bc

TERPAKSA MENJADI TUNANGAN PALSU DOKTER SAGARA

book_age18+
6
IKUTI
1K
BACA
revenge
dark
love-triangle
HE
fated
friends to lovers
doctor
heir/heiress
blue collar
drama
sweet
bxg
lighthearted
serious
office/work place
cheating
lies
naive
substitute
like
intro-logo
Uraian

Desi hanya ingin satu hal: menyelamatkan nyawa adiknya.

Ketika biaya pengobatan leukemia yang terlalu besar membuatnya putus asa, sebuah tawaran datang dari tempat yang tidak pernah ia bayangkan. Ia hanya perlu melakukan satu hal—berpura-pura menjadi tunangan seorang pria yang baru saja kehilangan ingatannya.

Sebagai aktris figuran yang terbiasa memainkan peran kecil, itu seharusnya mudah.

Pria itu adalah Sagara. Dokter bedah jenius yang dikenal dingin, tajam, dan sulit didekati.

Bagi Desi, semuanya hanyalah sandiwara sementara. Ia hanya perlu bertahan sampai semuanya selesai, lalu pergi tanpa meninggalkan jejak.

Namun, rencananya mulai runtuh sejak hari pertama.

Sagara terlalu pintar untuk dibohongi. Tatapannya seolah mampu membaca setiap rahasia yang Desi sembunyikan. Dan semakin lama mereka bersama, semakin sulit bagi Desi mengingat bahwa hubungan mereka tidak pernah nyata.

Yang tidak Desi ketahui, sebelum kecelakaan itu terjadi, Sagara sedang menyelidiki rahasia besar di keluarganya sendiri. Rahasia yang mungkin menjadi alasan di balik kecelakaan itu.

Saat kebenaran perlahan terungkap, Desi menyadari satu hal paling berbahaya yaitu ia jatuh cinta pada tunangan palsunya sendiri.

Tetapi ketika ingatan Sagara kembali, akankah pria itu tetap memercayainya… atau justru menghancurkan hidupnya?

