erat. Namun senyumnya tetap terpasang. Meskipun hatinya perlahan terasa sesak.
Dokter Kirana Arunika. Nama itu tidak asing baginya. Wanita yang menjadi sahabat sekaligus rekan kerja Kamandaka selama bertahun-tahun. Wanita yang selalu berada di sisi suaminya dalam berbagai acara resmi. Wanita yang sering dianggap lebih pantas mendampingi Kamandaka dibanding dirinya.
Sedangkan dirinya?
Hanya seorang pemilik toko roti kecil. Bahkan sebagian besar rekan kerjanya tidak tahu bahwa pria yang sedang dipuji-puji itu adalah suaminya. Karena Kamandaka memang tidak pernah membicarakan pernikahan mereka kepada publik.
"Kak Rara?" Suara Dina membuat Rarasti tersadar.
"Iya?"
"Kakak nggak apa-apa? Dari tadi diam aja."
Rarasti tersenyum lembut. "Nggak apa-apa."
"Kalau aku punya suami seperti Komandan Kamandaka, pasti bakal bangga banget," ucap Dina sambil terkikik.
"Iya," sahut Nisa. "Tapi pasti susah juga jadi istrinya. Soalnya bakalan jarang pulang."
"Tapi setidaknya kalau aku jadi istrinya, aku pasti selalu ada di samping beliau. Seperti Dokter Kirana."
Ucapan itu membuat tangan Rarasti terhenti, lagi. Selalu ada di sampingnya. Tanpa sadar, ia menatap cincin pernikahan sederhana yang melingkar di jari manis kirinya.
Sudah satu tahun. Tiga ratus enam puluh lima hari. Dan dalam waktu selama itu. Berapa banyak momen yang mereka lalui bersama? Berapa kali mereka makan malam bersama? Berapa kali Kamandaka pulang tepat waktu Berapa kali pria itu benar-benar melihatnya sebagai seorang istri?
Rarasti mengembuskan napas pelan. Lalu kembali tersenyum. Senyum yang sudah terlalu sering ia gunakan untuk menutupi segala perasaannya. Karena memang, pertanyaan itu kembali menyapa tentang, siapa dirinya?
Hanya wanita biasa yang kebetulan menikah dengan pria luar biasa. Pria yang selalu menjadi kebanggaan banyak orang. Namun tidak pernah benar-benar menjadi miliknya.
Telepon genggam yang berada di saku celemeknya tiba-tiba bergetar. Jantung Rarasti berdebar. Mungkin Kamandaka, suaminya yang menghubunginya.
Dengan cepat ia mengeluarkan ponselnya. Namun saat melihat nama yang tertera di layar, senyum kecil di wajahnya perlahan memudar. Nama itu, Ibu Mertua.
Ia menatap layar itu beberapa detik sebelum akhirnya mengangkat panggilan tersebut. "Halo, Bu."
"Rarasti." Suara dingin wanita di seberang sana terdengar jelas.
"Kau sudah melihat berita tentang Kamandaka?"
"Sudah, Bu."
"Bagus. Setidaknya jangan sampai kau mempermalukan keluarga kami. Hari ini ada acara makan malam keluarga untuk merayakan penghargaan Kamandaka."
Rarasti menggigit bibir bawahnya. "Baik, Bu."
"Dan satu lagi." Wanita itu berhenti sejenak. "Jangan datang memakai pakaian yang terlalu sederhana. Orang-orang akan salah paham dan mengira keluarga kami tidak mampu membelikan menantu kami pakaian yang layak."
Panggilan terputus begitu saja. Tanpa menunggu jawaban darinya. Rarasti menatap layar ponselnya dalam diam. Tak lama kemudian, sebuah notifikasi masuk.
Dari Kamandaka. Hanya satu kalimat singkat.
Ada acara keluarga malam ini. Datang tepat waktu.
Tidak ada ucapan selamat pagi. Tidak ada pertanyaan apakah ia sudah sarapan. Atau setidaknya ucapan terima kasih karena selalu menunggu. Tidak ada apa pun. Seperti biasa.
Rarasti memandangi pesan itu beberapa detik sebelum mengunci kembali layar ponselnya.
"Kak Rara?" panggil Dina.
Rarasti mengangkat kepalanya. "Ya?"
"Kakak yakin nggak apa-apa?"
Wanita itu tersenyum kecil. Senyum yang terasa semakin sulit untuk ia pertahankan. "Aku baik-baik saja."
Lalu ia kembali menata roti-roti hangat ke dalam etalase. Karena bagaimanapun juga, toko roti ini harus tetap buka. Pelanggan harus tetap dilayani. Dan hidup harus tetap berjalan.
Meski diam-diam, ada sesuatu di dalam hatinya yang mulai lelah karena terus menunggu seseorang yang tak pernah benar-benar hadir.
Tanpa Rarasti sadari, keputusan terbesar dalam hidupnya akan segera ia ambil. Keputusan yang nantinya akan mengubah seluruh kehidupan pernikahannya. Meminta cerai dari Kamandaka Yudha Jasmara. Itu yang lebih baik.