chap-preview
Pratinjau gratis
Bab 1 Pengkhianatan
Lampu ruang operasi masih menyala terang meski jam di dinding sudah melewati pukul sembilan malam. Udara dingin bercampur aroma antiseptik memenuhi ruangan. Suara monitor jantung berdetak stabil di antara langkah cepat para perawat dan denting alat bedah yang saling bersentuhan. Di tengah semua itu, Dr. Sagara Aditya Pratama berdiri dengan tatapan fokus di balik masker medisnya. “Scalpel.” Nada suaranya tenang. Datar. Hampir tanpa emosi. Perawat di sampingnya segera menyerahkan alat bedah ke tangannya. Jemari panjang Sagara bergerak presisi tanpa sedikit pun keraguan, seolah tubuhnya sudah hafal apa yang harus dilakukan bahkan tanpa diperintah otaknya. Semua orang di ruang operasi memahami satu hal tentang Sagara. Ia tidak suka kesalahan sekecil apa pun. Seorang dokter residen yang berdiri di sisi kanan bahkan terlihat menahan napas saat membantu menjahit luka pasien. Tatapan Sagara cukup untuk membuat siapa pun gugup. Bukan karena ia galak melainkan karena standar pria itu terlalu tinggi. “Clamp.” “Retractor.” “Sedikit ke kiri.” Instruksinya singkat dan jelas. Tidak ada kata yang terbuang sia-sia. Waktu terus berjalan hingga akhirnya suara panjang monitor terdengar stabil kembali. Operasi selesai. “Tekanan pasien normal, Dok,” ujar salah satu perawat dengan napas lega. Sagara mengangguk kecil. “Observasi di ICU selama dua puluh empat jam.” “Baik, Dok.” Ia melepaskan sarung tangan lateksnya perlahan, lalu membuangnya ke tempat sampah medis. Bahunya terasa pegal setelah berdiri hampir lima jam tanpa jeda, tetapi wajahnya tetap tenang seolah rasa lelah bukan sesuatu yang penting. “Operasinya bersih banget, Dok,” puji dokter residen dengan kagum. Sagara hanya menatap sekilas sebelum berjalan menuju wastafel. “Jangan memuji sebelum pasien benar-benar pulih.” Kalimat itu langsung membuat ruangan kembali sunyi. Dokter residen tadi tersenyum canggung. Sagara memang seperti itu. Dingin, sulit ditebak dan terlalu serius untuk ukuran pria seusianya. Namun di balik sikapnya yang kaku, semua orang mengakui satu hal, kemampuannya luar biasa. Di usia tiga puluh dua tahun, namanya sudah dikenal sebagai salah satu dokter bedah terbaik di rumah sakit itu. Banyak pasien rela mengantre berbulan-bulan hanya untuk ditangani olehnya. Setelah mencuci tangan, Sagara keluar dari ruang operasi sambil melepas masker medisnya. Lorong rumah sakit terasa jauh lebih tenang dibandingkan ruang operasi yang penuh tekanan. Lampu putih memantul di lantai mengilap, sementara beberapa perawat masih berlalu-lalang membawa berkas pasien. Ponselnya bergetar di saku jas dokter. Sagara mengeluarkannya perlahan. Nama yang muncul di layar membuat ekspresinya sedikit berubah. Ami. Ia menatap nama itu beberapa detik sebelum menerima panggilan. “Ya?” “Kamu masih di rumah sakit?” Suara wanita itu terdengar lembut seperti biasa. “Baru selesai operasi.” “Hm…” Ada jeda singkat. “Aku sudah menunggu hampir dua jam.” Sagara berhenti berjalan. Nada suara Ami tidak terdengar marah. Justru itu yang membuatnya sedikit merasa bersalah. “Aku sudah bilang kemungkinan pulang terlambat.” “Aku tahu,” jawab Ami pelan. “Aku cuma pikir… mungkin kali ini kamu bisa datang lebih cepat.” Sagara memijat pelipisnya sebentar. Beberapa minggu terakhir memang terlalu sibuk. Jadwal operasinya penuh, ditambah penelitian yang sedang ia siapkan untuk program master membuat waktu tidurnya semakin berantakan. Namun di sela semua kesibukan itu, ada satu hal yang mulai ia sadari. Ia terlalu sering mengabaikan Ami. “Aku akan ke sana sekarang,” ucapnya akhirnya. “Serius?” “Ya.” Di ujung telepon, Ami tertawa kecil. Suaranya terdengar lega. “Baiklah. Aku tunggu.” Panggilan itu berakhir. Sagara menatap layar ponselnya sesaat sebelum memasukkannya kembali ke saku. Tunangannya itu memang selalu seperti itu. Tidak pernah menuntut berlebihan dan hampir tidak pernah membuat keributan. Namun entah kenapa, justru sikap lembut Ami sering membuatnya merasa bersalah lebih dari apa pun. Tiga bulan lagi mereka akan menikah. Gedung resepsi sudah dipesan. Kedua keluarga sudah bertemu. Semua berjalan rapi sesuai rencana. Sagara pikir hidupnya juga akan berjalan seperti itu. Teratur, pasti dan tanpa kejutan. Ia mengambil jas hitamnya dari ruang dokter lalu berjalan keluar rumah sakit. Udara malam langsung menyambut begitu pintu otomatis terbuka. Langit kota tampak gelap dengan cahaya lampu jalan yang memantul di kaca gedung-gedung tinggi. Sagara masuk ke dalam mobil dan menyalakan mesin. Sepanjang perjalanan, pikirannya masih dipenuhi laporan medis dan jadwal operasi besok pagi. Sesekali ia memikirkan Ami. Wanita itu beberapa kali mengeluh bahwa Sagara terlalu sibuk. Namun bagi Sagara, bekerja keras sekarang adalah bentuk tanggung jawab untuk masa depan mereka nanti. Bukankah semua orang dewasa memahami itu? Mobil hitamnya akhirnya berhenti di depan rumah Ami sekitar tiga puluh menit kemudian. Rumah dua lantai itu terlihat tenang. Lampu ruang tamu masih menyala, tetapi halaman depan tampak kosong. Sagara turun dari mobil sambil merapikan lengan kemejanya. Ia tidak mengetuk pintu. Ami pernah memberinya kunci cadangan. Pintu terbuka pelan saat ia masuk ke dalam rumah. “Ami?” Tidak ada jawaban. Rumah itu sunyi. Sagara melepas sepatunya lalu melangkah masuk lebih jauh. “Ami?” Tetap tidak ada sahutan. Namun beberapa detik kemudian, samar-samar terdengar suara dari lantai atas. Suara benda jatuh lalu terdengar suara napas berat. Sagara mengernyit pelan. Ia mulai menaiki tangga dengan langkah perlahan. Semakin dekat ke arah kamar Ami, suara itu semakin jelas. Ketika pandangannya jatuh pada pintu kamar yang sedikit terbuka, langkahnya terhenti. Tubuhnya membeku. "Babe, harder!" Ami yang cantik dan polos, sekarang berada di atas kasur dalam keadaan yang hampir tidak pernah dilihatnya, puas dan brutal. Rambutnya acak-acakan. Namun jelas senyumannya lebih lebar dari semua senyuman yang pernah diberikannya pada Sagara. "Akh.. terus, lebih dalam..." Ami meracau. Dia tidak sendirian. Ada pria yang berada di sana bersamanya. Pria yang sangat Sagara kenal. Seseorang yang bahkan memiliki darah yang sama dengannya. Gandi, kakaknya sendiri. Dunia seakan berhenti bergerak. Sagara tidak mendengar apa pun selama beberapa detik. Sampai akhirnya Ami menoleh ke arah pintu dan wajahnya langsung pucat. “Sagara—” Gandi ikut menoleh. Tatapan mereka bertemu. Untuk pertama kalinya dalam hidupnya, Sagara merasakan sesuatu yang jauh lebih tajam daripada pisau bedah mana pun yang pernah ia pegang. Pengkhianatan. Tangannya mengepal perlahan di sisi tubuhnya. Rahangnya mengeras. Namun tidak ada amarah yang meledak. Tidak ada teriakan. Justru itu yang membuat suasana terasa semakin mengerikan. Tatapan dingin Sagara perlahan berubah menjadi sesuatu yang jauh lebih berbahaya lalu akhirnya ia membuka suara pelan dn dingin. “…jelaskan!!!!”

editor-pick
Dreame-Pilihan editor

bc

Unscentable

read
1.8M
bc

He's an Alpha: She doesn't Care

read
695.3K
bc

Claimed by the Biker Giant

read
1.4M
bc

Holiday Hockey Tale: The Icebreaker's Impasse

read
935.6K
bc

A Warrior's Second Chance

read
334.4K
bc

Not just, the Beta

read
334.7K
bc

The Broken Wolf

read
1.1M

Pindai untuk mengunduh app

download_iosApp Store
google icon
Google Play
Facebook